Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
Bab 57


__ADS_3

Birunya langit di pagi itu membuat kami tampak lebih bergairah untuk segera melanjutkan perjalanan.


Selamat tinggal Grenden, sampai jumpa di lain waktu. Semoga akan ada cerita selanjutnya yang akan terukir dengan orang yang sama. Ya, begitulah harapannya. Kesederhanaan yang aku coba sajikan ini ternyata di luar dugaan. Tempat yang alami ini membuatnya begitu gembira. Meski di sisi lain ada yang membuatku merasa bingung juga. Terkadang sikapnya berubah dalam sekejap tanpa sebab yang ku ketahui.


Jika di bilang labil, ku pikir dia sudah dewasa. Dia bisa marah hanya karena dia berfikir negatif tentangku. Ya, baru asumsi nya dia sendiri, tapi bisa marah ke orangnya. Terkadang kesalah pahamanpun tidak bisa di hindarkan hanya karena jika ia bercanda pas lagi di ajak ngomong serius. Dan juga kadang kalau aku bercanda, ia anggap serius. Begitulah ia...


"Sudah siap?" Tanyaku sambil menyalakan starter motornya,


"Hayuk.." Jawabnya sambil merapikan jilbabnya,


"Jadi kita langsung menuju alun-alun kan?" Tanyaku,


"Iya.. Tapi kita harus mengejar waktu biar sampai di pantai nya dapet sunset!" Jelas Astrid,


Kami meninggalkan Grenden, meninggalkan suasana hening yang alami. Sunyi yang menenangkan untuk melupakan suasana kota yang cukup bising. Yang ku rasakan memang nyaman, udara yang sejuk dan segar yang terus mengikatku untuk selalu ingin terus menghirupnya. Pohon - pohon di sekeliling dan jalan aspal ini akan menjadi saksi dari perjalanan ku dengan Astrid dari Kopeng menuju Pantai Jogjakarta, wanita yang selalu semangat untuk menunjukan keceriaannya pada orang - orang sekitar. Itu aura yang menyenangkan...


Honda beat berwarna hitam masih menemani kami menyusuri jalan yang menanjak dan juga turunan. Dalam perjalanan ini membuatku berfikir tentang perasaan ini.


Apa lagi setelah ini? Memang ketika aku menyebut namanya saja hatiku bisa bergetar. Berada di dekatnya membuatku tidak ada lagi yang perlu ku fikirkan. Sampai hati ini juga terasa biasa saja. Merasa rindu ketika sedang jauh, merasa bahagia mendengar suara tawanya. Aku merenungkan apa semua ini akan berakhir setelah ia meninggalkan Jogja.


***********

__ADS_1


"Gio.." Astrid memanggil dari belakang,


"Hmm..?" Jawabku,


"Aku haus!" Katanya,


"Mau beli minum dulu?" Tanyaku,


"Nyari indomaret apa alfamart kita.."


"Oke, di depan itu ada Alfamart, kita berhenti situ aja!"


Waktu menunjukan pukul 12.00 WIB. Kami berhenti di Alfamart untuk istirahat, terik matahari yang membuat tenggorokan ini seperti kehilangan cairan sehingga kami memutuskan membeli minuman yang dingin.


"Ngekkkk"


Suara pintu Alfamart yang tampak seret ketika di buka oleh Astrid yang juga menggenggam dua botol minuman dingin. Ia berjalan mendekatiku dan meletakan dua botol minum itu di meja yang ada di depan ku. Astrid duduk di kursi kosong yang tadi. Wajahnya tampak lesu namun tetap menyegarkan bagi mataku.


"Hmmmmm... " suara Astrid setelah meneguk minuman dingin itu,


"Kita mau makan di mana?" Tanya Astrid sambil menutup botol yang ia genggam,

__ADS_1


"Kamu udah lapar?" Tanyaku,


"Iya, katanya mau ngajak makan mie ayam terenak nomor satu.." Katanya,


"Haha.. Iya, mau yang terenak nomor satu apa nomor tiga?" Tanyaku,


"Terenak nomor satu, di mana?"


"Ini sebentar lagi kita masuk di Muntilan." Jawabku,


"Yeeeeay..!"


"Ya udah kita lanjut aja kan?" Tanyaku,


"Hayukk..!"


Kami bergegas meninggalkan Alfamart. Memang hari ini sangat cerah, dan panasnya juga sangat terasa sekali. Dan kali ini kami menuju tempat makan, Mie ayam yang ada di Plazza Muntilan, Mie Ayam terenak nomor satu. Siapa yang mengklaim? Ya, aku sendir hahaha..


Karena menurutku di sana kuah mie ayamnya merasuk sampai ke dalam mie nya, potongan ayamnya juga lebih panjang - panjang, ada toping baksonya juga. Aromanya juga sangat lezzzzzzaaaaat.. Aku suka memberi peringkat dari kelezatan mie ayam yang menurutku enak. Kecocokan kami mengenai suka kuliner itu sangat menyenangkan, bukan karena suka keliling ke kuliner sih, tapi suka makan aja haha..


Astrid juga sama, dia suka makan. Dari tempat yang kami datangi, dia lebih suka makan di tempat yang sederhana. Pecel lele, angkringan, mie ayam, bakso, yaaa intinya dia memilih di tempat yang sederhana saja.

__ADS_1


*********


__ADS_2