Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 23


__ADS_3

Aku mengusap keringat di keningku, kala aku sedang mencuci rice cooker yang biasa untuk memasak nasi. Semangat kerja ku mungkin sudah tersisa 45% dari biasanya aku melakukan pekerjaanku. Siang itu matahari juga sudah berada di atas, benar\-benar gerah. Apa lagi saat rekan kerjaku mengeraskan suaranya dari dapur memanggil namaku. Entah aku tidak begitu mengerti saat aku masih mencuci.



"Waaaaaa Gio ini.." kata Mas Agus Pm dari dapur, "itu Astrid kan?" begitulah yang ku dengar dari tempatku mencuci. Aku yang mendengar nama Astrid, mataku menatap jauh ke luar. "Wahhhhh panas iki.." Mas Agus Pm mengeraskan suaranya. Mataku terpaku menatap jauh ke luar, ketika ku lihat Astri yang turun dari motor sport berwarna merah dengan seorang laki\-laki. "Wahhh panasss.." begitulah suara dari teman\-temanku yang membuat nafasku terengah\-engah. Detak jantungku semakin cepat dan cepat. Aku meninggalkan pandangan itu ketika Astrid dan laki\-laki itu mulai menuju ke kasir.



Pikiranku tak menentu, apa lagi di tambah kompor\-kompor dari mulut teman\-temanku. Hatiku memang panas, bahkan aku tidak tahu siapa laki\-laki itu. Aku ingin menanyakannya, tapi tidak untuk saat itu.


"Wiss Gio, kalah saing karo Ninja." begitulah suara dari salah satu teman-temanku.


"Belum lagi yang stang bundar yang datang." sahut Dita yang menambah suasana semakin panas.


Aku diam lebih lama di tempat cucian itu, aku ingin mereka segera pergi. Jantungku masih berdetak cepat, ketika Astrid muncul di pikiranku. Aku memang cemburu, tapi sikap apa yang harus ku tunjukan padanya ketika nanti bertemu.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Astrid duduk di rak sepatu yang biasa kami duduki. Sore itu memang kami ada rencana untuk pergi ke Gunung Merapi Purbo. Saat aku berada di depan pintu hanya ada Cahyo. Astrid dan Dita sudah duduk di kursi konsumen yang tak jauh dari rak sepatu. Mas Matin sudah siap untuk berangkat, Omes yang sudah berada di motornya menunggu kami yang masih bingung.


__ADS_1


"Aku sama mbak Astrid aja." kata Dita. Mendengar kata itu aku semakin tidak menentu, aku hanya berharap Astrid datang dan mengatakan sesuatu tentang kejadian tadi saat ia datang dengan cowok. Aku bahkan membuang tatapanku kala aku tanpa sengaja menatapnya. Tidak ada sepatah kata yang mampu ku ucapkan untuk membuka pembicaraan, menyapanya pun terasa berat. Tidak ada senyum yang bisa ku beri untuknya, aku seperti langit yang tertutup mendung.


Cemburuku menjadi sebeuah kecewa, ketika aku ingin harusnya Astrid memboncengku. Aku menyalakan mesin motorku dengan rasa malas. Aku hanya memakai kaos pendek saja, celana jeans panjang dan helm. Aku tak menghiraukan apa yang akan terjadi nantinya.


"Gio.. Jaketnya di pakai." Astrid membuka percakapan, dia membawa jaket milikku. Dia mau memberikan jaket itu supaya aku tidak kedinginan. Aku menolak dengan jawaban singkat," nggak usah". Aku pikir jangan sampai kata-kataku melukai hatinya. Aku lebih perduli dengan gengsiku. Jelas ini bukan salahnya, aku yang berharap lebih padanya.


"Gio ngambek.." Mas Matin meledekku. Ya, aku ngambek, karena Astrid yg di bonceng cowok lain, dan aku cemburu karena itu. Dan kecewa karena Astrid tidak menjelaskan apa\-apa. Aku kecewa karena terlalu tinggi harapanku.


