Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 50


__ADS_3

 


Kami meninggalkan tempat pangkas rambut di Paeitan tersebut. Harap dan cemas menyelimuti pikiranku. Meskipun begitu aku berusaha meredamnya. Kami kembali melewati jalan yang di kelilingi kunang-kunang itu lagi, tapi sayangnya kunang -kunang itu sudah pergi. Indahnya sinar serangga menyala itu telah pergi membuat malam semakin terasa mencekam, tidak lagi ku dengar suara tawa dari Astrid.


 


Aku terus melaju semakin cepat hingga tiba di pertigaan jalan yang harusnya kami mengambil jalur ke kanan.


"Yakin kita nggak jadi ke Ngluwar?" tanyaku pada Astrid yang duduk di belakang yang sedari tadi diam tak bersuara,


"Iya.." jawabannya terdengar begitu datar, sangat tidak indah untuk ku dengar,


Mendengar jawaban itu aku tak perlu meyakinkan jawabannya lagi. Aku semakin mempercepat laju motor kami. Sampai jembatan perbatasan Jogja dan Magelang aku mengambil jalan ke kiri, untuk menghindari jalan yang mungkin macet di depan nanti.


 


Apa yang sedang ia pikirkan? Sejak dari tadi tak bersuara, biasanya ia akan bersenandung atau ia akan tertidur jika perjalanan cukup jauh.


 


"Kamu kenapa?" aku mencoba memecahkan keheningan,


"Enggak ada.." jawabannya masih datar,


"Tiba-tiba kamu diam.. Nggak seceria tadi." kataku,


"Terus saja.. Kita harus segera sampai." sahutnya,


 


Entah mengapa aku begitu percaya dengan firasatnya, padahal itu belum pasti akan terjadi. Aku harap itu memang tak akan terjadi. Baiklah, aku akan percaya pada diriku sendiri bahwa itu tidak akan terjadi. Aku harus mematahkan firasat itu, meski semakin dekat dengan kosnya semakin berdegub kencang jantungku.


 


"Sebentar lagi... Sebentar lagi.. Sebentar lagi.." aku terus bicara dalam hati,


Mataku terus menatap tajam ke depan. Aku mengurangi kecepatan motorku. Tinggal satu kilo meter lagi aku akan menemukan jawabannya. Meskipun aku mencoba yakin, tapi firasat Astrid membuatku tak percaya diri. Aku tidak melupakan bahwa ia adalah anak indigo, itu yang membuatku merasa firasatnya benar. Aku yang biasanya mengikuti instingku, hari ini terasa tidak bisa percaya itu. Ya Tuhan, apa yang ku cemaskan? Hubungan ini berakhir atau sesuatu yang lain akan terjadi?


 

__ADS_1


Jantungku lebih cepat berdetak, nafasku keluar masuk tak beraturan, mataku membulat terpana pada mobil yang sudah terletak di depan gerbang kos Astrid. Mobil berwarna hitam kinclong, yang ku lihat cukup bersih itu. Aku semakin pelan dan pelan hingga berhenti di depan gerbang yang terhalang mobil itu.


Seketika rasa cemasku berhenti, jantungku mulai berdetak normal, nafasku mulai beraturan lagi.


 


"Apa benar ini mobilnya?" tanyaku menoleh pada Astrid,


"Bukan.." jawabnya masih tetap datar,


"Coba aku lihat ke dalam.." imbuh Astrid, ia turun dari motor dan mencoba mengecek di dalam,


Ngekkkkk..


Suara gerbang yang ia buka, ia langsung berjalan menuju ke kamar kosnya. Aku masih menunggunya di depan gerbang. Aku tak perduli ini mobil siapa, jikalaupun yang datang adalah Jafar dengan membawa mobil temannya, aku tak yakin itu. Aku yakin ia tidak akan datang.


Grekkkk..


