Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 12


__ADS_3

 


Suara berisik mobil dan motor satu persatu meninggalkan parkiran depan masjid. Seorang pria paruh baya dengan baju batik berwarna biru-hitam memakai peci berwarna coklat, mulai menutup pagar pintu besi yg mengisyaratkan kepada orang-orang untuk lekas meninggalkan area masjid.


Kami bergegas kembali menghampiri sepatu kami yg masih basah. Kami terpaksa memakai sepatu itu lagi, hujan yg berjatuhan tidak lagi terdengar berisik. Cukup reda namun tetap saja gerimis ini masih menemani malam yg panjang ini.


 


Kami bergegas saat aku sudah menyalakan motorku. Dalam perjalanan menyusuri kota Magelang yang sudah sepi, kami meninggalkan alun-alun itu, tepatnya masjid tempat kami berteduh. Sungguh hari itu tidak bisa menikmati tempat itu, bahkan kami hanya bisa berteduh di Masjid yang letaknya di samping alun-alun. Aku bergumam, apa dia kecewa sampai di tempat ini dengan keadaan basah seperti ini. Banyak hal yg ingin ku utarakan, tapi aku masih tidak terlalu banyak bicara. Dan saat itulah aku memulai untuk membuka percakapan itu.


 


Saat tubuhku mulai menggigil karena menerjang rintik hujan yg tak cukup deras. Tangan Astrid kembali menyikap pinggangku, tangannya memeluk erat. Mungkin dia bermaksud untuk membantuku biar tidak kedinginan.


 


"Aku seharian ngomong sama kamu pakai bahasa Indonesia. Dan ini benar-benar pertama kali."


"Iya? Biarin kamu lancar bahasa Indonesia."


"Haha udah lancar kok, kan orang Indonesia. Kamu kapan masuk kerja lagi?"


"Besok udah bisa masuk."


"Masuk shift apa?" tanyaku


"Kata Pak Matin di suruh masuk pagi."

__ADS_1


Aku merasa lega, senang pastinya. Dia kembali bekerja. Aku yang tidak mau jauh dari dia, dan aku yg terus meyakinkan dia untuk tidak resign. Sampai akhirnya dia masih bisa kembali bekerja di tempatku bekerja.


"Di Magelang kaya di Bogor, udaranya adem." celetuk Astrid.


"Kamu suka?" tanyaku


"Iya suka." jawabnya.


 


Dalam perjalanan menyusuri Kota Magelang sampai ke Jogja begitu menjadi malam yg panjang, laju motorku cukup pelan, karena aku sudah tak tahan dengan dinginnya malam itu.


 


Aku masih terpikirkan mengapa dia mau memelukku. Padahal baru ke dua kali ini kami jalan bareng. Aku mencoba menggodanya.


"Iya pengen ke sini lagi. Andai aku masih di Jogja lebih lama lagi."


"Ya udah nikah sama aku, biar jadi orang magelang haha."


Dia hanya tersenyum saat aku menggodanya, aku sudah mulai sedikit cerewet di hadapannya.


"Kamu kenapa kerja di sana?" tanyaku.


"Iya, buat ngisi waktu luangku dari pada gabut di kos." jawabnya.


Aku menanyakan banyak hal tentang alasan-alasan ia kerja di Sambel Cowek. Tapi bagiku ini adalah takdir yang membawa kebahagiaan kecil saat aku ada dengannya.

__ADS_1


Perjalanan kami masih cukup jauh, dan ia sudah berhenti memelukku, sampai di Jln. Palagan hujan kembali mulai deras lagi.


"Gio kamu masih kedinginan?" Dia sambil kembali memelukku lagi.


Aku hanya pasrah saat dia memelukku lagi, aku juga sangat kedinginan. Dari sore sampai malam begini. Hujan masih menyirami bumi ini.


 


Dalam perjalanan kami berdiskusi untuk tujuan setelahnya, dia bilang lapar dan dia ingin makan di pecel lele, meski pecel lele favoritnya ada di Janti. Tapi kami tidak mungkin ke sana juga. Ya, sampai di Jakal kami melewati kos nya, serta melewati Mess tempat kami kerja.


Aku menekan rem dan kopling untuk menghentikan laju motorku, Astrid menunjuk tenda sederhana, tempat pecel lele di sebelah kanan jalan. Kami memutuskan untuk berteduh lagi dan mencari minuman dan makanan yg bisa menghangatkan badan kami yg basah.


Astrid berjalan masuk ke tenda sederhana itu, aku memarkir motorku di dekat sebelah tenda. Aku melepas jaket dan ku letakan di kursi samping tenda, Aku menyusulnya masuk untuk segera berharap bisa memesan sesuatu untuk menghangatkan badanku.


 


Seorang bapak-bapak menyapa kami dengan senyum, dan mempersilahkan kami duduk dan memesan makan.


"Pak, aku pesen lele di goreng kering! Gio kamu apa?"


"Aku sama, lele di goreng kering juga."


"Pak, lele nya jadi dua ya? Minumnya teh panas dua."


 


Setelah selesai memesan, kami duduk di lesehan yg tersedia di tempat itu. Bapak itu datang membawa minuman yg kami pesan tadi. Aku segera memegang gelas itu dengan kedua tanganku yg sudah sangat dingin. Sambil ku seruput teh itu, Astrid juga nampak menikmati teh nya yg ia pesan untuk menghangatkan badan.

__ADS_1


 


__ADS_2