
Akhirnya sejak aku membuntuti Omes dari Jakal melewati kota sampai juga di sebuah komplek seperti perumahan, tapi sebenarnya ini kos perempuan.
Agak heran juga kos Dita di sini tapi kerjanya di daerah Jakal sana. Lumayan jauh sih menurutku, apalagi dia cewek, harus menempuh perjalanan jauh, dan juga jika dia masuk shift sore, pasti pulangnya malam. Ya wajar kalau kemarin-kemarin ia suka menginap di kos Astrid, itupun saat Resta nggak pulang ke kos. Ya untungnya sih bisa muat berdua.
Aku turun dari motor lalu menghampiri Omes yang masih duduk di motornya dengan sebuah handphone di genggamannya.
"Endi ki bocahe?" Omes sambil menoleh mencari Dita berada,
(Mana nih orangnya?)
"Udah kamu chat belum Mes? Si Dita." Sahut Astrid yang juga ikut menghampiri,
"Udah mbak.. Katanya lagi ganti baju." Jawab Omes,
"Coba bentar aku telpon si Dita.." Astrid menempelkan handphone ke telinganya,
"Coba mbak.. Apa di susul aja biar cepet, di bantuin pakai bajunya haha.." Imbuh Omes,
"Tuuuuuuut Tuuuuuut" suara nada sambung Hp Astrid sedang memanggil,
"Halo Dit... Kamu lagi ngapain?"
"Oh, ya udah aku masuk, tunggu depan pintu ya?"
"Kalian tunggu bentar ya disini.." Astrid meminta kami menunggu sebentar.
"Wahh dasar cewek suka ribet hahahaha..." Sahut Omes
Tak lama kemudian Astrid dan Dita muncul dari lorong yang menuju ke kos Dita. Mereka tampak cerah dengan senyuman yang menyapa ku dan Omes. Astrid langsung berjalan mendekatiku yang sudah duduk di motor. Dita juga langsung naik ke motor Omes. Aku segera mengikuti Omes lagi dari belakang.
"Kok tumben Dita sama Omes ya hehe.." Tanyaku ke Astrid,
"Iya, tapi terserah mereka juga sih, ada kedekatan apa di antara mereka." Jawab Astrid,
"Ya mungkin cuma sekedar karena ingin jalan aja kali." Sahutku,
"Iya, lagian siapa juga yang mikir aneh-aneh.."
"Ya kamu, masa aku hehe.."
"Apaan, biasanya yang suka nakal kan kamu.."
"Lah jadi aku?"
__ADS_1
"Hiiih dasar cowok, nggak mau ngaku.."
"Lah kita bahas apa kok jadi ribut hahaha.."
"Entahlah.. Dudududu"
Sedikit demi sedikit kami mulai meninggalkan komplek Kos Dita. Cahaya lampu gedung dan lampu yang berdampingan disisi sepanjang jalannya kota Jogja mulai menggantikan sinar hangatnya mentari.
Aku masih mengikuti laju motor Omes dan Dita dengan jarak yang hanya beberapa meter. Bersama perempuan yang istimewa selalu menemani hariku. Aku memperhatikan papan jalan yang ternyata kami sudah hampir sampai Malioborro. Aku ikuti saja Omes yang menuju tempat parkir yang ada di atas.
"Jalan-jalan sek yo neng kene!" Kata Omes setelah membuka helmnya,
"Ayok.." Sahutku,
Kami segera jalan turun meninggalkan motor kami yang sudah ditempat parkir.
Ini memang seperti double date, aku berjalan berdampingan dengan Astrid. Omespun demikian juga berjalan berdampingan dengan Dita. Aku hanya mengikuti kemana arah langkah kaki Omes berjalan, di sepanjang jalan Malioborro.
"Bingung meh nengendi.." Kata Omes yang tiba-tiba berhenti tepat menghadapku,
(Bingung mau kemanan..)
"Langsung ke Alun-alun aja po?" Dita menyarakan dengan meminta persetujuan,
"Ya ayo, kalau mau ke sana.." Jawab Astrid
Akhirnya kami segera mengambil motor dan menuju ke alun-alun saat itu juga.
*****
Di alun-alun tepat di depan mata kami terdapat dua pohon besar.
"Jal foto Yok.." Omes memintaku untuk memfotonya,
"Hp mu gorene.." Kataku ke Omes sambil meminta handphonenya, (Hp mu bawa sini)
Beberapa foto telah di ambil, seperti biasa Omes selalu percaya diri dalam pose fotonya.
"Kamu mau foto nggak?" Aku menoleh ke Astrid,
"Iya, tapi nanti aja.."
"Ayo jajal nganu koyo kae.." Omes menunjuk orang yang sedang di tutup matanya dengan kain berjalan menuju ke arah pohon besar itu. (Ayo coba nganu kaya itu)
__ADS_1
"Ayo coba yuk.." Dita juga tertarik,
"Sewa penutup mata deh kayaknya.." Sahut Astrid,
"Kamu mau ikut coba juga?" Aku tanya ke Astrid,
"Ayo mbak, coba yuk.. Kita sewa aja dua!" Kata Omes,
"Coba tanya berapa harga sewanya itu.." Imbuh Dita,
"Yuk samperin ke sana.." Astrid mengajak kita mendekati seorang pemuda yang sedang menjaga kain penutup mata berwarna hitam yang di sewakan.
Astrid menanyakan berapa harga sewa kepada pemuda itu, seingatku harganya lima ribu. Kami menyewa satu kain penutup mata, kami akan mencoba tantangan melewati pohon ringin kembar. Permainan ini namanya Masangin singkatan dari masuk dua beringin.
Aturan mainnya sangat sederhana, kita hanya perlu menutup mata lalu berjalan lurus sekitar 20 meter dari depan Sasono Hinggil menuju tengah-tengah ringin kurung (dua beringin di tengah alun-alun). Kata si pemuda yang menyewakan kain penutup mata ini.
Tapi sepertinya itu bukan hal yang mudah, di lihat dari beberapa orang yang mencoba tetap saja jalannya berbelok, aku jadi semakin penasaran ingin ikut nyoba juga. Banyak sekali orang yang berusaha berjalan lurus tapi malah berbelok ke berbagai arah, jauh dari tujuan.
"Emang kalau bisa melewati kenapa?" Tanyaku,
"Kalau bisa sampai ke sana ya berati jodoh..!!" Sahut Dita sambil ketawa,
"Apa iya?" Aku merasa yakin nggak yakin dengan jawaban Dita,
"Mending kamu coba aja mas hehe.." Sahut Dita lagi,
"Oke aku mau coba dulu... Bismillah semoga jodoh haha." Omes mencoba terlebih dulu,
Setelah aku menutupkan kain itu ke mata Omes dan ku ikat supaya tidak jatuh, aku memposisikan Omes menghadap ke tengah-tengah pohon ringin kembar.
"Oke udah siap?" Tanya Dita,
"Kelihatan nggak Mes?" Astrid mencoba menggoyangkan tangannya di depan muka Omes,
"Hehe ya enggak kelihatan.." Omes cengar-cengir,
"Ya udah Mas Gio dampingi Omes biar nanti nggak tabrakan sama orang lain mas.." Kata Dita,
"Ayo Mes, mulai.." Kataku,
Omes seger berjalan maju lurus sesuai instingnya, meski pada kenyataanya dia berjalan semakin ke kanan, menjauh dari tujuan. Aku hanya menjaganya supaya tidak ada orang menabraknya maupun sebaliknya orang lain yang menabraknya. Aku jadi penasaran, bagaimana dengaku?
******
__ADS_1