
Sabtu, 14 Mei 2022 12:13 AM
Bab 62.
Aku bersiap untuk menjemput Astrid sore ini, kami sama-sama masuk shift dua hari ini. Setelah hari yang menyenangkan selesai saatnya kembali bekerja.
Brummmm..
"Udah siap belum?" Tanyaku,
"Udah kok, yuk.." Astrid sambil memakai helm,
Kami berangkat kerja..
******
Sesampainya di outlet sudah disambut oleh Mas Matin sambil cengar cengir,
"Gimana mbak libur kemarin sama Gio?" Tanya Mas Matin
"Iya mas, aku sama Gio halan-halan seru.." Jawab Astrid semangat
"Emang kemana aja?"
"Kita ke Magelang paling pojok, Kopeng kan yak Gio?"
"Iya.." Jawabku,
"Iya Kopeng menuju Pantai Wedi Ombo.." Sahut Astrid
"Ngapain aja kalian haha.."
"Dari atas Gunung menuju Pantai, dari lihat yang ijo (pepohonan) sampai ke yang biru (Air laut)."
"Nggak capek?" Tanya Omes
"Tuh tanya Gio, Astrid mah bonceng ajah.." Jawab Astrid sambil nyengir
"Di ajak mampir enggak mbak?" Tanya Mas Matin,
"Mampir ke mana Mas?" Astrid heran,
"Iya mbak, di ajak mampir enggak ke hotel yang di jalan Baron?" Sahut Omes
"Oh tempat kerjanya si Wulan?" Tanya Astrid sambil ngelirik ke aku
"Nah iya mbak, lewat Orchid enggak? Siapa tau di sambut baik sama mantannya Gio?" Sambung Mas Matin,
"Hahaha kompor terossss....!!!" Celetuk ku,
"Nanti di ajak karoke sama Wulan lho mbak!" Kata Omes,
__ADS_1
"Iya kemarin tak tanyain tu Gio, mau apel ke Wulan apa enggak malah jawabnya nglantur terus.."
"Cantik loh mbak si Wulan tu, belum pernah lihat kan?" Sahut Mas Matin,
"Kalau kemarin mampir ke Orchid mau aku ajak Gelud si Gio hahaha..." Sahut Astrid
"Hahahaha...." Serentak pada ketawa semua
Yahh aku ikut tertawa karena Mas Matin dan Omes saling kerja sama buat bikin Astrid panas, walaupun aku tahu mereka biasa bercanda.
"Kompor terusss...!!!" Sahut ku
"Yo kan Pak Matin kompore, aku apine.." Jawab Omes
"Hahaha..." Bersamaan
"Ya udah kita mulai kerja." Perintah Mas Matin
******
Malam telah larut, kami pun sudah selesai bekerja. Di samping Mushola kami duduk santai sambil istirahat.
"Mau jalan-jalan lagi enggak?" Tanya Mas Matin
"Kalau sekarang Astrid mau pulang Pak, gantian main sama Emblot." Jawab Astrid yang sudah bersiap untuk pulang
"Emblot siapa?"
"Itu lho kucing peliharaan.." Aku sedikit menjelasakan
"Oh gitu, jadi kalian udah resmi punya anak?" Tanya Mas Matin
"Haha udah ya Pak, Astrid pulang dulu.."
"Kok nggak cium tangan dulu sama Gio?"
"Enggak usah haha.." Jawab Astrid
"Nanti kita tidur bareng ya.. Kamu tidur di kos, aku tidur di rumah.."
"Haha udah ya Pak Matin, jangan bikin aku sakit perut di ajak ketawa mulu.. Daaah Assalamualaikum."
"Waalaikum salam.." Bersamaan
Seketika Mas Matin menoleh ke arahku,
"Piye Yok ??(panggilanku dari Gio jadi Giyok)"
"Apane mas?" (Apanya Mas?")
