
Sore telah menjadi malam, gemercik air hujan menemani hatiku yang sedikit kelam. Aku terus menunggu hp ku berbunyi dengan harap Astrid mengirim pesan melalui BBM.
Tiba-tiba Rahmad dan Pak Agus heboh dengan video yang mereka lihat di hp nya. Saat aku ikut melihat video, ternyata mereka tidak jadi renang di karenakan hujan. Tapi mereka pergi karaoke bersamaan.
Aku membayangkan bagaimana Astrid tertawa dan bahagia. Aku semakin tidak percaya diri. Seharusnya aku yg membuat Astrid tertawa. Aku merasa kedekatanku dengannya tidak ingin tergantikan.
Handphone ku berdering, saat ku melihat layar ternyata Astrid mengirim pesan melalui BBM,
"Kamu kenapa?"
Aku letakkan kembali hp ku. Aku tidak membalas pesan itu. Aku masih merasa tidak enak hati dengan kenyataan yang terjadi.
"Gio, kamu kenapa?"
Aku menoleh ke depan kasir, mencari dari mana sumber suara itu. Suara yang sangat aku kenal. Jantungku berdetak cepat, saat aku melihat wajah manis yang sedang tersenyum. Astrid berdiri di depan kasir dengan menyapaku lembut. Aku menghampirinya, dan saat itu gejolak cemburuku sedikit reda. Lalu Astrid memesan dua paket makan.
"Kamu sama siapa?" tanyaku
"Sama Nita, di depan." jelasnya
__ADS_1
"Kamu mau makan?" tanyaku
"Iyaa, aku udah nahan laperrr dari tadi." dengan nada manjanya.
Setelah selesai memesan, ia duduk di meja yang ada di luar. Setelah makanan dan minuman siap, aku sengaja untuk mengantarnya, dengan harap bisa melihatnya lebih lama. Saat aku sampai di mejanya,ia sudah menungguku berdua dengan Nita yang duduk saling berhadapan. Astrid menyapaku dengan senyum itu.
"Gio, kamu galau? Tadi Rahmad yang bilang."
"Enggak kok, cuman belum makan aja aku jadi lemes." aku menjawab dengan alasan.
Aku tak kuasa menatap matanya, namun mataku tak ingin berpaling dari senyumannya. Mataku menoleh ke Nita yang sedang mendengarkan musik dari hpnya. Aku berdiri sudah cukup lama, aku harus kembali masuk. Tiba\-tiba Mas Matin menegurku dengan senyumnya, "Gio gio gio gio, lagi kerja lho."
"Gorio!!" dia memanggilku dengan seenaknya dia,
"Piye piye?" tanyaku saat aku berhenti di depannya sambil ku pegang nampan,
"Ngapuro yo, Ojo cemburu yo?" katanya,
"Ora kok," jawabku singkat,
__ADS_1
"Nek tak saranke mending koe ojo berharap ro Astrid." dengan tenang dia memperingatkanku,
"Emang nopo?" tanyaku sedikit kaget dengan ucapannya.
"Astrid uwis due pacar, mau aku sempet ngobrol-ngobrol ro Astrid."
"Iyo aku ngerti kok." jawabku.
"Aku mau nyanyi bareng, foto bareng, tatap-tatapan."
Aku hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Vidi. Aku tak ingin semakin cemburu dengan ceritanya. Ucapan Vidi mengganggu pikiranku.
Baiklah, jika ia sudah punya pacar. Aku tau ini salah, tapi inilah yg terjadi. Aku jatuh cinta padanya, memilikinya? Aku tak percaya diri. Aku memandang diriku sendiri, sangat tidak sebanding dengan Astrid. Dia mahasiswa, kuliah di Universitas Islam Indonesia, kampus elit untuk orang-orang yang punya uang banyak. Sudah pasti orang tuanya orang kaya.
Tapi, meskipun dia punya pacar, selama aku tidak merebutnya tidak apa-apa. Iya, aku memang mencintainya. Baiklah meskipun tidak bisa memilikinya setidaknya aku bisa mengungkapkannya, yang penting dia tau aku menyayanginya.
Terserah dia mau jawab apa, aku tidak perduli dengan jawabannya, yang penting dia tau aku menyanyanginya, itu saja. Aku tidak meminta jawaban. Cukup aku yang menyatakan, nanti pada waktunya.
__ADS_1