
Aku tidak tahu apakah ia menyukai sepak bola sama sepertiku juga atau malah tidak paham. Sesekali aku menoleh ke Astrid untuk memastikan kalau ia tidak ku acuhkan. Suasana malam yang cukup dingin di tambah dinginnya es nutri punyaku yang baru saja datang, mungkin seperti berada di gunung es, asal bukan sikapnya saja yang dingin itu tidak masalah untukku.
"Ini A' es nutri, dan yang ini milo nya.." kata si penjual.
Astrid menoleh ke si penjual itu dengan senyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Tanganku sesekali mencubit hidungnya supaya ia merasa tidak aku cuekin.
"Ishhh Gio.." protes Astrid sambil melepaskan tanganku dari hidungnya yang ku cengkam dengan kedua jariku.
"Hahaha.. Bentar aja." kataku sambil kembali melawan tangannya.
"Ishh apaan bentar aja.. Bentar aja.." kata Astrid sambil menahan tanganku.
"Haha.. Pinjam hidungnya bentar!" aku melepaskan tanganku yang ia tahan untuk kembali ke hidungnya.
"Dek Gio nggak boleh nakal.. Dek Gio nggak boleh nakal.." Astrid mulai meledekku.
"Hmmm.." aku berhenti menggodanya saat ia mulai mengeluarkan kata - kata itu.
Setelah beberapa menit pesanan kami sudah datang, magelanganku dan mie telur milik Astrid. Aku mulai memakannya dan segera untuk melanjutkan perjalanan.
"Aku jadi pingin soto magelang.." kata Astrid,
"Ya udah besok ke sana.." kataku sambil mengunyah,
"Sambil halan - halan yeeay?" tanya Astrid sambil wajahnya menolehku,
"Iya.. Sama Astrid mau kemana gitu, biar apa gitu.. Ayo aja!" kataku.
"Dudududu.." kata andalannya,
Setelah kami selesai makan akhirnya kami akan melanjutkan perjalanan ke kebun buah mangunan. Kami bergegas meninggalkan warmindo tersebut, warmindo yang termasuk menjadi saksi bisu perjalanan kisahku dengannya di kala ia lapar.
Sekitar pukul setengah satu dini hari kami masih dalam perjalanan untuk menuju ke warnet dulu. Menunggu sampai pagi datang, kami akan masuk ke sebuah warnet dengan gedung dua lantai, lantai pertama untuk caffe dan lantai dua adalah warnetnya.
Setelah sampai di depan warnet dengan papan nama yang bertuliskan Vitto di kiri jalan, aku dan Astrid masuk ke dalam langsung menuju ke lantai dua. Astrid mencari bilik yang kosong dan tidak terlalu banyak orang yang merokok.
"Mau duduk dimana?" tanyaku.
Tanpa menjawab Astrid langsung berjalan menuju bilik yang ia pilih, kami masuk bilik itu. Ia mengaktifkan monitor dan CPU, lalu meletakkan tas miliknya. Ia duduk dan memposisikan diri, duduk dan menyender ke pembatas bilik sebelah Astrid.
"Aku mau tidur dulu.. Nanti kita berangkat setelah subuh." Astrid sambil menutup mulutnya yang sedang menguap.
__ADS_1
Sedangkan aku, aku mulai mengoprasikan komputernya. Membuka file - file yang ada, dan banyak film yang tersimpan. Aku hanya menonton anime dan film big movies. Aku menoleh ke arah Astrid, kepalanya ku usap - usap, dan ku cium kepalanya. Mungkin ini cukup gila untuk kami, harusnya jam segini tidur nyenyak di kamar masing - masing, tapi kami meluangkan waktu untuk pergi ke tempat wisata. Pergi di saat banyak orang memilih tidur di kos atau di rumah, tapi kami memilih untuk mengukir sebuah cerita, menciptakan begitu hebatnya perjalanan kisah aku dan Astrid.
Mataku mulai terasa berat, tapi aku enggan untuk ikut terlelap. Biar ia yang tidur, biarkan aku yang menjaga sampai pagi itu telah tiba. Beberapa kali Astrid membuka matanya yang nampak sayu. Aku menarik bahunya dan ia sandarkan kepalanya di bahuku. Ku usap - usap rambutnya yang terbalut kain jilbab. Tidurlah, istirahatlah, besok masih ada trip, sehingga tetap bertahan melengkungkan senyuman yang memberi warna kehidupan untukku. Aku tidak merasa resah setiap kali ada bersamanya, rasa tenang dan tentram, aku mendapatkan itu darinya.