Astrid membuka pintu gerbang dari dalam. Wajahnya telah berubah, senyuman itu mulai melengkung lagi di wajahnya.


"Nggak ada.. Ku kira ini mobil yang dia bawa, ternyata bukan." Astrid berjalan mendekatiku,


"Ya udah kita cari makan aja.." Astrid memandangi wajahku,


"Mau makan di mana?" tanyaku bingung,


"Itu di dekat kos sini ada kok yang enak, ayam geprek." jawab Astrid,


"Baiklah.. Ayo!"


Mari lupakan rasa cemas itu, lupakan kekhawatiran itu, semuanya baik-baik saja. Gelisah juga membuatku terasa lapar. Pada saatnya pada waktunya semua akan terbongkar, hubungan yang kami jalani memang di balik sebuah hubungan pacaran Astrid dengan Jafar, hubungan apa yang kami jalani? Tidak ada status yang jelas di antara aku dengannya. Namun aku mulai terbiasa duduk denganya, makan dengannya, dan selalu dengannya. Seperti kami berpacaran. Namun aku tidak ingin merebut itu. Meski Astrid tidak pernah mengatakan ia menyayangiku, tapi aku bisa merasakan rasa itu mengalir di hatiku.


 


Aku tak mengerti cuaca langit hari ini, tapi tampaknya hujan mulai turun. Di depan sebuah rumah makan yang tidak terlalu besar dengan cat berwarna kuning, aku memarkir motor yang ku bawa. Aku melihat seorang wanita paruh baya mengenakan jaket, dan panjang celana di bawah lutut dengan menenteng beberapa box berisi makanan, ia berdiri di pintu masuk. Aku hendak masuk harus berhenti karena terhalang ibu itu. Saat ku pandangi box yang ia bawa, tiba -tiba ibu itu menoleh memandangiku. Aku melihat air mata yang mengalir di pipi ibu itu, seketika hatiku tersayat dengan sendirinya.


 


"Nak di beli ya brownis ini.." ibu itu menawarkan box itu padaku,

__ADS_1


"Lima puluh ribu aja.."


"Saya butuh dana untuk biaya operasi anak saya.." suara ibu itu semakin terpatah-patah bersama dengan suara tangisannya, aku hanya menatap matanya, astaga.. Aku benar-benar melihat mata ibu ini sangat tulus,


"Kalau tidak di operasi, kaki anak saya akan di potong.." ibu itu mengusap air matanya. Mataku terpaku, memperhatikan ibu ini yang berjalan meninggalkanku, saat ada karyawan warung itu mencoba menyuruh ibu itu untuk pergi karena menghalangi pintu masuk.


"Misi buk!! Jangan halangi jalan..!!


Aku masih terdiam memperhatikan ibu itu yang berjalan dengan sedikit pincang, ia mencoba pergi ke warung lain untuk menawarkan brownis yang ia bawa, ia tampak berjalan menerjang jatuhnya air hujan dengan payung sederhana, sedangkan aku masih berdiri terdiam di depan pintu. Aku ingin sekali membelinya, tapi aku benar-benar tidak punya uang untuk membantunya. Ya Tuhan, sakit sekali hati ini melihat kejadian ini, seorang ibu-ibu berjalan dengan agak pincang, menerjang air hujan untuk menjual brownis itu, demi anaknya yang harus operasi, dan ia menangis.


"Gio..!" suara Astrid memanggilku namun aku masih memperhatikan ibu itu, apakah ada yang beli atau tidak.


"Giooo...!" aku menoleh saat Astrid menarik tanganku,


"Pesan dulu.." kata Astrid, akhirnya aku memesan makanan yang sama dengan yang di pesan Astrid, lalu kami menuju tempat duduk.


