Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 8


__ADS_3

Ya, hari itu adalah hari Sabtu tepat tanggal 14 Januari 2017. Pagi itu, Mataku terbuka dari terpejamnya mimpi malam hari, aku membaringkan tubuhku dengan mata cukup sayu. Ku raih handphone ku untuk melihat jam, ya tepat jam 06.25.


Udara pagi itu masih memaksaku untuk enggan beranjak dari hangatnya selimut yg membungkusku, aku ingat ada janji hari ini untuk menemaninya jalan. Aku bangun dan merapikan selimutku, lekas ku ambil handuk untuk segera berperang dengan dinginnya air di pagi itu, wajar saja tempatku kerja berada di kaki gunung yg cukup beberapa kilo meter dari Gunung Merapi.


Oke, setelah mandi selesai aku nampak bingung memilih pakaian mana yg akan ku pakai untuk jalan hari ini. Aku memilih celana yg di lutut sedikit ada robekan, entah apa motivasiku memilih celana itu, tapi terasa nyaman, meski reslitingnya rusak haha..!! Tapi nanti juga tertutup kalau udah pakai kaos. Ya, aku memakai baju hem dan meminjam jaket Omes yg ada di kamar juga.


Tak lupa pomade wangi permen karet hha, sudah wangi, sepatu convers warna merah sudah ready. Aku nampak pede dengan penampilanku.


 


Aku mulai memanaskan motorku, lalu beranjak menghampiri ke depan kosnya, ya tepat di depan gerbang. Aku tidak berani masuk, ku pikir itu kos cewek jadi mungkin tidak baik kalau ada cowok masuk.


 


Dia menemuiku di gerbang, dengan baju abu-abu dengan jaket warna coklat. Dia menggendong tas dengan isi mukena dan sajadah. Aku tahu karena bertanya.


"Udah siap?", Tanyaku padanya.


"Udah!", jawabnya sambil mengangguk.


Sekitar jam 07.00 kami berangkat dari Jakal. Udara masih sejuk saat itu, meski sudah mulai banyak kendaraan berlalu-lalang dengan kesibukan setiap orang yg memiliki.


 


Saat itu aku masih bingung, apa yg mau aku bicarakan dengannya. Tapi beruntungnya aku, dia bukan orang yg pendiam. Di sepanjang jalan dia bercerita tentang jalan yg pernah ia lewati.


 


Sampai di Muntilan, harusnya sudah terus aja. Tapi aku mengajaknya untuk mampir ke rumahku. Tapi sayangnya aku memintanya untuk menungguku di pinggir jembatan. Ahh laki-laki apa aku ini haha meninggalkannya sebentar, tapi tak apalah dari pada sampai ke rumahku jadi omongan tetangga.


Aku pulang sebentar untuk ganti baju jadi kaos merah. Aku bergegas menemuinya, dan kami pun melanjutkan perjalanan ke KETEP. Di jalan ia bercerita waktu di tinggal dan sempat mengambil foto sungai yg ada di jembatan.


 

__ADS_1


Dalam perjalanan tangannya tidak memelukku. Masih di samping pinggangku mencengkeram supaya tidak jatuh.


Sampailah kami di KETEP. Kami masuk setelah membeli tiket masuk di Loket. Kami pun tidak terlalu banyak bicara.


 


"Mau foto nggak? Sini aku fotoin." pintaku.


"Boleh, nanti gantian ya." jawabnya.


Setelah beberapa kali kami foto, dan tidak ada maksud foto bareng juga, hehehe.


"Hasilnya bagus Gio, aku harus belajar dari kamu ini."


 


Setelah cukup lama kami jalan mengitari tempat, kami memilih mencari gasebo untuk duduk berdua sambil menikmati minum susu dan cemilan yg dia bawa. Dia suka dengan pemandangan di Ketep, dia cerita apa yg dia suka. Rasanya tak ingin semua ini cepat berlalu, aku terus memperhatikan dia bicara, sangat menyenangkan.


 


 


 


"Aku mau ke toilet, sekalian mau sholat, kamu tau mushola di sini enggak?"


"Ya udah ayo aku antar."


Tak lama setelah ia selesai sholat, dia kembali menemuiku yg menunggunya di samping mushola.


"Lain kali kalo kita jalan jangan pake celanan yg robek, biar bisa sholat bareng!" kata Astrid.


Aku sempet tertegun dengan apa yg ia ucap, aku bener-bener jadi tidak enak.

__ADS_1


 


Setelah itu kami melanjutkan ke Pinusan Top selfie Kragilan.


 


Dia seneng banget dengan suasana di situ, dia minta foto berkali-kali. Lalu kami duduk di rumah pohon, kebetulan di situ sedang kosong tidak ada yg mau antri duduk atau mau foto.


Dia cerita kalo badannya mulai lemes, pasti minum apa itu ya madu atau apa itu, seingatku madu yg dia minum.


"Batrai hp ku udah mau habis gimana?" tanya Astri.


"Di cas di rumah Pakdeku aja." sahutku.


"Dimana, jauh nggak?" tanya Astrid.


"Ini nanti kita lurus aja, terus belok kiri, di Pakis."


"Iya ikut kamu aja, Tapi apa nggak apa-apa?"


"Enggak apa-apa kok."


"Ya udah boleh.."


 


Ia setuju untuk pergi ke rumah Pakdeku yang rumahnya tidak terlalu jauh dari lokasi ini. Jalan yang kami lalui cukup berkelok\-kelok dan naik turun. Meski dalam perjalanan mataku di suguhkan pemandangan yang cukup indah.


Kami telah sampai di rumah pakdeku. Aku mengajaknya masuk ke dalam. Bude ku sudah menyapa dari dalam, mungkin ia tahu kami datang dari suara motorku, sehingga Bude sudah paham. Kami di persilahkan duduk, dan di sediakan makanan kecil serta minum teh hangat. Bahkan kami langsung di suruh makan juga.


Setelah makan, aku menyapa tetangga sebelah, Astrid pun ikut menyapa. Seorang nenek-nenek yang sedang duduk bertanya," kui bojomu po?" (Itu istrimu kah?). Aku tersenyum dan menjawab, doakan saja. Meski ini adalah awal kami dekat, tapi tidak tahu untuk ke depannya.


 

__ADS_1


Hari sudah sore, kami beranjak mau melanjutkan untuk tujuan selanjutnya, Alun- alun Magelang. Kami kembali melewati Top Selfi, awalnya mau masuk lagi di tempat itu, tapi karena sudah mendung jadi kami lanjut saja.


__ADS_2