
Banyak sekali orang yang berusaha berjalan lurus tapi malah berbelok ke berbagai arah, jauh dari tujuan. Tentu saja berjalan tanpa melihat pasti jauh lebih sulit ketimbang bila ada obyek yang terlihat. Dipercaya, hanya orang berhati bersih yang bisa tembus melewatinya. Dalam pengertian yang lebih luas, permainan ini menyampaikan pesan bahwa untuk mencapai apa yang diinginkan, maka kita harus berusaha keras dan tetap menjaga kebersihan hati, ya percaya atau tidak itu kembali ke diri masing-masing.
Aku menghentikan Omes ketika ia telah semakin jauh dari pohon ringin kembar itu.
"Buka Mes..!" Kataku supaya ia membuka kain penutup mata itu,
"Lahh kok tekan kene?" Tanya Omes yang merasa heran,
(Lah kok sampai sini?)
"Hahaha.. Cen ket mau melakumu belok terus kok!"
(Hahaha.. Emang dari tadi jalanmu belok terus kok)
"Yok gantian...asem ki malah rene!"
(Yok gantian.. Asem malah ke sini)
Aku dan Omes kembali menuju tempat Astrid dan Dita berdiri menunggu kami.
"Sopo iki meh gantian?" Tanya Omes,
(Siapa ini yang mau gantian?)
"Kene Mes aku tak jajal.." Aku meraih kain penutup itu dari genggaman Omes,
Kemudian Omes mengikat penutup itu di kepalaku. Aku sedikit berimajinasi bahwa ada Astrid di sana. Di antara dua pohon ringin itu. Aku berfikir oke aku bisa sampai sana. Aku mulai berjalan dan di dampingi Omes yang menjaga supaya tak ada orang yang ku tabrak. Aku berjalan agak cepat karena aku ingin tahu dimana aku akan berhenti. Gelap sekali aku tak melihat apapun, hanya hitam seperti warna kain yang nenutup mataku ini.
"Terus.. Teruss..."
Aku mendengar suara Omes yang menjaga jalanku, dan suara Dita, Astrid juga tapi dari kejauhan. Aku agak was-was kalau aku menabrak pohon. Dari kakiku aku coba merasakan jalan yang ku lalui agak bergelombang, dan sedikit aku menyentuh seperti akar pohon yang menggantung. Aku berhenti, lalu ku buka kain penutup mataku, dan....
"Lah opo iki?"
Aku melewati pohon ringin tapi dari samping, bukan tengahnya. Haha ternyata seperti tembok tapi pendek. Aku tertawa dengan Omes, dengan sambil mengatakan
"Ah ini nggak bener.. Masa belok juga."
Yah aku dan Omes kembali lagi ke tempat semula untuk bergantian pakai.
******
Setelah Dita, kini Astrid yang terakhir. Dia juga ingin mencoba tantangan masangin juga.
"Kenapa yang cowok beloknya ke kanan terus?" Tanya Astrid sambil mengikat penutup mata itu.
"Iya mbak, yang cewek malah ke kiri.." Sahut Dita,
"Berati yang arahnya berlawanan mereka nggak jodoh haha.." Gurau Omes,
"Ayo siap mulai?" Tanyaku ke Astrid,
"Semoga berhasil mbak Astrid.." Kata Dita,
"Nanti kalau berhasil dapat Gio..haha" imbuh Omes,
__ADS_1
"Bismillah semoga berhasil.. Jagain yaaa!"
Astrid mulai berjalan pelan, langkahnya sangat berhati-hati dan sepertinya agak takut nabrak juga."
"Gio kamu dimana?" Tanya Astrid,
"Aku jagain di sini kok.." Sahutku,
Aku perhatikan wajahnya, meskipun matanya tertutup tapi bibirnya tetap senyum.
"Bentar-bentar, berhenti dulu.." Kataku,
"Kenapa berhenti, ada apa?" Tanya Astrid,
"Itu ada orang lain yang lewat juga.." Kataku,
"Cewek apa cowok?" Tanya Astrid,
"Haha cewek.."
"Kamu pasti nglihatin kan?" Tanya Astrid,
"Enggak lah, kan jagain kamu."
"Tuhkan dasar cowok kalau ada cewek cantik mah gitu.."
"Haha apaan sih, orang dia juga di jagain cowoknya kok.."
"Dudududu..."
"Udah sampai di pohonnya belum?"
"Belum, masih bentar lagi.."
Aku berjalan mendahului Astrid, aku menunggu di samping pohon ringin yang sebelah kiri. Semakin dekat Astrid berjalan, aku yakin dia akan sampai di depanku.