"Kamu kenapa?" tanya Astrid,


"Aku nggak tega dengan ibu tadi.. Gimana kalau nggak ada yang beli?" aku menahan air mataku yang sudah tak dapat ku tahan,


"Kita nggak bisa bantu ibu itu dengan membeli kue yang di bawa ibu tadi, tapi kita bisa bantu ibu itu dengan doa." Astrid menatapku dengan tajam,


"Aku udah nggak punya uang lagi.." akhirnya air mataku mengalir di pipiku, aku sudah tak mampu membendung air mata di mataku. Aku menunduk, dan menutupi wajahku dengan kedua tanganku.


"Aku nggak bawa uang lagi.." sahut Astrid,


Aku merasa mengapa harus Astrid yang berbuat untukku, apa aku tidak bisa berbuat apa-apa tanpa ada Astrid?


"Itulah kenapa kita harus kaya..! Kita harus bekerja keras hingga kita mendapat uang yang banyak, sehingga kita kaya.. Supaya kita bisa membantu orang lain, supaya kita bisa menolong orang yang butuh pertolongan kita. Meskipun kita sekarang bisa membantu, tapi tidak bisa sepenuhnya, coba saat kita bekerja keras dan kita punya banyak uang, rasanya akan sangat menyenangkan berbagi dengan orang yang jauh lebih membutuhkan." kata Astrid,


Aku hanya terdiam dan setuju dengan kata-kata yang ia ucapkan. Aku mengusap air mata di pipiku. Aku sedikit tenang mendengar ucapan Astrid, alasan kita menjadi kaya, untuk membantu orang yang jauh lebih membutuhkan.


"Melihat ibu tadi kamu menangis, aku tahu alasan mengapa kamu menangis, kamu bisa merasakan kesedihan orang lain, karena kamu punya hati yang lembut." kata Astrid,


Mendengar itu aku menatap matanya, aku tak menduga ia akan mengatakan itu.


"Sudah.. Kita doakan saja ibu itu." Astrid tersenyum mencoba menenangkanku,


Aku tak mengerti apa yang ku rasakan, melihat orang lain menangis, memang rasanya terhubung ke hatiku, melihat orang menderita, rasanya hatiku bisa merasakan itu. Mengingat sejak kecil keluargaku sudah tidak utuh, tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, membuatku tumbuh dengan kelembutan hati seorang ibu. Aku mencoba mencari pengganti kasih sayang seorang ayah itu dengan mengganti kasih sayang dari teman-teman. Dengan mencari teman, sahabat dan ikatan lain yang akan menjadi ikatan yang berharga. Memang benar, bukan hanya kebahagiaan yang bisa di bagi ke orang lain, tapi rasa sakit, rasa sedih itu juga mampu di bagikan pada orang lain yang mengakui ikatan itu. Aku tak akan menjadi orang lain, dengan diriku ini, karakterku ini, meski menanggung beban dan kebencian, aku akan tetap hidup menjadi diriku sendiri. Terimakasih Astrid, terimakasih untuk teman-teman yang mengakuiku.

__ADS_1


Keluargaku yang tak sempurna, kisah hidupku yang tak berjalan baik, bagaimana susahnya ibuku mengurusku hingga tumbuh. Aku tidak ingin itu menjadi hal yang biasa saja untukku. Aku akan berjalan di jalan hidupku, jalan hidup yang telah ku pilih, aku akan berusaha menjadi lebih baik, pribadi yang mungkin sangat berbeda dari orang pada umumnya, jika itu terlihat sempurna, itu bukan untukku, jika itu baik bukan karena diriku. Untuk Ibuku, dan Nenekku yang telah mengasuhku sejak bayi, aku percaya mereka bangga dengan caraku hidup. Perjalanan pahit manis, itu yang kita rasakan sejak dulu. Aku percaya itu membentuk karakterku menjadi seperti ini. Merasakan penderitaan orang lain, kepedihan, rasa sakit. Itu akan membuatku menghargai betapa pentingnya ikatan dengan orang yang tulus dan mau berteman denganku.


__ADS_2