Akhirnya kami semua berangkat. Aku melaju dengan kencang untuk menyusul Mas Matin yang sudah berangkat terlebih dahulu. Ku tarik gas motorku semakin kencang, aku hendak menyalip sebuah mobil di depanku, seketika aku menginjak pedal rem ku saat tepat di depanku sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Aku membelokkan sedikit motorku, tepat aku di tengah antara dua mobil itu. Jika saja motorku sedikit lebar, aku sudah terpental karena terserempet mobil itu.


Hatiku yang panas mematikan rasa takutku dalam insiden itu. Aku terus saja melajukan motorku untuk mengejar Mas Matin yang menjemput pacarnya. Sedikit ku lirik spion motorku, untuk memastikan jarak dengan yang di belakang tidak begitu jauh.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



"Yang itu namanya Omes!" Mas Matin memperkenalkan kami,


"Yang itu Cahyo, itu Dita, yang itu Astrid, dan yang lagi ngambek itu Gio." begitulah ia memperkenalkan kami semua.


Aku tetap diam di atas lava yang membeku itu, mataku terpaku hingga jauh menikmati pemandangan alam yang menakjubkan. "Ayo foto bareng!" Ajak Omes yang sudah duduk memegangi tongsis yang entah ia pinjam dari siapa. Kami semua mendekat dan menghadap ke kamera. Aku sedikit terkejut saat Astrid duduk di sampingku.

__ADS_1


Aku tetap terdiam, menunggu ia membuka obrolan. Tapi ia hanya duduk di sampingku dengan masih memeluk jaket yang tak lain itu milikku. Jaket biru abu-abu yang cukup tebal untuk bisa menghangatkan tubuhku.


Kami berlalu melanjutkan perjalanan. Lebih sulit dari yang ku kira untuk mengendarai motor sampai di puncaknya. Aku berhasil menuju puncaknya. Sungguh itu pemandangan yang menakjubkan. Seperti padang rumput yang luas, tapi terdapat jurang yang sangat tinggi di sekelilingnya.



Gasebo atau pendopo, entahlah itu. Tapi itu ada di antara semak\-semak itu. Aku merebahkan tubuhku di semak\-semak itu, mataku menatap langit yang mulai berwarna jingga. Dan beberapa yang lain sedang menikmati sunset. Cukup jelas di lihat dari atas gunung ini, tapi aku memilih terlentang menatap langit jingga dengan angin yang cukup kencang. Aku kedinginan, tapi aku gengsi untuk meminta jaketku. Aku yang mendiamkannya sejak tadi, dan dia masih mau membawa jaketku. Di bawa kesana\-kemari memeluk jaketku.



Langit sudah mulai gelap, kami hendak kembali ke gasebo. Aku berjalan paling belakang, aku menatap Astrid yang hanya melewatiku tanpa mengucap kata. Ku pikir dia akan berhenti dan berbalik menatapku. Ternyata salah, ia berjalan tanpa memperdulikan aku.



Aku memberanikan diri meraih tangannya. "Astrid.." tangannya ku pegang dan ia berbalik menatapku. Matanya membulat menatapku. Tanganku lebih lama menggenggam tangannya, dalam hati aku ingin meminta maaf.


"Jaketku dong.." aku sambil nyengir meminta jaketku. Dia berikan dengan ekspresi yang datar, dan berbalik mau meninggalkanku. Tangannya ku tahan, dan ia kembali menatapku. "Maaf." aku mengucapkan dengan sangat lirih.


Astrid menganggukan kepalanya tanda ia mengiyakan permintaan maafku. Kami segera menyusul mereka yang sudah duduk berkumpul di gasebo. Langit juga sudah sangat gelap, hanya lampu\-lampu penduduk yang begitu jauh hingga terlihat begitu kecil. Astri duduk bersender di gasebo, aku mendekatinya dan duduk di sampingnya.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2