Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 21


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, aku masih heran mengapa Astrid tiba-tiba langsung memeluk ibu. Aku terbengong sepanjang jalan, heran dan senang mengapa bisa begitu.


"Aku masih ingat kejadian tadi." kataku.


"Kejadian apa?" tanya Astrid.


"Pas kamu meluk ibu tadi." jawabku.


"Iya, aku pertama lihat ibu, aku langsung menganggap oke dia juga ibuku. Aku menyayanginya!" katanya.


"Hhm.." aku hanya tersenyum dengan jawaban itu.


Tidak pernah terbesit di pikiranku bahwa ini akan terjadi. Tapi, semoga hal baik bisa terjadi di masa depan.


"Kita mau kemana?" tanyaku.


"Terserah aja mau kemana." jawabnya.


"Kamu waktu itu karaoke di mana?" tanyaku.


"Kamu mau karaoke?" Astrid balik tanya.


"Sekarang udah malam." jawabku.


"Ya udah besok aja kita karaoke di tempat yang lain." katanya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Aku mau ngajak kamu ke yang lebih spesial." jawabnya.


"Hhm.."


Mendengar itu hatiku berdetak dengan cepat, aku suka sesuatu yg berbeda dari yang lain. Apa lagi itu spesial.


"Besok kita beda shift." kataku.


"Iya, aku masuk pagi." jawabnya.


"Jangan telat terus.." kataku.


"Haha aku emang paling sering telat, aku harus nyiapin makan emblot dulu, harus bersihin pup nya emblot dulu."


"Hhm.. Tapi nanti di potong lho!"


"Aku mending di potong aja, yang penting kucingku nggak kelaparan hahaha.."

__ADS_1


"Hahaha.."


Aku sedikit lupa kala ia menceritakan Jafar. Tawanya mampu meredakan hati dan pikiranku yang sedang kacau. Mungkin ia ahli meredakan suasana hati seseorang. Tingkahnya membuat orang mudah akarab dengannya. Asal jangan mendekati hatinya. Aku percaya bahwa tak sembarangan orang mampu menyentuh hatinya. Tapi aku, aku yang beruntung atau memang aku yang di spesialkan.


"Suatu saat aku akan mengajakmu ke tempat yang makanannya enak, dan mungkin itu kejutan."


"Makan enak?" tanya Astrid.


"Iya, kan kamu suka makan!"


"Mauuuuu... Di mana?"


"Besok kalau kita satu shift lagi kita ke sana."


"Hayuuuukk..."


"Hahahaha.."


Nada bicaranya yang sedikit manja membuatku semakin penasaran, gaya bicaranya membuatku selalu ingin mendengarnya berkali-kali.


Malam semakin larut, sekitar pukul 20.00 WIB kami melewati suasana kota Jogja. Mobil dan motor masih ramai saling mendahului, ya beginilah kota Yogyakarta. Orang mengatakan Jogja itu istimewa menyimpan cerita di setiap sudut-sudut kota pelajar ini. Adapun sedikit perbedaan pendapat untukku. Yang menjadikan Jogja istimewa adalah adanya orang teristimewa yang senantiasa menemani mengukir sebuah kenangan bersama.


"Kamu udah ngantuk?" tanyaku.


"Emmm belum kok." jawabnya.


"Besok aku masuk pagi.."


"Oh iya ding."


"Emang mau kemana?" tanya Astrid.


"Nggak tahu, kemana aja asal sama kamu."


"Dududududu..."


"Ahahaha.."


Aku terus melajukan motor hingga melewati kosan Astrid. Aku sengaja melaju hingga menjauh dari kosannya. Mungkin sedikit egois, karena aku tak membiarkan ia kembali ke kosnya.


"Gioooo..."


"Iyaa.."


"Kosku udah kelewatan.."

__ADS_1


"Iyaa.."


"Ishh kok cuman iya..!!"


Aku masih saja melajukan motorku, aku tahu ia akan protes karena ia mungkin sudah ngantuk. Tapi, maafkan aku yang mengganggu hanya karena hati yang terus merindu. Mungkin begitu saat aku terus dengannya.


"Bener-bener ni anak." protes Astrid.


"Bentar aja.." kataku.


"Aku pengen bobo.."


"Iya kita balik kalau udah nyampai depan SC."


"Bobo... Bobo.. Bowbok!"


"Haha iya iya.."


Aku memutar arah kembali menuju kosannya. Aku benar-benar tidak ingin berpisah dengannya, tapi apa aku punya hak untuk meminta lebih dari itu? Sepertinya aku terlalu jauh untuk memikirkan perasaan ini. Tapi, dari status FB yang pernah ia buat (Ya Tuhan, jagalah rasa ini.) aku meyakini bahwa ia ada rasa denganku.


"Nah udah sampai.." kataku.


"Makasih Gio..Gio..Gio."


"Besok jangan telat!"


"Aku usahakan enggak."


"Ya udah, aku pulang ya?"


Tepat di depan gerbang kosannya, tidak ada orang lain selain aku dan Astrid. Astrid berdiri di depanku yang masih duduk di atas motor. Kami saling berjaba tangan. Aku menarik tangannya ke pipinya.


"Nggak mau.. Kamu lebih muda dari aku." katanya.


"Memang kenapa?" tanyaku.


"Dek Gio nggak boleh nakal."


"Haaaaaa.." aku menarik tanganku.


"Hahaha.." Astrid tertawa.


"Ya udah selamat malam, sampai besok."


"Daa.. Nanti kalau belum bobok, aku chat kamu." katanya.

__ADS_1


"Ya udah daa.."


Aku menyalakan mesin motorku, aku menunggunya masuk kosnya. Melihatnya berjalan saja aku bisa terpana. Mungkin aku benar-benar telah jatuh cinta padanya. Aku kira dia memang sudah paham kedekatan kami. Baiklah, aku harus kembali ke mess.


__ADS_2