"Wes pacaran opo durong karo Astrid?" Tanya Mas Matin (Dah pacaran belum sama Astrid)
__ADS_1
"Rung ono kata jadian mas, tapi de'e wes nyatake nek de'e yo seneng ro aku.." (Belum ada kata Jadian mas, tapi dia sudah menyatakan suka sama aku.)
"Lah Astrid jeh pacaran ro Jafar ora?" (Lah Astrid masih pacaran sama Jafar enggak?)
"Aku ra tau bahas kui mas, sek penting aku cukup seneng ro de'e. Perkara jadian opo ora aku ra pingin ngrebut." (Aku nggak pernah bahas itu mas, yang penting aku cukup sayang sama dia, perkara jadian apa eggak aku nggak ingin merebut.)
"Yo ojo tarik ulur, engko loro dewe." (Ya jangan tarik ulur, nanti sakit sendiri.)
"Iyo mas, sek penting de'e ngeroso nyaman." (Iya mas, yang penting dia merasa nyaman."
"Tapi Astrid yo ngono, ra mileh salah sijine." (Tapi Astrid juga gitu, nggak milih salah satunya.)
"De'e milih salah siji, makane rung pacaran ro aku. Opo neh pacare yo berperan neng kuliahe Astrid." (Dia milih salah satu, makanya belum pacaran sama aku. Apa lagi pacarnya juga berperan dalam kuliahnya Astrid.)
"Nek Astrid ra isoh ro koe yo koe sek ngalah, jaga jarak."
(Kalau Astrid nggak bisa sama kamu ya kamu yang ngalah, jaga jarak.)
"Nek koe duwe dalan liane yo koe sek nentuke." Imbuh Mas Matin
(Kalau kamu punya jalan lain ya kamu yang menentukan.)
"Iyo mas, aku tresno ro Astrid, tapi posisiku yo sek penting aku seneng ro de'e. Lebar kui sekarepe de'e." Jawabku,
(Iya mas, aku cinta sama Astrid, tapi posisiku ya yang penting aku sayang sama dia. Setelahnya itu terserah dia.)
"Yo wes Yio, aku tak mulih, sesok koe mlebu pagi ndak kawanan." Kata Mas Matin
(Ya udah Yio, aku mau pulang, besok kamu masuk pagi ntar kesiangan.)
"Oke mas, ngati-ati." Kataku
Mas Matin berlalu dengan motor Revo berwarna hitamnya.
*******
Aku termenung dengan apa yang baru saja kami obrolkan, memang benar jikalau Astrid harus memilih salah satu. Tapi, sejak awal kedatanganku bukanlah untuk merebutnya dari Jafar, mungkin aku bisa mendapatkan hatinya, tapi sebatas itu aku memiliki. Meskipun setiap saat setiap hari Astrid bersamaku, waktunya selalu ada untuk ku, apa aku terlalu berlebihan jika aku memintanya untuk memilih?
Semua itu bisa terjadi, bukan hal yang tak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak, maha membolak balikan hati manusia. Sangat munafik jika aku mengatakan bahwa aku tidak ingin memilikinya. Tapi, keinginanku manjadi ragu kala aku mengingat siapa Jafar. Dia pacar nya, sudah bertahun-tahun mereka pacaran.
Meskipun begitu, orang yang datang terlambat bukan berarti ia telah kalah. Ya, aku telah salah pada keadaan ini, atau keadaan ini yang membuatku menjadi bersalah?
Iya atau tidak, sekarang atau nanti. Aku tidak tahu siapa yang akan Astrid pilih, setidaknya aku tetap berusaha mengejarnya. Ini pilihanku, ia tak memaksaku untuk terus mengejarnya. Awalnya yang hanya "biarkan aku mengejarmu, aku akan siap kehilanganmu bila waktu itu telah tiba.."
Kini semuanya berubah, aku akan mengejarmu, hingga Tuhan menakdirkan dengan siapa kamu akan berlabuh.
Astrid,
Jika kamu dengar saat ini, aku ingin menikahimu.
********
__ADS_1