Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 48


__ADS_3

Aku merasa ada sesuatu yang dingin menempel di pipiku. Saat ku buka mata ternyata tangan Astrid sudah memegang pipiku. Aku rasa ia mencoba membangunkanku dengan tangannya yang masih terbasuh air saat ia mandi.


 


"Ayo.." kata Astrid yang sudah duduk di sebelah kiriku,


"Kita mau kemana" aku bertanya saat aku sudah ikut duduk,


"Kamu mau mandi dulu nggak?" tanya Astrid, aku hanya menjawab dengan bahasa tubuh, menganggukan kepala sebagai jawaban "iya".


 


Kami berjalan menuju parkiran, aku terdiam sedari bangun tidur. Masih terasa berat mataku memandang, rasanya sangat sia-sia. Datang kesini dengan harapan untuk bergembira, menikmati suasana pemandangan yang indah, tapi aku malah tidur. Maaf ya, mungkin aku membuatmu kecewa.


 


Sekitar pukul sepuluh aku dan Astrid bergegas meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanan aku memilih untuk duduk di belakang, rasanya sangat berat untuk membuka mata. Astrid juga memahami itu, jadi dia memintaku duduk di belakang. Mungkin tidak biasa jika cowok itu duduknya di belakang cewek, tapi kalau nggak begini nggak akan sampai, meski sudah ku usahakan untuk melawan kantukku.


 


 


"Kamu pernah ke Kali biru?" tanya Astrid,


"Belum.." jawabku,


"Ayo kita ke sana!" kata Astrid,

__ADS_1


Aku hanya menurut apa yang dia mau, karena keinginannya adalah membuatku bahagia.


 


Kami langsung bergegas menuju kali biru. Aku merebahkan kepalaku di pundaknya, aku harap nanti sampai di tempat tujuan, mataku sudah tidak ngantuk lagi. Sepanjang jalan aku hanya terdiam, meski Astrid banyak bercerita.


 


"Aku ingin ke borobudur, menyaksikan pelepasan lampion." kata Astrid,


"Kapan ?" tanyaku,


"Juli besok.." jawabnya,


"Ya udah kita ke sana.." kataku,


"Nggak bisa, aku udah janji pergi sama Jafar. Kalaupun ia tidak bisa datang, aku nggak akan pergi ke acara itu. Karena aku nggak akan pergi ke suatu tempat yang aku sendiri udah berjanji pergi ke sana bersama orang itu." kata Astrid,


 


 


Setelah cukup jauh kami melewati waduk yang sangat luas, kami hanya berhenti sebentar untuk mengambil foto. Karena untuk menyingkat waktu kami harus segera bergegas menuju tempat tujuan. Melewati jalan yang menanjak, namun akhirnya kami sampai juga. Setelah kami meninggalkan motor di tempat parkir.


Menikamati suasana, pemandangan, dan melihat banyak orang saling berfoto. Aku rasanya tidak ingin melakukan apa-apa. Aku duduk diam di samping Astrid yang beberapa kali mengambil foto dengan kamera handphonenya. Aku memperhatikan raut wajah Astrid seperti menyimpan beban, atau sedang ada yang ia pikirkan? Ku lihat ia mencoba menyembunyikan kesedihan. Tapi aku rasanya sudah sulit untuk memfokuskan pikiranku, aku hanya memikirkan tempat yang mungkin bisa untukku kembali rebahan dan tidur sejenak.


"Kamu bosen?" Astrid tiba-tiba bertanya seperti itu, aku terkejut ia akan mengucapkan hal seperti itu,

__ADS_1


"Enggak kok, aku cuma ngantuk." mungkin dengan jawaban seperti itu sudah bisa membuatnya yakin, namun di lihat dari ekspresi wajahnya, ia tampak tak percaya.


 


Astrid mengajakku untuk mencari makanan. Ada toko kecil yang menjual beberapa minuman dingin dan makanan, ada juga telur asin dari telur bebek. Kami duduk lesehan dan membeli beberapa cemilan saja. Ia menyarankanku untuk minum teh yang bungkusnya kotak, bukan botolan, karena ibunya dulu pernah bekerja di pabrik teh dengan kemasan kotak. Aku menurut saja apa katanya.


 


"Kamu bosen sama aku?" tanya Astrid tiba-tiba,


"Enggak, aku ini ngantuk.. Jadi aku dari tadi cuma diam aja hehe.." jawabku,


 


Andai kamu tahu, bersamamu bukanlah hal yang membosankan, hanya saja aku tidak bisa menjelaskan, mulutku berat untuk di gerakkan. Denganmu adalah suatu kebahagiaan, aku merasa beruntung untuk bisa dekat sejauh ini. Mengetahui bocoran yang kamu bilang tadi, tentang apa yang di suka Ayahmu, itu membuatku merasa lebih maju. Meski secara materi aku belum siap jika di bandingkan pacarmu. Di sini dia yang lebih dekat untuk menggapaimu, tapi entah aku merasa yakin kalau kamu memberiku peluang lebih besar. Jika dia ada di peringkat satu untuk mendapatkanmu seutuhnya, aku akan mencoba di minus satu, untuk jauh lebih di depan demi mendapatkammu. Tapi semua itu ada di keputusanmu.


 


Cintaku mengalir begitu saja. Tidak ada alasan untuk bisa mencintaimu, hati ini sangat tulus. Bahkan bisa menjadi ikhlas kala diriku gagal untuk memilikimu. Aku tidak merasa sedang bersaing dengannya untuk bisa memilikimu. Jujur, aku tidak seoptimis itu untuk bisa memilikimu. Materi, inilah yang membuatku merasa tidak percaya diri untuk memilikimu. Meski kamu pernah mengatakan, "jika aku benar menjadi jodohmu, aku akan siap untuk hidup sesederhana itu denganmu." , aku mengingatnya saat kau datang ke rumahku, dan meniup bunga yang berwarna putih. Kau menyebutnya bunga harapan.


 


Bunga yang kamu petik di antara ilalang yang mengganggu tanaman, kau petik dan kau tiup dengan penuh harapan, bahwa kita akan bersama. Aku ingat betapa bahagianya kamu saat ada di daerah tempat tinggalku. Terima kasih untuk perjalanan sejauh ini. Denganmu tidak akan pernah menjadi bosan.


 


 

__ADS_1


Kami beranjak meninggalkan tempat wisata itu setelah kami sholat dzuhur berdua. Karena Astrid hari ini harus masuk kerja, jadi sebelum jam tiga kami harus sampai di Jakal. Kami pulang dan aku yang sekarang mengemudi, meski di perjalanan yang cukup jauh, mataku tidak bisa untuk fokus. Pada akhirnya aku kembali duduk di belakang," dahh kamu tidur aja.. Kamu pasti capek." Astrid memintaku untuk tidur, meski beberapa kali aku hampir merosot dari motor. Dan akhirnya aku sampai di mess dan tidur.


 


__ADS_2