
Semua pakaianku telah ku rapikan, hari ini aku akan pulang ke Magelang. Meskipun hari ini tidak libur, aku harus mengecek keadaan rumah yang tidak ada penghuninya. Aku dan ibuku sama\-sama kerja di Jogja, jadi di rumah tidak ada orang. Ini pertama aku mengajak Astri pulang ke rumahku. Aku sedikit minder pada awalnya sih, tapi aku pikir itu semua berlalu. Rumahku hanyalah gubuk tua peninggalan Ayahku yang telah meninggal, jadi aku yang akan meneruskan merawatnya.
Pagi itu aku menunggu Astrid yang mungkin sedikit ribet untuk berdandan, karena aku tidak sabaran jadi aku menjemputnya saja. Seperti biasa aku selalu menghubunginya terlebih dulu ketika aku sudah sampai di depan gerbang kosannya. Aku mengirim pesan whatsapp padanya, memberi tahu aku sudah di depan. Tak cukup di situ ia memintaku untuk masuk ke dalam, tepat di depan pintu kamarnya, aku menunggunya sambil duduk di kursi depan. Tidak terlalu lama dan tidak begitu sebentar ia sudah membuka pintu kamarnya dan bersiap untuk berangkat.
"Schedule-nya ngapain hari ini?" tanya Astrid.
"Ke rumahku, bersih-bersih. Terus aku akan ngajak kamu nyari mie ayam terenak!" kataku.
"Yeeeeay mie ayam! Mau mau mau."
"Haha.. Ya udah, ayo kita berangkat."
"Tunggu sebentar aku gembok dulu pintunya."
Akhirnya kami pun berangkat, memgendarai motor beatnya. Hari masih sangat pagi sekali, udara masih sangat dingin, tapi kami sepagi itu sudah berangkat. Seperti biasa Astrid memelukku. Sekarang tidak canggung lagi, bahkan aku ingat malam itu ketika aku akan pergi dengannya. Saat itu Astrid memboncengku, tapi tangannya tidak memelukku, dan ada Mas Matin yang menggodanya. "Mbak di saku jaket Gio ada apanya?" tanya Mas Matin, malam itu aku memakai jaket yang ada dua sakunya.
"Emang ada apanya?" tanya Astrid.
"Ya makanya coba tangannya masukin, di dalam saku Gio ada sesuatunya." kata Mas
Matin. Aku paham ini adalah modus bantuan haha. Dengan begitu kedua tangan Astrid akan masuk ke jaketku lalu mememlukku.
__ADS_1
"Aku masih ke ingat waktu kamu masih ngasir, terus ada konsumen yang godain kamu." kataku.
"Godain, yang mana?" tanya Astrid.
"Iya yang kamu bilang ke Mas Matin!" kataku.
"Haha iya, kenapa?" tanya Astrid.
"Waktu itu kamu bilang, Pak Matin, aku di godain!, terus Mas Matin nanya ke kamu sambil bawa pisau yang gede itu, mana mana mana sambil dia jalan ke depan kasir sambil pegang pisau gede. Haha.. Harusnya aku yang gitu ya?!" kataku.
"Sumpah, Pak Matin bikin ngakak, apa lagi senyum khas dia, bener-bener bikin aku nggak bisa marah." katanya.
Tangan Astrid mengeratkan pelukannya, mungkin karena kedinginan atau memang dia nyaman.
"Nanti aku di kasih tahu rumah Novi ya?" katanya.
"Haha emang mau ngapain?" tanyaku balik.
"Pokoknya aku mau lihat rumah Novi. Cewek yang pernah kamu culik hahaha.."
"Apaan sih, orang aku nggak nyulik, dia nya aja ilang sendiri."
"Tapikan kamu jadi tersangka penculikan gadis di bawah umur,hahaha."
__ADS_1
"Kan aku lagi kerja, pulang aja nggak pernah. Kapan aku nyulik coba?"
"Haha intinya Gio nyulik. Besok aku bikinin bom buat di lempar ke rumah Novi hahaha.."
"Hahaha hancur dong!"
"Aku aja pernah kamu culik di ajak main ke ketep, main uap, ke alun-alun Magelang, di bikin seneng, masa Novi di culik sama kamu, kamu di laporin ke polisi."
"Haha masa dia sms aku, kalau ada yang bilang dia di culik aku, aku suruh cuek aja. Sedangkan aku masih kerja."
"Haha nanti aku kasih lihat rumah Novi, kita lewat nggak?"
"Iya lewat kok, tapi udahlah, udah berlalu."
Tahun 2016 lalu. Drama penculikan seorang gadis remaja, aku yang saat itu tidak pernah pulang ke rumah, bisa\-bisa aku dapat kabar kalau aku di cari sama polisi. Dengan kasus penculikan, atau membawa kabur anak orang. Awalnya aku tidak perduli dengan itu, tapi setelah kakak sepupuku memberi kabar bahwa aku masuk berita di media aku memutuskan untuk pulang dan menyelesaikan kasus tuduhan itu.
Awalnya aku sangat marah, tapi aku tidak tahu bagaimana cara berekspresi saat marah. Memang membuat hati terasa pilu. Aku mencoba berusaha menyelesaikannya sendiri, aku menghubungi mantan ibu kadus tapi ia tidak bisa membantu, hanya bisa memberi saran dan dukungan. Aku menemui kadus desa si anak itu, yang membuat laporan ke kantor polisi. Ia memintaku untuk bertemu keluarga gadis itu, dan ternyata gadis itu sudah ada di rumah. Awalnya aku ingin menuntut balik karena ini pencemaran nama baik. Tapi, saat sampai di rumahnya, aku tak bisa melanjutkan tuntutanku. Bagaimana aku tega, ibu anak itu menangis di depanku. Aku hanya minta laporan itu segera di cabut dan bersihkan kembali namaku.
Dari hasil penjelasan gadis itu, dia pergi ke rumah temannya yang ada di Borobudur, dia tidak pamit, dia di jemput seorang temannya dengan mengendarai motor satria yang mirip punyaku. Aahhh.. Ini sebagai pengalaman yang tidak akan pernah ku lupakan. Dan ini sangat berharga untuk ku simpan sebagai kenangan cukup pahit.
__ADS_1