Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 44


__ADS_3

 


Pagi yang dingin menyelimuti suasana di hari itu, udara yang dingin seperti menusuk sampai ke tulangku. Semua itu ku rasakan saat mataku sudah mulai terbuka, menyadari bahwa hari ini aku masuk shift pagi lalu ku buka selimut yang menutupi badanku. Aku menoleh ke kiri ternyata Omes dan Cahyo masih tidur nyenyak.


"Mes.. Tangi." aku menggoyangkan kakinya supaya ia bangun. Sedangkan Cahyo langsung bangun saat mendengar suaraku yang memanggil Omes, setelah dua kali ku panggil Omes pun bangun. Aku melipat selimutku dan pergi menuju kamar mandi.


 


Selesai mandi dan berpakaian, aku melihat jadwal masuk karyawan. Aku mencari nama Astrid di jadwal yang menempel di dinding. Ternyata ia masih masuk sore.


Kami semua sudah berkumpul untuk membagi jobdesc di hari ini. Setelah terbagi, aku mulai melakukan prepare.


*******


Waktu sudah menunjukan pukul 14.55 WIB, beberapa karyawan sudah mulai berdatangan. Mereka berjalan menuju kasir untuk melakukan presensi. Jantungku mulai dag dig dug dan perutku terasa mules. Kebiasaan ketika aku mulai cemas, dan biasanya itu pertanda orang yang di tunggu - tunggu akan segera tiba.


 


Benar saja, saat aku menoleh ke pintu masuk yang ada di dekat area bartender, Astrid tiba - tiba langsung masuk dan menuju ke kasir untuk mengambil presensi juga. Dia tidak pernah datang lebih awal, karena harus mengurusi kucing kesayangannya dulu.


 


Rasa cemasku sudah hilang, perutku sudah tidak terasa mules, tapi jantungku masih berdebar - debar di kala aku memperhatikan Astrid yang baru saja menyimpan tas kecilnya di dalam kamar. Setelah pembagian jobdesc Astrid berjalan menuju kasir. Aku juga masih di dalam area checker sedang prepare untuk shift dua. Area checeker langsung terhubung dengan area kasir, hanya terhalang tembok yang ada jendela tanpa penutup, yang biasanya untuk di gunakan oleh kasir ketika hendak memberikan nota.


Di meja checker tepat di dekat jendela penghubung ke kasir sudah ku siapkan beberapa piring yang berisi lalapan dan terong goreng tepung. Yang harusnya tinggal meletakan nasi, sambal dan lauk, tiba - tiba terongnya sudah hilang. Aku tersenyum, aku tahu itu ulah jahil Astrid yang biasa memakan terong yang sudah di tata di dalam piring.

__ADS_1


"Kebiasaan terongnya di makan.." aku sambil tersenyum dan menoleh ke arah Astrid, yang ada di area kasir. Dan dia menahan senyumnya untuk pura - pura tidak tahu apa - apa.


"Apa Gio..?" tanya Astrid saat aku menatapnya.


"Terongnya kamu makan ya?" tanyaku balik.


"Hahaha.. Terong kamu enak." jawaban Astrid yang cukup keras membuat anak - anak yang lain langsung menoleh ke Astrid.


"Apa mbak terongnya Gio?" tanya Mas Matin dari kejauhan.


"Waaaaaaaaa..." anak - anak yang lain langsung respon menjawab dengan serentak.


"Hahaha.. Iya terongnya Gio enak.." jawab Astrid dengan polos, membuat anak - anak lain cukup gaduh.


"Terongnya Gio gimana mbak, tahan lama?" tanya Mas Matin yang sedang berjalan mendekat ke area kasir.


"Kalau di ajak jalan - jalan nggak pernah sakit, padahal sering hujan - hujan. Apa lagi seharian, nggak tidur. Kan tahan lama.." imbuh Astrid.


Mendengar penjelasan Astrid, Mas Matin cuma tersenyum. Aku hanya ikut tersenyum saja, menjadi pendengar percakapan mereka.


"Kemarin terongnya Rahmad juga enak.." kata Astrid,


Astaga masih di lanjut bahas terong. Ya Astrid bahas terong yang di makan, sedangkan anak - anak lain bahasnya di plesetkan ke terong yang lain.


******

__ADS_1


 


Waktuku bekerja kini sudah habis, aku hendak istirahat setelah melakukan presensi. Aku rebahan santai di dalam kamar mes setelah ganti baju. Belum juga mandi, aku mikirnya nanti aja mandinya kalau sudah hilang keringatnya. Sambil bermain handphone, sambil mendengarkan suara - suara karyawan yang sedang bercanda ,bahkan suara Astrid terdengar jelas.


 


"Wis pirang pirang pirang.."


Suara Astrid nyaring menirukan lagu yang sedang di putar di sebuah speaker aktif kecil milik Omes.


"Liriknya nggak gitu mbak hehe.."


Suara Nita terdengar, ia memprotes lirik yang di nyanyikan Astrid itu keliru.


Suara yang ku dengar semakin samar, kelopak mataku semakin terasa berat. Aku mulai mengantuk, dan seketika tidur.


Aku membuka mata saat pintu kamar terbuka, ternyata Astrid sedang melepas sepatunya, ia duduk di pintu.


"Ayo sholat.." kata Astrid saat menoleh kepadaku.


Astrid pergi duluan, aku segera bangun dan menyusulnya untuk sholat bersama.


*******


 

__ADS_1


Aku menunggunya hingga selesai bekerja. Walaupun menunggu sambil tidur. Tidur adalah caraku melupakan waktu tanpamu. Sebab bersamamu bukan caraku untuk melupakan waktu, melainkan melewati waktu.


 


__ADS_2