
Di malam yang cukup dingin, aku masih menunggunya. Duduk di motor beat milik Astrid yang biasa ia pakai untuk berangkat kerja, dan pergi kemana\-mana. Aku menengok jam di tanganku, hampir sepuluh menit aku duduk menunggunya. Mungkin sedang dandan, ataupun sedang siap\-siap. Suara kaki menapak terdengar lirih semakin mendekat. Gerbang yang ku temani sejak tadi kini terbuka. Astrid membuka gerbang itu dan langsung mengunci kembali.
Wangi parfum yang khas miliknya, yang begitu sangat aku kenal. Ia berdiri di depanku. Aku memperhatikan bibirnya yang mulai ia lengkungkan menjadi sebuah senyuman.
"Sudah?" tanyaku.
"Udah kok." jawabnya, sambil ia berjalan dan naik di belakangku.
Kami mulai melaju, meninggalkan gerbang yang menjadi saksi bisu setiap pertemuan kami. Jalan sudah tampak sepi, hanya satu dua saja yang berpapasan dengan kami.
"Jam segini apa masih buka?" tanya Astrid.
"Emm coba aja." jawabku.
Seperti kebiasaanku, entah tempat itu sudah tutup atau masih buka. Tetap saja aku akan memastikan untuk datang ke tempatnya.
"Kita pergi pakai mymoon lagi.." kata Astrid.
"Hee?" apa maksud ucapan itu, aku tidak mengerti.
"Motor ku ini, aku beri nama mymoon."
"Berati motorku ku beri nama sati aja."
"Dulu waktu aku belum ke Jogja, aku pernah dekat sama cowok, rambutnya kek kamu gitu. Dia juga pakai satria warna hitam persis punyamu."
"Dulu kan?"
"Iya, aku pernah di buat nyaman sama dia. Sering pergi kemana-mana, parfummu pun sama. Makanya pas aku pertama lihat kamu, aku ngelihatin kamu. Tapi enggak sama sih, rambut kamu panjang, aku mikirnya kek sasuke hahaha.."
"Haha kangen band?"
"Serius.. Pas aku lihat siapa ini, kelihatan cool, manis."
"Hahaha manis, terus aku bantuin kamu di belakang kan?"
"Waktu itu pas kamu bantuin aku, aku nggak merhatiin yang kamu ajarin. Aku malah senyum-senyum sambil ngomong dalam hati, ini yang manis tadi."
"Iya kamu pertama manggil aku pas aku masak nasi itu."
"Iya.. Dan setelah itu kita sedekat ini."
"Cuma gara-gara kita tukeran shift."
"Haha iya, langsung di culik ke ketep."
"Hahaha.. Di culik tapi di bikin seneng."
__ADS_1
Selalu saja ada bahan obrolan setiap harinya, itulah Astrid.
Tiba sampai di kledokan, kami berhenti di sebuah warung kecil yang biasa kalau siang mereka tutup dan malam hari buka. Aku memesan keroprak dua, untukku dan untuknya.
"Aku kalau di rumah suka beli kek gini." Astrid sambil mengaduk-aduk bumbu ketopraknya.
"Biasanya ada penjual ketoprak yang keliling." imbuhnya.
"Aku baru kali ini makan ketoprak." kataku, sambil mencicipi ketoprak yang sudah ku aduk-aduk.
Aku melihat Astrid memakan ketopraknya dengan lahap, sedangkan aku? Astaga.. Kalau boleh jujur aku merasa agak aneh. Bihunnya aku sisihkan ke pinggir, aku makan yang lain dulu. Tapi ini terlalu banyak bihunnya, astaga.. Ini aku yang nggak doyan atau gimana.
"Enak kan?" tanya Astrid.
"Enak kok." jawabku.
"Iya lah enak gini kok.."
