Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 11


__ADS_3

 


Langit memberi kami sedikit keringanan, hujan cukup reda. Kami melanjutkan perjalanan, dalam gelap hening malam, hanya satu atau dua mobil yg melintas berpapasan dengan kami. Ku pikir siapa juga yg mau pergi malam - malam begini dengan hujan -hujan seperti kami, tapi inilah kami. Hujan yg sejak sore tak membiarkan kami untuk menempuh perjalanan dengan mudah. Dingin yg menusuk sampai kulitku, air hujan yg mengguyur kami sepanjang perjalanan.


 


Menyusuri kembali jalan yg gelap, bahkan tak ada orang yg duduk di depan rumah mereka. Kami hanya berdua saja yg menikmati dinginnya malam itu, derasanya hujan di malam itu.


 


"Gio, nggak boleh sakit." Ucap Astrid.


Aku mendengar suara itu sedikit terganggu dengan suara derasnya air hujan yg tak kunjung mereda. Aku hanya diam dan fokus pada jalan yg tergenang air. Bukan aku mengabaikan, aku hanya tersenyum mendengarnya, namun tidak ku jawab.


Kami sudah sampai di jembatan Kali Elo, aku mulai mengencangkan laju motorku, Astrid mengeratkan pelukannya. Meskipun hujan masih mengguyur dengan derasnya, dingin yg mulai menusuk sampai tulangku. Aku masih harus membawanya sampai ke Alun -alun. Aku hanya berharap Astrid bertahan sebentar waktu untuk bisa sampai tujuan.


Ku lihat Kompor raksasa dari kejauhan yg menandakan sudah mau sampai. Entah itu tandon air atau kompor, banyak orang bilang itu kompor raksasa atau toren, jadi ku sebut saja itu. Karena di sana jalan hanya satu arah, jadi aku harus memutar dulu untuk mencari tempat berteduh.

__ADS_1


 


"Gio, aku mau pipis! Ayo cari kamar mandi."


"Ya udah ayo kita cari."


 


Kami berhenti di samping toren raksasa tersebut. Tiba - tiba dia mengajakku untuk parkir di masjid samping Alun -alun. Kami bergegas menuju Masjid. Dia lari menuju toilet. Aku menunggunya di serambi masjid. Aku lepas sepatuku yg berisi penuh air, aku lepas jaketku yg basah. Dan aku duduk menunggunya selesai.


 


 


"Kamu basah semua, ini pakai ini buat selimut."


 

__ADS_1


Dia mengambil mukena dari dalam tasnya, ada bagian atas dan bawah, salah satunya dia kasihkan. Dan kami duduk berdekatan dengan jarak satu meter, dan bersandar di penyanggah masjid yg terbuat dari semen. Begitu aku mulai menyelimuti badanku dengan mukena, aku menatap gadis yg bernama Astrid ini. Dia sudah terlelap dengan cepatnya. Mungkin dia lelah seharian jalan-jalan denganku.


Aku khawatir akan keadaannya jika dia kembali harus sakit. Mukena yg ku gunakan untuk selimut, ku raih dan aku mendekatinya. Aku selimutkan padanya dengan sangat pelan. Jangan sampai ia terbangun karena gerakanku, dia sedikitpun tak terbangun. Justru ia semakin lelap dalam tidurnya. Aku menjaganya dari sampingnya, bersandar di penyanggah yg sama, namun tidak saling menempel.


Jika di tanya dingin atau tidak, pastilah itu dingin sekali, sangat dingin. Kaos yg ku pakai sangat tipis, dan itu basah, celanaku pun basah, aku tidak peduli pada jaketku yg basah tadi, masih di teras masjid bagian luar, dekat parkiran yg di situ ada sepatuku dan sepatu Astrid juga. Aku mulai terlelap dan aku ikut tertidur di sampingnya. Dingin dan itu tidak nyenyak. Ah yang penting aku menemaninya itu sudah ku lakukan. Mataku tak bisa terpejam sepenuhnya, sekali-sekali aku membuka mata karena terganggu dengan udara dingin itu, dan orang-orang yg berlalu-lalang.


 


Ku lihat Astrid membuka matanya dan menolehku, dia menatapku dengan mata sayu. Ah mungkin ia benar - benar lelah. Biarkan saja ia tidur lebih lama lagi. Tapi suara berisik dari parkiran membuatnya enggan untuk kembali terlelap. Dia menatap jam yang ada di dinding masjid itu. Sekitar jam 22.00 WIB.


 


"Pulang yuk!" Pinta Astrid dengan nada suara yg cukup lemah.


"Pulang kemana?" pertanyaanku meyakinkan bahwa ia bicara dengan sadar.


"Ke Jogja lagi. Ke Jakal."

__ADS_1


Aku sedikit menghela nafas, mengingat perjalanan Magelang - Jogja bukanlah jarak yg dekat. Tapi, ini tanggung jawab juga, aku harus mengantarnya kembali ke Jogja, ya ke Kosnya.


__ADS_2