Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 51


__ADS_3

Hujan sudah mulai reda, makananku juga sudah habis. Hanya tinggal menunggu Astrid menghabiskan makanannya yang tinggal sedikit.


"Waktu tahun baru kemarin kan aku tanggal satu nggak bisa masuk, terus hari selanjutnya itu tadinya mau aku bawain makanan, tapi takutnya di kira aku nyogok. Setelah nggak bisa ikut rapat, pas berangkat malah sakit." Astrid sambil meneguk minumannya dengan sedotan,


"Kok nyogok?" tanyaku sambil menggeser piring bekas makan ku,


"Iya, udah nggak datang rapat, pas datang bawain makanan, ya kan di kira nyogok haha.." jawab Astrid, menyantap makanan terakhirnya,


"Hhmm.. Nggak lah.." sahutku, aku tidak sependapat jika ia menganggap itu menyogok,


"Awal masuk, lihat kamu rambutnya panjang kaya sasuke haha.. Terus aku ngomong dalam hati, siapa ini? Kelihatan manis." kata Astrid, mengambil tisu yang ada di sebelah kirinya,


"Dan aku bantuin kamu.." sahutku,


"Iya, pas kamu ngajarin aku, aku nggak lihatin.. Justru aku malah mikirnya wah ini cowok yang manis tadi.." kata Astrid, sambil menyanggah janggutnya dengan kedua tangannya,


"Iya, ibu-ibu beranak dua.. Haha aku nggak perduli." kataku menyengir,


"Berteduh di masjid alun-alun Magelang, kamu bisa bikin aku nyaman tanpa kamu menyentuh. Terus pas kamu pulang ke Magelang, aku semalaman nggak bisa tidur mikirin kamu." mata Astrid menatapku sepenuhnya,


"Hhm.." aku hanya tersenyum mendengar itu,


"Sampai Resta heran, gegara aku mikirin cowok sampai segitunya. Aku khawatir kamu sakit, gila kamu bisa bikin aku kepikiran kamu sampai aku nggak bisa tidur. Padahal aku udah minum obat tidur, nggak ngaruh sama sekali. Seorang Gio berhasil bikin Astrid kepikiran seperti itu." kata Astrid,


"Minum obat tidur? Nggak ngaruh?" tanyaku seperti tidak percaya itu,


"Iya, obat tidur itu kalah sama kamu.. Hebat!" jawan Astrid dengan penuh keyakinan,


"Aku udah tahu kalau kamu ada sesuatu sama aku, saat kamu berusaha meyakinkan aku untuk nggak resign.." kata Astrid,


"Kamu tahu itu?" tanyaku,


"Bahkan sejak kamu sms aku buat ngucapin selamat tahun baru, aku udah ngerasa ada sesuatu. Waktu itu aku kasih lihat ke Jafar kalau kamu sms aku.." sahut Astrid,


"Kamu bilang gimana?" aku penasaran reaksi Jafar,


"Aku bilang, dia sms aku.. Ngucapin selamat tahun baru, dan ngasih tahu informasi rapat tanggal satu." katanya,


"Dia gimana?" tanyaku,


"Dia suruh balas, tapi aku cuma membiarkan.." jawabnya,

__ADS_1


"Awalnya dia berterimakasih karena kamu mau tukar shift sama aku. Tapi sekarang, kalau dia tahu kedekatan kita, mungkin kejadian di Aldan akan terulang kembali." suara Astrid menjadi datar,


 


Suatu saat aku pasti akan bertemu dia, entah dimana atau dalam situasi apa. Aku akan siap untuk itu.


 


*******


 


 


Setelah selesai makan kami akan kembali ke kos Astrid dulu. Di jalan kami melihat ibu yang tadi masih berjalan membawa box berisi brownis tadi masuk ke warung -warung di pinggir jalan.


 


 


"Itu lihat, ibu yang jualan tadi.." kataku, mengurangi kecepatan laju motor,


"Ke kos ku dulu, coba nanti aku tawarin ke Resta dulu. Siapa tahu dia mau beli juga." sahut Astrid,


 


Kami langsung menuju ke kos Astrid. Aku menunggu di depan gerbang seperti biasa. Hujan juga sudah mulai reda, jadi aku tidak khawatir dengan bajuku yang akan basah. Setelah beberapa menit, Astrid keluar dari balik gerbang.


 


"Ayo kita cari ibu tadi.." kata Astrid,


Syukurlah, Astrid akan membeli brownis ibu tadi. Kami kembali menyusuri jalan yang telah kami lewati tadi, dan kami melihat ibu tadi berdiri di depan sebuah warmindo. Kami langsung berhenti, Astrid menghampiri ibu itu, aku menunggu di atas motor. Akhirnya aku bisa melihat wajah ibu itu tersenyum, rasanya cukup lega. Namun ada sedikit sesal dari dalam hatiku, aku tidak bisa membantu secara langsung.


"Ayo kita balik ke kos lagi.. Kita kasih ke Resta dulu." kata Astrid,


"Ayo.. Naik!" akhirnya kami kembali ke kos dengan Astrid membawa satu box berisi brownis,


******


 

__ADS_1


Hari sudah malam, karena kita pergi membawa motor Astrid jadi Astrid harus mengantarku pulang ke mes.


 


"Ayo aku antar, besok kamu masuk pagi." kata Astrid,


"Besok kamu masuk sore ya?" tanyaku,


"Iya.. Aku mau ke kampus besok." jawab Astrid,


"Ya udah oke.."


Aku segera menyalakan motor beat miliknya, setelah ia naik di belakang aku segera melaju meninggalkan kosnya.


*******


Tet... Tet... Tettt....


 


 


Suara klakson terdengar berisik membuatku terbangun dari tidurku. Suara klakson motor roda tiga atau Viar itu sudah pasti tim pengadaan yang baru saja sampai dengan membawa bahan mentah untuk kami jual nanti. Memang setiap pagi mereka selalu datang membawa bahan yang kami order setiap malam.


Hari ini hanya aku anak mes yang masuk pagi, jadi aku segera bangun dan membuka pintu menyambut barang-barang yang sudah datang. Jika kami terlalu lama merespon biasanya orang yang di kirim untuk mengantar barang itu akan teriak-teriak untuk segera membuka pintu. Biasanya yang mengantar Kang Isep, kadang kalau Pak Bos yang mengantar agak siangan.


Aku membuka pintu dan langsung pergi ke kamar mandi, karena jam masih menunjukan pukul setengah tujuh jadi aku akan bersiap untuk mandi dulu.


 


Aku berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk di pundak sebelah kananku. Ternyata Mas Matin baru saja datang, ia sedang meletakan helm di kaca spion motornya. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum.


 


"Mandi wajib po Yo?" tanya Mas Matin sambil mengikat rambut kepalanya, (Mandi wajib ya Yo?)


"Wajib mandi.. Ben ra ngantuk!" jawabku sambil berjalan mendekati pintu masuk mes, (Wajib mandi.. Biar nggak ngantuk!)


"Nyo kopi.." Mas Matin mengulurkan tangannya yang memegang satu saset kopi, Ku terima kopi itu dan ku tinggal masuk ke mes.


 

__ADS_1


Sudah pukul tujuh dan anak-anak sudah berdatangan, aku langsung menuju ke tempat betet-betet. Ada cumi, lele dan nila, aku lebih suka untuk mengeksekusi lele, meski jumlahnya lebih banyak dari nila.


 


__ADS_2