Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 17


__ADS_3

 


Hari sudah gelap, sunset telah berakhir. Kami tetap melanjutkan perjalanan menuju pantai. Hingga kami menemukan jalan masuk ke pesisir, lalu ku parkir motor itu. Astrid menungguku memarkir motor, aku berjalan menghampirinya. Aku berjalan begitu saja dengannya.


 


Langit yang hitam, hanya sedikit bintang yang menampakkan cahayanya. Angin berhembus cukup tenang, suara ombak membuat Astrid tidak sabar untuk segera mendekat. Seperti halnya seseorang yg telah lama tidak bertemu dengan temannya.


Hanya beberapa lampu yang menggantung di tiang lampu. Meskipun begitu masih saja gelap dengan cahaya yang remang-remang. Langkah kami menjadi pelan saat kaki kami menapaki pasir pantai. Tanganku yang tak sengaja menyentuh tangannya,ku beranikan diri menciptakan dua telapak tangan dan jemari beradu menjadi sebuah genggaman.


 


Tangan kami saling bergandengan. Aku genggam kedua jari tangannya saja. Kami mencari tempat yang kami rasa nyaman untuk kami duduki. Kami duduk di samping tiang berdiri, atau tongkat ya itulah karena memang tidak begitu jelas aku bisa melihatnya. Aku sedikit pusing menatap ke arah lautan. Karena sangat gelap. Astrid mengeluarkan Hp nya dari saku celananya.


 


"Ayo kita foto dulu!" pinta Astrid.


"Ayo." jawabku singkat.


Hanya beberapa foto kami ambil, dan kami kembali menatap lautan. Suara ombak yang bertabrakan, dan angin yang cukup tenang seperti setuju jika kami duduk di pasir itu.


"Aku baru pertama ke pantai malam gini, nggak keliatan pemandangannya." kataku.


"Iya, aku menyukai suara ombak, bikin aku tenang. Apapun itu asal tentang air, aku suka." jawabnya.


Kalimat itu membuatku merasa teduh, hanya ucapan seperti itu tapi aku menyukainya.


"Oh iya, kemarin kenapa nggak jadi renang?" tanyaku.


"Kemarin udah siap-siap mau renang, tapi turun hujan. Akhirnya Mas Riko ngajakin karaoke."


"Kamu nyanyi sama vidi?" tanyaku.


"Iya." jawabnya singkat.


"Vidi kemarin cerita, dan sempat foto bareng sama kamu."


"Vidi cerita gitu?" Astrid keheranan.


"Iya, dia bilang ada foto kalian saling menatap." jawabku.


"Oh iya, tapi aku biasa aja sama dia. Dia juga sempat menanyakan perasaanku ke kamu." sambung Astrid.


Aku hanya diam, mengingat apa yang di ucapkan Vidi tentang foto mereka berdua yang saling menatap. Cemburu? Ya itu memang yang ku rasakan. Karena aku saja yang lebih dekat dengan Astrid belum pernah melakukan foto seperti itu yang ku pikir itu berlebihan.


"Ya udah besok gantian, kita yang karaoke." kata Astrid sambil menatapku dengan senyumnya.


"Kamu suka karaoke juga?" tanyaku.


"Aku suka karaokean!" jawabnya penuh ketegasan.


"Aku suka nyanyi, tapi suaraku nggak bagus!" imbuhnya.


"Besok kita nyanyi bareng berati." kataku,

__ADS_1


"Aku juga suka billiar, kamu bisa?" tanya Astrid,


"Aku nggak bisa main biliar." kata ku.


"Di sana juga nggak ada cewek. Gila, coba bayangin cuma aku, cewek sendiri, yang waktu itu main biliar. Dasar Astrid ini parah." Astrid dengan semangat bercerita.


"Hahaha ya itu kan kamu." sambungku.


"Aku dulu sering main biliar, sekarang udah jarang."


Aku hanya diam melihat langit yang hitam dan sesekali menoleh ke wajahnya yang masih tak berhenti melihat ke arah tengah laut.


"Dulu waktu aku kecil, aku tomboy. Ikut tawuran juga, sampai keningku pernah sobek berdarah, ibuku sampai bingung ini gimana anak perempuannya bisa ikut-ikutan tawuran gitu."


"Hahaha.." aku tertawa mendengarnya.


"Nih masih ada bekas luka gara-gara ikut tawuran. Pokoknya Astrid kecil tuh nakal." sambil ia menunjuk keningnya.


 Suasana mulai hanyut, tak ada pembicaraan antara dia dan Vidi.


Aku melupakan cemburuku. Aku menikmati ia bercerita. Aku sambil merebahkan tubuhku di pasir itu. Mataku masih menatap langit luas yang gelap, aku menikmati hari itu. Terasa sangat tenang. Tak pernah ku pikirkan ini terjadi untuk pertama kali, malam hari di bibir pantai dengan wanita yang ku kenal baru beberapa minggu ini. Aku bangun dan bajuku kotor dengan pasir yang menempel di punggungku.