Maaf aku membohongimu hanya untuk tidak mengecewakanmu. Aku makan saja itu bihunnya. Apa emang begini rasanya, tapi aku nggak mungkin menyisihkan sedangkan dia bebrapa kali menyuapiku. Ini seperti waktu itu, dia bikin nasi goreng enak cuman menurutku agak manis. Itu pun masih mending aku habiskan. Aku makan ketoprak ini separuh, tapi aku nggak enak sama dia. Jangan sampai dia kecewa karena ngajak aku ke sini, dan aku nggak mau makan. Aduhh... Aku beberapa kali minum untuk membantuku menelan. Bahkan miliknya sudah mau habis, punyaku masih setengahnya. Astaga.. Gimana punya dia nggak habis? aku juga ikut di suapin.
"Kenapa nggak di habisin?" tanya Astrid.
"Ya udah, kamu tunggu sini aja."
"Kamu mau ngapain?" tanyaku.
"Mau bayar ini dulu."
"Sekali-kali gantian." kataku.
"Enggak! Uangmu kamu simpan aja."
Dia berlalu pergi menuju penjualnya. Memang dia tidak pernah mau kalau aku yang keluar uang. Dia tidak ingin uang hasil kerjaku buat jalan\-jalan sama Astrid.
"Sekarang mau ke mana?" tanyaku.
"Kita pulang, tapi kamu mau nggak ke bukit bintang dulu?"
"Ya ayo."
Aku tidak pernah menolak kalau ia ingin pergi aku selalu siap menemaninya.
__ADS_1
Kami berangkat menuju bukit bintang. Menuju tempat yang pernah ku lewati, namun belum pernah menikmati. Namun dalam perjalanan Astrid sudah tidak bersuara. Seperti biasa, ia sudah tertidur di punggungku.
"Astrid.." aku coba memanggilnya. Aku berhenti di pinggir jalan, padahal kami hampir sampai.
"Hei.. Astrid.." tanganku mengusap kepalanya.
"Hmmmm..." Astrid membuka matanya terlihat sayu.
"Udah mau sampai ini.. Mau lanjut apa pulang?" tanyaku.
"Nanti kalau udah mau sampai bangunin.. Aku mau bobok dulu."
"Hmm ya udah.. Pegangan ya?"
"Iya.." Astrid memposisikan kepalanya ke pundakku.
Akhirnya aku melanjutkan perjalanan. Tangannya memeluk erat. Aku tidak pernah mengalami yang seperti ini. Ini pertama kalinya aku pergi tanpa mengenal waktu, dengan orang yang di cintai tapi tanpa memiliki. Hubungan tanpa status? Ah mungkin teman rasa pacar itu lebih tepat. Aku tidak pernah memintanya untuk memutuskan pacarnya. Bahkan aku tidak pernah membahas hubungannya dengan pacarnya. Aku tidak ingin di sebut perebut, aku tidak akan memprovokasinya, atau apapun mencari cara supaya ia putus.
Ini bukan rencanaku, ini takdir. Bertemu dengan Astrid, tidaklah sebuah kesengajaan. Mengenalnya tanpa aku menanyakan namanya. Mendapat perhatian darinya bukan karena aku yang caper. Jika nanti pada akhirnya ia menjadi istriku, aku tidak tahu hal apa yang akan menimpaku. Dia tidak pernah mengungkap tentang perasaanya supaya aku tahu isi hatinya. Sikapnya sudah menunjukan ia menyayangiku.
Mataku terpaku dengan gemerlap lampu\-lampu yang terlihat seperti bintang. Setelah melewati jalan yang menanjak akhirnya sudah sampai di Bukit Bintang.
"Astrid, udah sampai.." kataku. Namun Astrid tidak juga bangun.
"Sayang bangun.. Udah sampai." aku mengusap kepalanya.
"Hmmm.." Astrid membuka matanya.
"Terus mau duduk dimana?" tanyaku.
"Pulang aja. Aku pengen bobok."
"Ya udah kita pulang."
Astaga, sesingkat ini. Jauh\-jauh datang ke sini haha. Tapi tidak apa\-apa, hanya sebentar ia melihat indahnya gemerlap lampu kota Jogja.
"Nggak mau duduk dulu?" tanyaku.
"Udah ngantuk, besok lagi."
"Ya udah.."
Aku memutar arah dan pulang menuju Jakal. Astrid sudah kembali tidur di punggungku. Tanganku mengusap pipinya, ia tidak merespon apapun. Sudah benar-benar nyenyak.
__ADS_1