Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 28


__ADS_3

Sejak insiden itu, Astrid begitu merasa bersalah. Ia rela gajinya untuk mengganti uang yang hilang. Tapi, semua sudah di tangani oleh pihak Ownernya dan di telusuri bersama polisi.



Malam setelah kejadian, aku sedang duduk di meja ruang konsumen yang ada di luar. Sambil memikirkan apa yang di rasakan Astrid, dan terus memikirkan supaya ia tidak tertekan. Kala itu Vidi menghampiriku dengan sebuah ponsel di genggamnya, ia duduk tepat di depanku. Dengan senyum dan hati\-hati dia mulai membuka pembicaraan.


"Menurutmu kira-kira keprige, ada dugaan-dugaan opo ora?" tanya Vidi.


"Nek menurutmu?" tanyaku balik.


"Sadurunge sepurane ya, kalau inyong malah mendugane si Astrid. Tapi iki obrolan berdua wae!"


Katanya.


"Kok isoh Astrid?" tanyaku.


"Ya kan sekedar kecurigaan, menurutku sik njupok duit mau, si Astrid ro koe. Kan kalian ono hubungan sesuatu." katanya.


"Loh kok isoh aku? Jelas-jelas mau aku ro koe melu brifing. Duite ilang pas arep di itung meneh." aku sedikit tidak terima dengan dugaannya. Jujur aku tidak suka kalau ada orang yang meragukanku.


"Ya kan iki hanya dugaan." katanya.


"Terus koe ngarani aku sik jipok?" tanyaku.


"Ya aku sih mikire ngono!" katanya.


"Ra masuk akal. Wong aku yo ro koe melu rapat." aku tidak setuju dengan dugaannya. Menurutku itu pemikiran gila.


Sekitar pukul dua belas malam, Astrid datang menemuiku, memintaku menemaninya jalan\-jalan. Kami menuju ke atas, jalan menuju ke Kali urangnya.


"Aku beneran mau resign aja." katanya.


"Jangannn..!!" kataku.


"Aku merasa bersalah.."


"Tapi nggak gitu caranya, nanti pasti ada jalan keluarnya."

__ADS_1


"Aku nggak kuat, aku nggak mau nanti malah ganggu kuliahku."


Aku seketika terdiam, memang benar ia masih ada kuliah, dan bisa jadi ini akan mengganggunya. Tapi, aku nggak mau dia menyerah dengan keadaan seperti itu.


"Oh iya tadi aku ngobrol sama Vidi. Ya sekedar obrolan aja." aku membuka percakapan itu.


"Ngobrol apa?" tanyanya.


"Tentang uang yang hilang itu." kataku.


"Iya, terus."


"Jadi dia menduga kalau yang mengambil uangnya itu adalah kamu."


"Kenapa bisa begitu?" tanyanya.


"Ya aku nggak tahu, tapi dia bilangnya begitu. Dan dia juga menduga aku dan kamu yang ngambil itu." kataku.


"Oh shit.." kata Astrid.


"Kamu jangan marah sama dia." kataku. Astrid hanya diam dan tak suasana seketika menjadi hening.


"Akupun juga heran.. Kenapa dia mikirnya kamu yang ngambil, terus seolah kita sekongkol untuk ngambil uang itu." kataku.


"Perlu ku hajar anak itu." kata Astrid.


"Jangan, dia nggak tahu sebenarnya kan?" aku berusaha mencegahnya. Aku pikir aku hanya bercerita ya sekedar cerita saja. Tapi sungguh aku bodoh, aku tidak tahu kalau Astrid jadi semarah ini.


"Aku mau pulang!" kata Astrid dengan nada seperti orang marah.


"Pulang sekarang?" tanyaku.


"Iya."


"Kita baru sampai sini."


"Aku mau pulang!!" Astrid menegaskan ucapannya.

__ADS_1


"Ya udah iya." aku berhenti dan memutar balik arah kami.


"Bener-bener minta di kasih pelajaran." Astrid ngomel sendiri.


"Heh.. Jangan!" aku mencegahnya.


"Aku mau kasih dia pelajaran, lalu aku akan resign."


"Jangan, Vidi kan cuma menduga!"


Suasana menjadi panas. Apa yang telah ku lakukan? Aku kira dia paham bahwa aku hanya bercerita, tapi di luar dugaan dia mengerikan.



Sampai di halaman outlet, Astrid langsung turun dan langkahnya yang cepat menuju ke Vidi yang masih duduk di tempat tadi. Aku mengejarnya dan memegang tangannya yang mengepal dan sudah siap memberi pukulan ke Vidi, aku menahannya untuk menghampiri Vidi.


"Lepasin!!" Astrid berusaha melepaskan tangannya, tapi aku tetap menahannya. "Jangan.. Nggak usah ke sana..!!" aku berusaha keras untuk supaya ia berhenti.


Namun tatapan matanya sangat tajam, seperti seekor singa yang siap menangkap mangsanya. Astrid yang ku kenal ceria, dan ramah, itu tidak ku temukan lagi saat dia benar-benar marah. Ini gila, sikapnya sangat berbeda. Sorot matanya aku bisa melihatnya, tatapan mata kebencian yang ia tunjukan juga menatapku.


Aku melepaskan tangannya yang masih mengepal dan ia masih menatap tajam mataku. Astrid berbalik menuju motornya, aku mengejarnya dan mencoba menenangkannya. Astrid mulai menyalakan motornya, kunci motornya ku ambil.


"Kamu marah sama aku juga?" tanyaku.


"Minggir aku mau pulang." jawabnya.


"Hey kamu marah sama aku juga, aku ini siapamu?" tanyaku.


"Minggirrrr aku mau pulang!" nadanya semakin keras.


"Aku siapamu, kenapa kamu marah ke aku juga?"


"Iya siapamu? Minggir aku mau pulang!!" nadanya lebih keras.


"Tunggu sebentar!!" aku harap ia mau mendengarku.


"MINGGIR GUE MAU PULANG!!" Astrid merebut kunci motornya dan mulai menyalakan. Aku sudah pasrah, nada bicaranya benar-benar ia sedang marah. Ia berlalu meninggalkanku, dia tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri langsung melajukan motornya dengan cepat.

__ADS_1


Aku pikir ketika aku bertanya siapa aku, dia paham bahwa aku orang terdekatnya. Tapi justru sebelaliknya, ia malah semakin marah.


__ADS_2