
Hari ke tiga.
Hari itu adalah tanggal 30 Desember 2016.
Sore hari ketika semua sudah siap melakukan rutinitas di tempat kerja, aku masih masuk shift sore, begitupun juga Astrid.
Ketika itu aku sedang posisi santai, aku lihat Astrid sedang berbicara dengan Mas Matin. Entah, apa yang mereka bicarakan. Tiba-tiba Mas Feri datang menghampiriku.
"Gio, koe gelem tukaran shift karo Astrid ora? soale nek tukaran karo aku ra mungkin, kandidat sek isoh di jak tukaran kan ,aku, koe, karo Omes. Nek aku ra isoh di jak tukaran." (Gio kamu mau tukaran shift sama Astrid nggak? Soalnya kalau tukaran sama aku gak mungkin, kandidat yg bisa di ajak tukaran, aku, kamu, sama Omes.)
Aku pun langsung menuju Omes, menawarkan kalau tanggal 31 bisa tukaran shift enggak. Tapi lagi-lagi Omes mengatakan tidak bisa, karena sudah ada janji.
Kemudian aku di panggil Mas Matin. Di situ ada Mas Matin dan Astrid yang sedang memandang kalender.
"Gimana Yo?" tanya Mas Matin.
"Gak ada yang bisa di ajak tukaran." jawabku.
"Kalau gak bisa ya udah gak usah aja." sahut Astrid.
__ADS_1
Sebenarnya aku tidak ada acara, entah mau kemana juga malam tahun baru nanti. Aku sudah booking tanggal 31 Desember 2016 aku minta masuk Shift 1, supaya bisa pergi menikmati tahun baru. Tapi, aku lihat wajah Astrid yang sudah ada janji aku pun merelakan tanggal itu untuk masuk malam.
"Mbak Astrid, kamu ada acara apa?" tanya ku.
"Sebenarnya aku malam tahun baru itu ada acara Camping, dan aku sudah bayar." jelasnya.
"Ya udah, kamu masuk pagi aja, biar aku yang masuk malam." kata ku.
"Yang bener? Kamu mau?" seakan Astrid tidak percaya dengan keputusanku. Dia tampak gembira, dan tingkahnya sangat lucu.
"Baiklah besok aku akan traktir kamu." katanya sambil banyak gerak.
"Traktir? Boleh deh. Berdua kan?" tawarku.
"Semuanya dong, bareng-bareng." jawabnya sambil senyum.
Aku bicara dalam hati, dasar kebiasaan orang kota, selalu saja berkaitan dengan traktir. Tapi aku senang kalau dia senang.
"Gio, tapi pacar kamu gak marah kan, takutnya nanti kalian gak ketemuan terus marahan gara-gara aku, lagian kamu booking tanggal itu sudah dari bulan November kan?"
__ADS_1
"Haha, aku gak punya pacar. Udah gak apa-apa."
"Makasih Gio Gio Gio." kata Astrid sambil tersenyum lebar, lalu ia pergi.
Aku hanya tersenyum dengan apa yg dia katakan, aku tidak merasa keberatan melakukan itu. Aku malah ikut senang. Tiba-tiba Mas Matin mendekat.
"Gio, kamu pahlawan." dia sambil menepuk pundakku pelan.
Aku cuma nyengir mendengar Mas Matin bilang begitu seakan meledek.
Aku hanya gak tega karena dia bilang sudah bayar. Karena ku pikir kehilangan uang itu cukup berat baginya.
Waktu berlalu, semua masih terlihat normal seperti biasa, sampai tiba akhir shift. Setiap shift selesai selalu ada penghitungan stok lauk yang tersisa. Astridpun menyelesaikan bagiannya sendiri. Setelah closing, Astrid mau pulang, dia mengucapkan terimakasih sambil menyebut nama ku tiga kali.
"Makasih Gio Gio Gio. Kalau Pak Matin, Gionya banyak, kalau aku tiga kali aja."
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Ini baru awal, ini akan jadi lebih menarik untuk waktu ke depan.
Hal.3
__ADS_1