
Ia masih saja ingin membahas tentang itu, aku malas untuk menjelaskannya, tapi aku tidak ingin dia diam seribu bahasa lagi.
Malam itu sangat sunyi, tidak ada orang yang berlalu lalang di sekitar jalan. Hanya berdua duduk di meja paling depan dan paling ujung. Dan ini kesempatan Astrid untuk melakukan introgasi. Jujur saja aku sangat was\-was, jika aku salah dalam menjawab pertanyaan\-pertanyaanya.
"Aku mau nanya!" katanya.
"Iya, tapi jangan yang susah di jawab, apa lagi aku tadi malam nggak belajar, haha."
"Kamu pernah melakukannya?" tanya Astrid.
"Yah susah di jawab ini."
"Hiiih jawab aja!"
"Iya iya.."
"Udah pernah zion?"
"Hmm udah."
"Terakhir kapan?"
"Udah lama!"
"Kamu melakukannya sama Eka? Wulan?"
"Emmm Eka! Oke gantian aku yang nanya!"
"Biasanya kalau yang udah pernah itu bibirnya bergaris." katanya. Dia menatap bibirku dengan tajam. Aku juga berusaha menatap bibirnya.
"Itu bibirmu bergaris!"
Ada rasa penasaran saat menatap bibirnya, apakah itu tandanya ia pernah melakukan. Dia sendiri yang menjelaskan tentang ciri-ciri tersebut.
"Aku ngantuk pengen bobok." Astrid melentangkan kedua tangannya lalu menutupi bibirnya.
"Tuh di tutupin, coba sini lihat!" aku coba membuka tangannya, tapi tangannya menutupi dengan kuat. Dia hanya tersenyum dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Tingkahnya membuatku semakin penasaran, aku tetap mencoba membukanya.
Dia senyum\-senyum sendiri. Aku semakin yakin dia pernah melakukannya. Meski itu hal yang tidak perlu di jelaskan namun hati ini merasa sedikit panas.
"Aku pernah satu kali." katanya sambil menatap mataku, bibirnya tersenyum.
"Hhm kapan?"
"Dua kali."
"Hmm yang bener yang mana?"
"Satu kali, dua kali, tiga kali. Besok bulan April dia datang, nambah sekali. Hahaha.."
__ADS_1
Entah yang benar yang mana, nada bicaranya meledekku. Seperti ia ingin aku merasa cemburu. Aku rasa tidak perlu mendengar yang lebih jelas lagi.
Aku menarik tangannya, dia sedikit kaget. Tapi aku hanya mau melihat jam berapa ini, karena sudah sangat malam.
"Udah jam setengah dua!" kataku.
"Aku pengen jalan-jalan." katanya.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Ke Magelang lagi." wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Dia berbicara dengan sangat pelan, ia mencoba menggodaku dengan kedipan matanya yang ia buat seolah itu kedipan mata genit.
"Haha ya udah kita ke tempat yang sejuk, hanya suara angin dan kicauan burung saja." kataku.
"Di mana?" matanya berbinar, ia merasa gembira.
"Di Grenden!"
"Emang itu di mana?" tanyanya.
"Dekat dengan top selfi kragilan."
"Bisa mainan uap? Yeeeeay!"
"Mau berangkat kapan?" tanyaku.
"Jam segini?" tanyaku.
"Iya nanti kalau ngantuk, kita nyetirnya gantian."
"Ya udah kita ke kos mu ambil jaket."
Langit hitam yang luas sedikit gumpalan awan menemani cahaya bulan dan bintang, sangat damai. Mereka berdampingan dan bekerja sama untuk menciptakan indahnya langit di malam itu.
"Halan\-halan yeay.." sungguh ini malam sekali, dia ingin jalan\-jalan. Sungguh tidak perduli dengan waktu, siang atau malam. Asalkan bisa untuk bersama itu akan terus kami lakukan. Mengingat waktu yang ia punya di sini tidaklah banyak.
Aku memilih rute yang cukup jauh tapi cukup terang dan cukup ramai. Untuk menghindari hal yang mungkin akan membahayakan jika malam selarut ini melewati jalan yang sepi.
"Gio kamu ngantuk?"
"Belum kok. Nanti kalau ngantuk kita berhenti aja."
"Ya udah kalau gitu."
"Kamu tahu? Aku dulu itu playboy."
__ADS_1
"Masa? Nggak percaya!"
"Iya aku tu dulu playboy, sejak SMP aku udah mulai punya banyak pacar."
"Dasarr cowokk.." tangannya mendarat di helmku. Di gaploklah helmku.
"Hahaha.. Kan ini cerita waktu dulu."
"Dasar cowok, dasar playboy!"
"Apaan sih, kan itu dulu banget."
"Tetep aja kamu playboy." lagi-lagi tangannya menggaplok helmku.
"Hahaha.. Ya udah nggak jadi."
"Bodo'.. "
"Nah ngambek kan.."
"Ya udah terusin ceritamu."
"Ah nanti kamu marah.."
"Dududududu.."
"Ya udah aku lanjutin.. Jadi kalau di total sih, kalau aku akuin itu semua mantanku, ada dua puluhan mantanku."
"Bener-bener playboy, sekarang juga masih playboy kan?"
"Eh nggak lah.. Terakhir aku bisa setia lho, aku yang di selingkuhin tiga kali aja masih aku maafin."
"Berati kamu sayang banget sama dia."
"Tapikan dulu."
"Dudududu.."
Sepanjang jalan menuju Magelang, mataku sudah mulai merasa berat. Pandanganku mulai tidak fokus, beberapa kali aku memanggil Astrid sudah tidak ada jawaban. Dia sudah tertidur, pelukannya juga sangat erat.
"Gio, kamu ngantuk? Kalau ngantuk bilang."
"Iya aku mulai ngantuk."
"Kita istirahat aja."
Aku tidak menjawabnya, mataku berusaha mencari tempat\-tempat yang ada di pinggir jalan. Kebetulan aku melihat ada meja bekas orang jualan, tepat di depan kios yang sudah tutup juga. Astrid juga setuju untuk istirahat sebentar di balik meja itu."Kamu tidur aja." kataku sambil merebahkan kepalanya di pangkuanku.
Aku berusaha tidak terpejam meski rasanya sudah ngantuk. Tapi ini adalah tanggung jawabku, menjaganya terlelap di pangkuanku, di pinggir jalan raya. Ia masih memakai seragam SC yang di balut jaketnya. Aku menatapnya, ku perhatikan wajahnya yang sedang terlelap. Aku mencium pipinya dengan lembut. Ia sedikit membuka matanya dan menatapku. Namun matanya yang sudah berat, ia kembali terpejam. Aku menutup matanya dengan tanganku. Ku usap\-usap kepalanya yang terbalut kerudung itu. Meski mataku juga terasa berat, aku tetap harus menjaganya, menjaga motor yang kami bawa juga.
__ADS_1
Kesunyian di malam itu, meski sesekali terganggu suara laju mobil yang melintas, namun jarak kami dan jalan raya cukup jauh, jadi orang tidak akan melihat kami jika hanya sepintas mereka melewati. Pikiranku hanyut dalam kesunyian. Memikirkan sejauh ini kedekatan ku dengan Astrid. Menyayangi, menemani, namun tidak memiliki seutuhnya. Aku sudah bilang tidak akan memintanya memberi jawaban, jadi inilah konsekuensinya. Jika pada akhirnya ini hanya cerita, biarlah ia yang akan menentukan dan memilih jalan hidupnya, menentukan pemilik hatinya.