
Malam saat kami telah selesai menyewa odong-odong terasa lapar telah menyerang perut kami semua. Meski beberapa cemilan sudah mengisi perut tapi kalau belum di isi nasi rasanya cacing-cacing dalam perut ini serentak melakukan demo.
"Mau makan enggak ini?" Tanya Dita,
"Giyok, lesu ora wetenge?" Omes melempar pertanyaan padaku,
(Giyok, lapar nggak perutnya)
"Ayo golek madang!" Sahutku,
(Ayo cari makan!)
"Mbak Astrid laper nggak?" Tanya Dita,
"Aku mah ayo kalau mau makan, kalau nanti juga nggak apa-apa.." Jawab Astrid,
"Ya udah ayo kita beli makan di luar aja.." Omes sambil mengelus rambutnya,
Setelah aku, Astrid, dan Dita setuju dengan jawaban Omes, akhirnya kami semua menuju tempat parkir untuk segera mencari makan di tempat lain. Aku mengikuti Omes yang entah mau menunjukan suatu tempat.
Kami berlalu melewati kota, aku agak bingung kalau sudah sampai kota. Karena aku tidak tahu arah jadinya hanya mengikuti laju Omes membawa motornya.
*******
Malam ini langit terlihat cantik, bintang-bintang berkelip bersama angin malam yang berhembus. Tempat yang gelap hingga kembali ke tempat yang terang oleh lampu kota telah kami lewati. Hingga pada akhirnya aku melihat Omes berhenti di pinggir jalan. Akupun ikut berhenti. Lalu ia memarkirkan motornya di tepi jalan ini. Ada banyak motor yang sudah berbaris rapi dengan di jaga oleh pria memakai rompi orange dan memegang lampu batang berwarna merah menyala.
"Mas nitip ya?" Aku mengatakan itu ke juru parkir yang memakai rompi orange itu.
"Iya mas, nggak usah di kunci stang ya!" Pinta Juru parkir itu,
Aku heran dengan sebuah rumah makan kecil nampak di depan mataku, ku pikir kita akan makan di pecel lele atau di mana. Omes dan Dita jalan duluan di depan menuruni tangga kecil, sementara aku tetap di belakang Astrid. Waw ku lihat lampu remang-remang menghiasi dinding, dan berjajar gazebo-gazebo kecil. Ya paling muat empat orang, itu pun pasti akan terasa sempit. Akhirnya kami berpisah tempat duduk, membagi dua tempat. Aku dan Astrid duduk berdua, sudah pasti. Dan Omes juga duduk berhadapan dengan Dita. Aku menengok ke sebelah kanan ternyata di samping adalah sungai.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Astrid dengan memegang buku menu ditangannya,
"Aku ayam bakar aja.. Sambel tomat."
"Kita beli dua tapi sambelnya beda." Kata Astrid,
"Emmm sama minumnya aku jus jambu aja.."
"Ada lagi?" Tanya Astrid,
"Emmm itu aja..hehe."
"Oke.."
__ADS_1
Astrid memanggil waiters yang sudah siap menjemput pesananku dan Astrid.
"Kamu lihatin apa?" Tanya Astrid
"Oh cuma lihat itu ada jembatan, ini rumah makan ada di tepi sungai.." Kataku,
"Kamu nggak suka?"
"Suka, malah ini romantis.. Walau banyak orang hahaha.."
"Emang ini dimana?" Tanyaku heran,
"Di Sayidan! Kamu belum pernah ke sini?" Tanya Astrid,
"Belum lah, ini aja baru pertama aku ke sini."
"Kirain pernah.."
"Enggak, aku aja nggak paham daerah Jogja kok."
"Eh minumannya dateng!"
Malam semakin larut, makanan juga sudah memenuhi perut. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang, tapi kami harus kembali mengantar Dita dulu ke kosannya yang tadi.
*****
"Kamu ngantuk?"
"Hmmm." Sahut Astrid,
"Ya uda kamu bobok aja, kita udah mau sampai kok.."
"Astrid ngantuk, tuh tuh tuh lihat yellow star.." Suara Astrid manja kalau udah ngantuk,
"Haha mana yellowstar?" Aku meyakinkannya,
"Hmmmm..." Sahut Astrid,
"I love you." Sambil mengelus pipinya,
Pasti ia sudah letih, setelah tadi mengayuh odong-odong, juga main masangin, makan jagung bakar, ke Sayidan juga.
*****
Entah ada hal yang membuatku tak ingat lagi berapa lama Astrid akan tetap di Jogja. Setiap harinya menemani dan selalu bersama. Meski kadang ada hal yang membuat kita bertengkar kecil, tapi itu hanya sementara. Karena aku selalu takut akan kepergiannya dengan cara yang tidak baik.
__ADS_1
*****
Hari demi hari, membuatku selalu mengingat banyak hal yang mungkin terlalu banyak memakan memoriku. Ya, Astrid merampas daya ingatku. Sebab ia selalu membuatku memikirkannya. Astrid dan Astrid, isi kepalaku di penuhi olehnya.
Duduk terdiam namun membuatku tersenyum. Aku melihat foto-foto kami berdua di dalam galeri handphone ku. Sejak dimulainya pergi ke Ketep, hingga hari-hari selanjutnya selalu ada foto kenangan yang terus tersimpan.
Aku mencoba mengirim pesan BBM padanya, rindu ini tak pernah berakhir.
"Sayang.."
Aku melihat pesanku sudah di baca, tapi kenapa tidak di balas? Aku coba kirim pesan lagi.
"Sayang.."
Hmm masih saja tidak dia balas. Ada apa ini? Ini membuatku cemas. Aku coba menelfonnya tetap saja dia tolak begitu saja.
"Kamu kenapa?" Aku mencoba bertanya,
"Ga papa" balasnya singkat,
"Aku mau ketemu."
"Ngapain?"
Aku semakin cemas, dan bingung. Ketika sifatnya telah berubah rasanya seperti sedang terjadi bencana alam. Sangat membuatku bingung!
"Kamu marah kenapa?"
"Nggak."
"Aku salah apa?"
"Entah."
"Jangan gitu sayang!"
"Terus?"
"Aku sayang kamu.."
"Oh."
Ini sih pasti marah, tapi aku yang dari tadi cuma duduk dan makan gorengan, nggak paham apa salahku dan dimana salahnya. Ini membuatku berpikir negatif tentangnya, perutku jadi panas. Apa dia sudah berubah pikiran? Aahhh penuh prasangka yang tak menentu. Aku ingin menemuinya, sebab masalah tidak akan selesai kalau hanya lewat chat saja.
__ADS_1