
Malam itu memang menjadi keputusan yang tepat ketika Astrid membawakan jaket untukku. Dalam menuruni gunung sangatlah gelap, apa lagi udara sangat dingin. Aku yang awalnya berangkat tanpa membonceng siapa\-siapa, kini saat pulang Astrid memilih untuk bersamaku. Sangat bahaya apa bila Astrid berboncengan dengan Dita. Dita memilih untuk berboncengan dengan Omes.
Aku tidak tahu kemana tujuan selanjutnya, Mas Matin tetap mengawal mencarikan jalan untuk kami yang mengikutinya dari belakang.
"Kita mau kemana sih ini?" tanyaku.
"Katanya sih tadi mau ke tempat Mas Agus Pm." jawab Astrid.
Sekitar beberapa jam kami duduk di rumah Mas Agus Pm, kami memutuskan untuk pulang. Jalan yang kami lewati sangat gelap. Aku memilih untuk berada di urutan ke tiga, karena lampu motorku tidak begitu terang.
Kesunyian malam itu di iringi hujan yang sangat deras. Sampai di kota kami memutuskan untuk berteduh di sebuah tempat yang memungkinkan kami bisa duduk bersama. Mie ayam atau bakso, kami memesan sesuai keinginan masing-masing.
"Jangan pernah mendiamkan Astrid." begitulah Astrid mengucap pelan tapi jelas. Aku terdiam mendengar itu, aku hanya menatapnya yang duduk di sampingku sambil menuang kecap ke dalam mangkuknya dan tangannya mengaduk-ngaduk mie yang di tuangi kecap dan saus. Kata yang ia ucapkan begitu intim, aku sedikit bingung dengan ucapan itu. Mataku kembali menatap layar tv yang ada di depan meja. Setelah kami selesai makan, kami pulang ke tempat tinggal kami masing-masing.
__ADS_1
Handphoneku berbunyi keras, ku pikir aku tak memasang alarm di hp ku. Tanganku mencari hpku yang berdering itu, ku raih dan ku lihat ternyata Astrid menelponku berkali-kali. "Ya halo.." ku angkat telpon itu. "Kamu udah bangun?" tanya Astrid. Aku beranjak dari kamar mess yang cukup membuatku nyaman. "Iya udah kok!" jawabku.
"Ayo kita sarapan!".
Aku sudah bersiap saat Astrid sudah datang menjemputku.
"Mau makan di mana?" tanyaku.
"Ya besok kalau masuk pagi, atau pas kita libur." kataku.
"Ya udah ke soto Holliwood aja." katanya.
Pagi itu cukup cerah, Kami berangkat ke soto holliwood yg entah aku tidak tahu di mana lokasinya. Ternyata tidak begitu jauh dari Sc. Kami memesan menu yang sama dan duduk menunggu.
__ADS_1
"Kemarin itu siapa?" tanyaku.
"Itu temennya Jafar." jawabnya.
"Jadi kemarin ada tugas di kerjain bareng, terus dia tanya mau makan di mana, aku ngajak ke SC. Karena aku suka paket cuminya." tambahnya.
"Hhm.." aku hanya tersenyum.
" kamu kenapa berani diemin aku?" tanya Astrid.
"Aku cemburu. Lihat kamu di bonceng orang lain yang aku nggak kenal." kataku.
"Belum tahu siapa Astri dsebenernya, udah berani diemin. Astrid kok di diemin." katanya.
"Ya maaf, aku emang sayang sama kamu." kataku.
Astrid hanya terdiam. Soto pesanan kami sudah datang, ia langsung memakan soto itu. Seketika hening, ia tidak menjawab kata\-kataku. Tatapanku tertunduk beralih ke soto yang sudah di hadapanku, aku mulai memakannya.
Mungkin ia tidak ingin membahas hal ini selagi makan, atau dia memang sedang tidak tertarik membahas hal ini. Cemburu pada orang yang sudah punya pacar, memang kenyataannya salah. Jika di pikir aku memang tidak ada hak untuk melakukan protes.
__ADS_1