Sayangnya aku yang terjaga untuk tidak tidur, mulai sedikit - sedikit terpejam, meski saat aku ingat langsung membuka mata. Aku membangunkannya saat ku lihat jam di layar monitor sudah menunjukan pukul lima. Dan Astrid sudah menyender di pembatas bilik itu lagi. Aku coba mengusap bahunya agar ia segera bangun. Aku menatapnya yang sedang terpejam, tiba - tiba ia membuka matanya dan tersenyum menatapku.
"Ayo.. Udah jam lima.." kataku pelan,
Ia bangun dan merapikan jilbabnya yang kusut karena posisi tidurnya yang duduk menyender. Kami segera keluar dari bilik itu dan menuju tempat pembayaran.
"Udah bangun belum kamu?" tanyaku sambil berjalan meninggalkan kasir.
"Hhm.. Udah kok.." jawab Astrid sambil tersenyum.
"Kita kesiangan ini.." kata Astrid.
"Emang sekarang jam berapa?" tanyaku.
"Udah jam lima lebih, kita nggak dapat sunrise kayanya. Tapi semoga aja awannya belum ilang.." sahut Astrid.
Aku hanya diam, fokus ke jalan saja. Astrid memegang smartphone miliknya untuk memandu perjalanan kami.
"Kamu nggak tidur Gio?" tanya Astrid.
"Enggak.. Cuma bentar tadi, langsung bangunin kamu." jawabku.
"Nih anak nggak pernah tidur.. Dasarr!"
"Haha.. Di omelin," jawabku.
"Di omelin ketawa.." kata Astrid.
__ADS_1
"Aku kan suka di omelin hahaha.."
"Dih.. Dasar cowok.." kata Astrid.
"Haha.." aku hanya tertawa saja mendengar dia mengomel.
Entah kenapa ketika dia ngomel rasanya sangat menyenangkan. Dari pada ia terdiam, aku akan merindukan omelannya, bahkan larangannya.
Perjalanan yang cukup jauh untuk kami jejaki, dari Jakal, menuju Kledokan untuk istirahat menunggu datangnya pagi. Aku tidak begitu paham jalannya, Astrid mengarahkan dari belakangku. Sampai akhirnya kami tiba setelah melintasi jalan yang menanjak.
"Kamu ngantuk nggak?" tanya Astrid,
"Lumayan hehe.." jawabku,
"Kita parkir dimana?" tanyaku sambil mencari tempat parkir yang tidak terlalu jauh dengan tempat tujuan kami,
"Di dekat pintu masuk aja.." jawab Astrid,
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Oh ini tempat yang yang di sebut mangunan? Banyak pohon pinusnya juga. Mataku sambil menyusuri di sudut - sudut parkiran.
"Ayo.." Astrid menarik tanganku dan berjalan cepat, aku mengikutinya saja. Sudah banyak orang yang datang dan pergi, ada yang sedang mengambil foto, dan ada yang hanya duduk menikmati indahnya tempat ini. Akupun merasa takjub melihat awan dari ketinggian. Oh ini negeri di atas awan? Aku terdiam menikmati pemandangan itu.
"Kita udah terlambat.. Awannya udah mulai hilang." ucap Astrid seperti kecewa,
"Mataharinya udah kelihatan, padahal kalau awannya masih ada itu bagus.." ia seperti kecewa, ia ingin menunjukan keindahan yang ia suka, tapi sayangnya sudah terlambat,
"Nggak apa - apa.. Itu bagus kok pemandangannya.. Baru pertama aku ke sini.." aku coba menghiburnya dengan kata - kataku,
Sepagi ini kami jauh - jauh dari Jakal untuk datang ke sini, ia hanya ingin menunjukan tempat yang ia suka namun kami sedikit terlambat. Aku melihat raut wajahnya seperti kecewa, kini sudah mulai tersenyum saat aku menghiburnya. Tidak perduli di manapun tempatnya, yang lebih penting adalah bisa berada bersamanya itu sudah membuatku bahagia, tempat hanyalah sebagai background, faktor pendukung suasana, dan kita adalah objek utamanya. Senyum dan tawanya adalah sebuah cahaya.
Aku duduk di sebelahnya menikmati udara yang cukup sejuk. Paru - paruku merasa nyaman dengan udara sesegar ini. Perasaanku masih tenang, tentram.
"Yuk kita cari tempat duduk.. Kita cari minuman hangat." pinta Astrid, sambil menolehku,
"Ya udah ayo.." aku mengikuti apa yang ia mau,
__ADS_1
Setelah mencari tempat duduk, kami memilih duduk di gasebo. Di bawah pohon yang rindang, dan berderetan dengan beberapa gasebo yang cukup ramai pengunjung, kami memesan yang menurutku itu adalah tempe, sedangkan Astrid memesannya adalah mendowan, sama - sama dari kedelai, susu jahe, dan Astrid susu hangat, ini cukup untuk menghangatkan badan di udara yang cukup dingin ini.