Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
Bab 14


__ADS_3

 


Rabu, 15 Januari 2017. Hari itu ku pikir Astrid sudah bisa masuk kerja kembali. Ternyata masih besoknya. Aku masih berbaring di kamar mess, dengan selimut yang masih membungkus tubuhku.


Mataku menatap langit - langit yang ada di atasku. Aku mulai melamun apa yg baru saja ku alami hari kemarin. Seperti bukan hal yang nyata. Ahhh... Aku menghela nafas panjang. Hari ini aku masih libur. Dan aku bersiap - siap untuk pulang ke Magelang, dengan harapan tidak turun hujan.


Pulang ke Magelang, di rumahku kartu handphone ku tidak menangkap sinyal. Jadi akan sulit jika ada BBM yg masuk. Jadi harus SMS kalau mau menghubungiku. Hanya beberapa dari kartu yg lancar untuk ku gunakan saat di rumah. Aku pulang ke rumah dan nampak berjalan normal. Aku tidak bisa menghubunginya. Dan tidak ada chat BBM yg masuk.


Kamis, 16 Januari 2017. Hari itu aku masuk shift sore, jam 15.15 WIB. Aku menyalakan motorku untuk ku laju dari rumahku sekitar jam 14.00 WIB. Aku melaju motorku dengan cukup cepat untuk bisa segera sampai di lokasi.


Sampai di Jakal jantungku sedikit berdegup lebih cepat, saat aku mengingat nama Astrid dalam pikiranku. Sudah sampai di parkiran tempatku bekerja. Aku memarkir motorku dan melepas helm, mataku otomatis menatap motor Honda beat berwarna hitam, tidak lain itu adalah milik Astrid.


Aku segera masuk ke dalam, dan aku mencari wajah manis itu. Ya, tepat saat aku mau presensi, Astrid sedang duduk di samping mesin kasir itu dan menatapku sengan senyum manisnya. Dia menyapa dan berkata," selamat sore Gio."


 


Aku tersenyum padanya dan bergegas untuk segera ganti baju. Di sana sudah terdapat Mas Matin dan rekan-rekan kerjaku yang sudah berkumpul untuk berdoa bersama.


 

__ADS_1


Saat aku sedang preapare di bagian kerjaku, aku mendengar Astrid yang sedang bercakap dengan Nita. Karyawan yg belum lama ini masuk sebagai karyawan baru. Mereka berencana untuk pergi renang. Ada Riko, Cahyo, dan Vidi. Mereka akan pergi berlima untuk renang. Aku sedikit merasa ada yg aneh di hati, seperti tidak merelakan kalau Astrid pergi tanpa ada aku. Terlebih Vidi juga sedang berusaha mendekati Astrid. Aku merasa hatiku mulai memanas. Ya, aku cemburu. Ada rasa yang mulai menyelimuti hatiku, perasaan di mana aku merasa nyaman saat bersamanya.


 


"Mau kemana?" tanyaku ke Astrid.


"Mau renang bareng-bareng, aku suka renang." jawab Astrid.


"Siapa aja yang ikut?"


"Nita, Mas Riko, Cahyo, sama Vidi." jelasnya.


"Gio nggak boleh cemburu!" tiba-tiba Riko mendekatiku, seakan ia tau kalau aku mulai ada rasa gundah.


"Gio nggak boleh cemburu, kemarin udah pergi seharian sama Astrid, sekarang gantian pergi sama aku hehehe..." suara Riko kembali memecah.


Aku hanya tersenyum dengan menahan gejolak cemburu di hatiku. Apa lagi saat mereka mulai meninggalkan tatapan mataku.


 

__ADS_1


Aku memang merasa cemburu, tapi hubungan kami apa? Tidak ada hak lebih untukku mencegah atau mengutarakan bahwa aku cemburu. Sore itu benar - benar membuatku terdiam sepanjang jalannya pekerjaan. Mulutku diam tapi suara pikiranku terus berisik mengganggu ku untuk terlihat baik - baik saja.


 


"Ojo galau to Yo!" Rahmad mencoba memecahkan keheningan ku. Mungkin Rahmad mengerti kalau aku sedang gundah. Ia sedang duduk dengan memainkan handphonenya.


Tanganku berlalu meraih handphone ku yg ku letakan di dekat pintu. Aku mencoba membuka Facebook, aku menulis nama Astrid di kolom pencarian. Aku buka profilnya, terlihat foto dirianya dengan lampu-lampu di sebelahnya.


Aku geser ke atas, untuk sedikit melupakan rasa cemburuku.


 


Seketika aku berhenti menggeser layar Hpku, bola mataku membulat dan terpaku, saat aku menemukan tulisan yg menjadi status facebooknya.


 


"Tuhan jagalah perasaan ini.."


Jantungku semakin berdetak cepat. Tanganku sedikit gemetar. Aku terus menduga dan berharap status ini untukku. Aku yakin status itu untukku. Aku bertanya-tanya, apakah ia merasakan hal yg sama denganku?

__ADS_1


__ADS_2