
Wajahnya masih ku perhatikan. Tenang dan nyaman, melihatnya terlelap di pangkuanku. Ku usap kepalanya, mungkin dengan tanganku yang ku usap\-usapkan bisa membuatnya lebih nyenyak. Tidur di pinggir jalan, tertutup meja dan gerobak. Kenapa ia begitu mudahnya tertidur di alas yang keras, seakan sudah seperti biasa.
Sudah satu jam ia tertidur, ia bangun dan langsung duduk dan menghadapku. Sesekali tangannya menutupi mulutnya yang sedang menguap. Matanya masih terlihat sipit dan sayu. "Sekarang gantian kamu yang tidur!" katanya. Baiklah aku merebahkan kepalaku di pangkuannya, astaga cukup keras ubin ini. Kalau aku mungkin terbiasa tidur tanpa alas kasur, atau di tempat yang keras, tapi dia bisa senyenyak itu. Perlahan\-lahan mataku mulai ku pejamkan, tangannya membelai rambutku, dan akupun tertidur.
Entah aku tidak ingat kapan aku lekas tertidur, yang ku ingat aku sudah membuka mata. Aku sempat kaget wajahnya tepat di hadapan mataku, bibirnya mendekat, tepat di depan bibirku ia berhenti. Mungkin aku setengah sadar, aku maju untuk menjemput ciuman ke bibirnya yang sudah sangat dekat. "Hhemm.." Astrid menjauhkan kepalanya dan menghindar. Ia hanya tersenyum dan menatapku. Ku pikir ia akan menciumku, ia hanya menggodaku saja.
"Ayo bangun, kita lanjutkan perjalanan." katanya sambil berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
"Udah jam berapa?" tanyaku.
"Udah jam setengah lima, ayo kita lanjut."
Astaga, aku hampir saja mencium bibirnya. Dia juga datang seperti akan mencium bibirku, tapi hanya prank saja.
Udara menjadi terasa dingin karena hari sudah subuh. Ia masih mengeratkan tangannya yang memelukku.
"Kita nyari sarapan dulu ya!?" katanya.
"Emm boleh.. Mau sarapan apa?" tanyaku.
"Apa aja, asal jangan makan mie." katanya.
"Kalau gitu kita ke Surodadi."
"Ke mana itu?"
"Setelah jembatan kamu nunggu aku, nah deket situ."
"Ya udah ayo."
Sampai di muntilan, aku mengambil jalan menuju ke rumahku. Karena lewat jalan itu yang paling cepat. Tidak terlalu jauh juga dari rumahku.
__ADS_1
"Gio tadi kamu sadar nggak?"
"Pas kapan?"
"Kamu tadi pas tidur aku panggil-panggil nggak bangun!"
"Masa sih?"
"Iya, aku panggil Gio.. Gio.. Bangun..! Tetep aja nggak bangun."
"Kamu manggilnya pelan kali!"
"Pas giliran aku cium pipi kamu, kamu langsung bangun. Dasar nih anak!"
"Hahaha masa langsung bangun?"
"Iya tadi aku cium langsung bangun!"
"Iya terus kamu mau cium aku lagi tapi nggak jadi!"
"Haha sengaja itu mah, cuma buat godain aja. Aku mau cium, pas kamu merespon, aku pergi hahaha.."
Kami sudah sampai di Surodadi. Di depan rumah entah milik siapa, tapi di situ sudah ada wanita setengah baya yang tersenyum menyambut kami. Dia menawarkan bubur, nasi, dan makanan lain. "Saya bubur aja buk." Astrid memilih sayur dan lauk. Sedangkan aku memilih nasi dan sayur. Aku memesan teh hangat, Astrid hanya air putih hangat saja. Setidaknya cukup untuk menghangatkan kerongkongannya sampai perutnya haha.
Hari sudah mulai terang, namun sinar matahari belum terlihat. Sekitar jam enam kami sarapan di situ. Kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Grenden.
"Ini beneran nggak sih ngitungnya?" tanya Astrid.
"Emangnya kenapa?" aku sambil tetap fokus mengendarai motor.
"Nasi,sayur, bubur, tempe tiga, kerupuk satu, teh anget, air putih anget. Masa cuma tujuh ribu lima ratus?"
"Aku juga nggak paham, tapi di situ emang murah. Kan tadi ibu nya bilang sendiri, namanya juga cuma jualan di kampung, jadi nggak mungkin kasih harga yang lebih, yang penting berkah, gitu kan tadi."
"Iya sih, tapi terlalu murah itu."
__ADS_1
"Di sini kalau makanan mahal nggak akan laku. Kamu ingat kan kita beli mie ayam bakso kemarin, kamu bilang murah."
"Iya sih. Tapi sumpah ini murah banget, kita beli bubur di depan SC aja sekitar lima belas ribu."
"Iya bedalah."
Sepagi itu udara sangat dingin, sepanjang jalan yang kami lewati terdapat pohon\-pohon di sekelilingnya. Melewati jalur ke Ketep matahari sudah sedikit menampakkan kilau cahayanya. Namun udara dingin ini masih mampu mengalahkan sinar matahari itu. Jalan menanjak sampai di Grenden, hanya kami berdua pengunjung yang baru datang.
"Dingin sekali.." Astrid mendekapkan tangannya.
"Kita cari tempat duduk yuk."
Di sana ada bangku yang terbuat dari bambu. Bambu itu lebar, dan ada sekat di tengahnya untuk bersandar. Di bawah payung yang berdiri di antara kami duduk. Astrid mengeluarkan tipe\-x dari dalam tasnya.
"Sebentar, aku bawa tipe-x."
"Oh buat nulis-nulis?"
"Karena di sini sudah banyak coret-coretan, kita tulis nama kita berdua di sini, besok kalau kita ke sini lagi masih ada enggak tulisannya."
Aku hanya memperhatikan tingkahnya saja. Mataku juga masih ngantuk, aku berbaring di bangku itu, karena cukup panjang jadinya cukup untuk rebahan.
"Kamu mau tidur lagi?" tanya Astrid.
"Kamu mau ikut?" tanyaku.
"Iya, dah ah di sini aja. Kita terhalang oleh bambu ini. Ya udah nanti aja kita fotonya. Sekarang selamat tidur."
Kami berdua tidur, dia atas bangku yang cukup lebar, namun tersekat dengan bambu di tengah kami. Cukup lama aku tidur, sampai akhirnya aku terbangun karena ada suara orang lain yang sedang berkunjung di situ.
Kami berdua terbangun. Karena merasa tidak nyaman jika ada orang lain datang. Astrid mengambil sebotol air mineral dari dalam tasnya dan di berikan padaku. Ia juga mengambil lipstik dari dalam tasnya.
"Pulang yuk!" sambil memasukan lipstik ke dalam tas.
"Haha sampai sini cuma numpang tidur." kataku.
__ADS_1
"Sama nulis Gio dan Astrid di bangku."
Karena hari ini kami masuk sore, jadi kami harus segera kembali ke outlet. Sudah pukul sebelas, butuh waktu yang cukup jauh untuk sampai di Jogja.