Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 29


__ADS_3

 


Aku berusaha menghubunginya, tak satupun chatku di balasnya, bahkan di buka pun tidak. Aku sama sekali tak menyangka akan berakhir seperti ini. Ya ini mungkin memang salahku, sebab aku menceritakan apa yang harusnya tak perlu ku ceritakan. Yang harusnya aku meredam perasaannya yang sedang kacau malah membuatnya menjadi semakin kacau. Ini ku pastikan tidak akan pernah ku ulangi lagi.


Vidi yang merasa bingung dengan sikap Astri sejak tadi masih tetap duduk. Aku mencoba menghampirinya dan duduk di depannya.


 


"Napa sih kok malah cerita neng Astrid?" tanyanya.


"Iyo, aku ming sekedar ngobrol ro de'e, tapi mungkin de'e salah paham." jawabku.


"Ya prige saiki?" tanya Vidi.


"Yo wis saiki parani neng kose wae, njalok ngapuro!" kataku.


"Sesok wae lah!!"


"Saiki wae, sesok malah ngamuk-ngamuk, dee ki melu bela diri merpati putih." kataku.


"Jajal di wa diset apa egen melek?"


"Wis ah yo parani. Tak wa Dita wae, Dita pas nginep neng kose Astrid."


 


Aku dan Vidi mencoba mengundi nasib baik dengan datang ke kosnya Astrid. Aku benar-benar khawatir jika ia menyatakan resign. Dan aku tidak mau semuanya menjadi berantakan. Aku mendesak Vidi untuk meminta maaf padanya. Dan ku harap akan ada hal baik ketika sampai di depan gerbang kosnya. Kami mengendarai motor megapro milik Vidi, dan tanpa pikir panjang kami harus sesegera mungkin untuk sampai di lokasi.


Aku mengirim pesan Wa ke Dita, untung saja Dita belum tidur, ia menemui kami di gerbang. Aku menjelaskan apa yang terjadi.

__ADS_1


Vidi, Dita, dan aku duduk di depan gerbang itu, tidak ada alas untuk mengalasi celanaku.


 


"Besok aja ngomong baik-baik sama mbak Astrid." kata Dita.


"Iya memang ini juga mau ngomong baik-baik sih." kataku.


"Tapi mbak Astrid tadi langsung tidur." kata Dita.


"Ya uwis, nek ra isoh di ajak ngomong anggep wae masalahe clear!" kata Vidi.


"Ya nggak gitu, tetep harus di omongin baik-baik. Ya paling sekarang mbak Astrid capek, jadi dia istirahat." Dita menjelaskan.


 


Hari itu Astrid sedang libur, dan aku masuk pagi. Aku menceritakan masalah itu ke Mas Matin, dan aku minta tolong padanya untuk sebagai penengah. Benar saja, Astrid di panggil dan mau untuk datang. Aku bersama Vidi, dan Mas Matin sudah duduk di meja yang kami tempati tadi malam. Astrid duduk tepat di depanku, Vidi di sebelah ku. Mungkin emosi Astrid cukup mereda, namun sikapnya sangat dingin, gaya bicaranya sangat dingin. Aku melihat sisi kedewasaan darinya, namun bagiku itu cukup membuat jantungku berdebar\\-debar.


 


"Jadi gimana mbak, ada apa ini?" tanya Mas Matin. Vidi mulai menjelaskan apa yang terjadi sejak awal. Mataku tidak berani menatap mata Astrid yang sedang menatapku tajam, karena aku terlibat kesalahan juga.


"Lalu apa maksudnya bilang sekongkol?" tanya Astrid dengan nada yang sangat dingin.


"Siapa yang bilang sekongkol?" tanya Vidi.


"Gio!" jawab Astrid sambil matanya menatapku tajam.


"Jadi gini, aku menceritakan yang di ceritakan sama Vidi, terus aku juga beropini sendiri, bukan dari Vidi." jelasku.

__ADS_1


"Lain kali kalau ngomong di bedakan, mana cerita mana opinimu!" tegas Astrid.


"Jadi, apa mbak Astrid mau menyelesaikan masalah ini?" tanya Mas Matin.


"Aku pesen buat kalian, jangan sembarangan menduga seseorang, dan hati-hati kalau bicara!" Astrid meletakan kedua tangannya di meja dengan menahan janggutnya.


"Terutama Gio!" Astrid menatapku dengan tajam, seolah ia mau memangsaku.


"Jadi, Gio sama Vidi mau gimana?" tanya Mas Matin.


"Eee.. Aku minta maaf sebesar-besarnya." kata Vidi.


"Aku juga minta maaf." kataku.


"Oke kalian aku maafkan. Jangan sekali-kali bicara sembarangan." tegasnya.


"Jadi masalah ini selesai ya? Jangan ada lagi pertengakaran di antara kita ya mbak..hehe." Mas Matin tersenyum menatap Astrid.


"Hahaha.. Pak Matiiiiin, lihat ekspresimu bikin aku nggak bisa marah." Astrid tertawa.


"Apa ada yang salah?" tanya Mas Matin.


"Haha sumpah aku nggak bisa marah kalau lihat ekspresi Pak Matin kek gitu!" kata Astrid.


 


Akhirnya kami berjabatangan, menganggap masalah ini sudah selesai. Dan aku kembali melihat tawanya telah kembali. Aura mengerikan itu telah hilang.


 

__ADS_1


__ADS_2