Brukkkk...
Astrid membuka penutup matanya dengan tangan kanannya dan tiba-tiba ia memelukku. Aku melihat sepintas bahwa ia tersenyum dan memeluku. Jantungku tiba-tiba berdegub kencang, di sini, di tempat ini, tiba-tiba ia memelukku. Rasa nyaman, dan ketenangan yang luar biasa baru saja ku rasakan. Meskipun pelukannya hanya sebentar tapi rasanya ini sangat luar biasa.
Aku menatapnya yang sedang melepas kain penutup mata itu, matanya lalu menembak balik mataku. Ya, sempat ku perhatikan pipinya agak merona. Meski agak gelap karena di samping pohon, tapi cahaya lampu-lampu di sekeliling alun-alun itu sedikit memberi cerah terang meski ini tampak seperti sayu-sayu.
"Kamu kenapa?" Tanyaku,
"Hah kenapa?" Ia balik bertanya,
"Ya kamu kenapa?" Tanyaku balik berharap dia menceritakan sesuatu,
"Nggak apa-apa.." Jawab Astrid sambil menoleh ke arah Omes dan Astrid,
"Yuk kita balik ke sana.." Kataku,
Aku dan Astrid segera kembali ke tempat semula.
******
__ADS_1
Berbagai kalangan dan usia bercampur menjadi satu. Hari mulai beranjak malam, bahkan ada anak-anak kecil dengan diantar orang tuanya datang bermain, berlarian mengejar ratusan gelembung sabun yang ditiup penjajanya, atau berteriak-teriak melambaikan tangan memanggil layang-layang aneka rupa di angkasa mulai beranjak pulang dan digantikan muda-mudi yang datang untuk menghabiskan malam. Semakin malam suasana semakin ramai.
Sepeda tandem dan odong-odong berlampu kerlap-kerlip mulai menghiasi malam yang menjadikan suasana semakin syahdu.
"Ayo kita naik odong-odong yuk?" Ajak Astrid,
"Ayok, berapa sih harganya..?" Tanya Omes,
"Dah gampang nanti kita patungan aja.." Jawab Astrid,
"Ayo Mas, mau nggak?" Tanya Dita menoleh kepadaku,
"Ya ayo, kita milih yang bagus bentuknya.." Jawabku,
"Yang musiknya jedag jedug gitu.." Sahut Omes lagi,
"Kayaknya bisa di sambungkan ke Hp kok.." Imbuh Dita,
"Ya udah kita ke sana dulu.." Omes sambil melangkah menuju ke odong-odong yang sedang menunggu penumpang yang mau menyewa.
Akhirnya setelah memilih odong-odong, dan negosiasi dengan abang-abang yang punya odong-odong akhirnya kami memilih satu. Kami memilih yang muat empat orang aja. Omes dan Dita duduk di depan sambil nyetir, aku dan Astrid duduk di belakang untuk ikut membantu mengayuh odong-odong yang meriah karena lampu-lampunya.
"Awas Mes nabrak..hahaha.."
Canda tawa kami di dalam odong-odong ini sangat menyenangkan. Beberapa kali kami berfoto bersama.
"Ayo kita foto.." Astrid menyiapkan handphone asus miliknya,
"Ayo.. Yang banyak." Kataku,
"Aku hari ini sedang merasa cantik." Kata Astrid,
"Iya, kamu hari ini bener-bener cantik." Kataku,
"Malam ini aku sangat bahagia.. Kamu gimana?" Astrid bertanya padaku,
"Dari setiap hari kita ketemu, aku selalu merasa bahagia kalau ada kamu. Tapi untuk malam ini aku merasakan kebahagiaan yang lebih."
"Kamu tahu?" Astrid menatap tajam,
"Hmm?" Sahutku,
"Saat aku peluk kamu tadi walau awalnya aku mau jatuh terus kamu didepanku menangkapku, aku merasa nyaman banget. Sangat nyama." Kata Astrid,
"Iya, sama.. Aku juga merasakan hal yang sama. Sangat nyaman. Bahkan rasanya nggak ingin dilepas."
"Nyaman nyaman nyaman.." Sahut Astrid,
"Hahaha.. Aku suka itu."
"Nyaman nyaman nyaman?" Astrid sambil tersenyum,
"Haha, udah.."
Setelah dua kali putaran, aku dan Astrid gantian yang didepan. Bergantian menyetir dengan Omes. Lumayan bisa olah raga malam dengan mengayuh odong-odong, meskipun berempat tapi lumayan juga.
__ADS_1
******