 


"Bajumu kotor itu." Astrid sambil menepuk punggungku supaya pasir itu runtuh.


Aku sempat menoleh ke belakang, mataku ku menatap tajam di area yang tidak terlalu gelap itu.


"Coba kamu lihat itu!"


"Coba lihat ke belakang!"


Astrid menoleh ke belakang, dan menatapku lagi.


"Hahahaha..." kami tertawa bersamaan.


"Kamu lihat nggak?" tanyaku.


"Iya lihat. Haha.." jawabnya.


 


Kami melihat dua orang sedang berciuman di gelap-gelap ini. Kami lalu berpindah tempat untuk menjauhi mereka. Saat kami duduk lagi, tiba-tiba Hp Astrid bergetar. Ia membuka pesan WA.


 


"Ayo kita pulang, temenku di kos lagi sakit. Dia nitip di belikan makanan." Astrid menjelaskan.


"Mau pulang sekarang?" tanyaku.


"Iya, aku paling nggak tega ninggal temen. Apa lagi dia lagi sakit. Temen satu kos ku." ujar Astrid.


"Ya udah ayo."


"Nanti kita nyari makan dulu buat temenku."

__ADS_1


 


Kami beranjak dari tempat kami duduk. Tangannya kembali menggandeng tanganku. Sebenarnya saat itu aku ingin lebih lama lagi duduk dengannya. Tapi aku mengerti keadaan itu. Kami berjalan menuju parkiran motor, dan pada akhirnya kami bergegas untuk pulang.


 


Kami meninggalkan pantai sekitar jam 20.00 WIB. Ini akan memakan waktu lama untuk sampai ke kosannya. Tapi Astrid memberi tahuku untuk berhenti di Gramedia. Entah apa yang mau di beli. Kami berhenti di Gramedia. Aku ikut masuk ke dalam di sebuah toko yang berisi penuh buku-buku. Akupun berjalan di belakangnya sambil melihat-lihat buku-buku yang ada di sana.


 


Astrid menuju ke salah satu area, dan di situ banyak Al-Qur'an. Dia memilih-milih, ku pikir dia mau beli Al-Qur'an itu satu. Tiba-tiba Astrid menghampiriku dengan satu Al-Qur'an yang ia bawa.


 


"Kira-kira bagus yang mana?" tanya Astrid.


"Mmm.. Kalau yang ini ada terjemahannya."


"Ya udah yang ini. Nanti minta tolong di kasih ke Cahyo ya?" Astrid mengambil yang ada terjemahnya.


"Oh ini titipan Cahyo?"


"Iya, jangan bilang Cahyo harganya segini."


 


Astrid sambil merobek label harga yang tertempel di cover Al-Qur'an itu. Aku kaget, kok udah di sobek. Nanti pas bayar gimana? Ahh ku pikir di kasir sudah ada daftar harganya jadi tidak masalah. Astrid berjalan ke kasir, aku mengikutinya. Benar saja, kasir itu mencari label harga yang tertempel itu, tapi udah di sobek. Haha aku hanya tertawa saat dia di tanyai kasir. Ia tampak kebingungan untuk mencari Al-Qur'an yang sama untuk di lihat harga yang tertempel di cover.


 


"Aduhh mbak udah saya sobek." kata Astrid dengan nada tertawa.


"Tadi ngambilnya yang sebelah mana?" tanya Kasirnya dengan senyum.


"Sebentar mbak, coba saya cek dulu ke sana ya?"


Astrid berjalan menuju tempat ia menyobek tadi, aku mengikutinya, siapa tahu ada yang bisa ku bantu. Astrid mengambil sobekan itu dan berjalan ke kasir lagi. Astrid juga menahan tawa. Haha, ada-ada saja.


"Aduhhh lupa, tadi kenapa aku sobek dulu?" Astrid bicara sendiri.


"Hahaha aku juga tadi heran."


"iiiih kenapa nggak bilang?"


"Kirain kamu tahu. Hahaha.."


"Ya udah, nanti kamu yang bawa, kasih ke Cahyo. Jangan kasih tau harganya. Bilang nggak usah di bayar."


"Ya udah iya.. Haha."


Kami bergegas pulang, hari juga sudah larut malam. Apa lagi temannya sedang sakit. Dalam perjalanan Astri diam saja.


"Hei.. Astrid!!" aku memanggilnya.


"Aku ngantuk, aku mau bobok." sahut Astrid sambil mengeratkan tangannya yang memelukku.

__ADS_1


Baiklah, aku membiarkannya tidur di punggungku. Sepanjang perjalanan ia terlelap. Sepertianya hari ini cukup melelahkannya. Hhm.. Selamat tidur.


__ADS_2