
Langit mulai gelap, awan mulai menyelimuti langit hingga tak membiarkan satu bintang untuk menampakan dirinya. Sesaat rintik-rintik hujan kecil mulai menyerbu dataran bumi di Jogja. Aku yang sedang menyantap makanan di meja dengan beralas piring dari rotan.
"Hujan.." gumamku sambil menolehkan kepalaku ke atas langit.
Astrid segera menyelesaikan makanan yang ada di depannya. Segelas air putih ia tuangkan ke dalam mulutnya.
"Yuk sebelum keburu deras hujannya!" kata Astrid.
"Ya udah ayo." jawabku.
Aku berdiri berlalu meninggalkan meja kayu yang di lapisi karpet. Aku menunggunya sambil duduk di motorku. Ia perlahan melangkahkan kakinya menuju kepadaku. Wajahnya terlihat masih berseri dengan make up yang ia pakai sebelum kami pergi. Bibirnya yang basah mulai ia keringkan dengan tisu.
Perjalanan kami dalam gerimis, tidak membuat kami berhenti.
"Ibu mau di belikan apa?" tanya Astrid.
"Belinya kapan-kapan aja." jawabku.
"Dasar.. Cowok.." dengan nada menyalahkanku.
"Hahaha.. " Aku hanya tertawa mendengar itu.
"Kamu mau,di omelin Astrid?" tanya Astrid.
"Hahaha aku suka di omelin." jawabku.
"Nih anak bener-bener.."
"Hahaha.. Kenapa?"
"Bodo'.."
"Yeh ngambek.."
"Bodo' bodo' bodo'..."
"Hahahaha.."
Aku tidak mengerti lagi dengan apa yang telah ku rasakan saat itu. Aku mengaguminya, sangat mengaguminya. Sifatnya, tingkah lakunya, hanya melihat ia berjalanpun aku mengaguminya. Tidak ada alasan bahwa aku mulai merasa semakin nyaman. Itulah yang mulai ku rasakan, di dalam dadaku.
"Aku kasih lihat itu.." Astrid menunjuk ke sebuah gedung tinggi, ya hotel yang cukup megah.
"Itu yang bikin Jafar!" kata Astrid.
"Jafar?" tanyaku.
__ADS_1
"Iya, cowokku namanya Jafar. Dia ikut bekerja dalam membangun gedung itu."
"Ohh yang tadi?" tanyaku.
"Iya, dia bekerja keras sebelum ia sampai jadi seperti sekarang. Aku juga pingin nanti kerja gajinya bisa lebih dari cukup. Ibuku adalah orang pertama yang harus aku bahagiakan. Aku juga sempat di tawarin pekerjaan sama Jafar. Tapi aku masih belum selesai kuliah, tinggal skripsi, pendadaran, wisuda." jelasnya.
"Hhmm" aku hanya tersenyum.
"Pendapatannya sih emang banyak, dia bisa nabung buat beli mobil nggak nyampai satu tahun. Aku inget dia dulu kuliah cuma pakai sepeda ontel. Terus sekarang dia udah bisa beli mobil."
"Hhm.." seketika aku merasa hening, jauh di dalam hati, kebahagiaan sepanjang jalan itu kian menjadi runtuh. Apa lagi jika di lihat dari materi, aku tidak sebanding jika harus berkaca.
Sepanjang jalan aku tidak tahu harus bicara apa, lidahku kaku dan bibirku sulit untuk terbuka. Tapi aku harus sadar bahwa ia adalah pacarnya, sedangkan aku?
"Gio..." panggil Astrid.
"Emm ya.." suara Astrid yang memanggilku meluluhkan hati ku yang mulai runtuh, hingga aku mudah untuk menjawab setiap ia bicara padaku.
Beginikah rasanya menyayangi wanita yang telah di miliki orang lain. Aku menghela nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan pikiranku.
Astrid mengeratkan tangannya yang memelukku. Entah dia memahami apa yang ku rasakan saat itu atau tidak. Tapi ku anggap pelukan itu cara ia meredakan kacau balau nya hatiku. Entah mungkin maksud dia memotivasiku dengan perjuangan pacarnya yang berat itu. Atau ia hanya bercerita tanpa maksud tertentu. Kami pun seketika hening, saat sampai di lampu merah di pertigaan yang menghubung ke Jln. Sunan Kali Jaga.
"Masih jauh enggak?" suara Astrid yang memecah keheningan antara kami.
Kami menuju ke gerbang gedung pertemuan yang letaknya tidak jauh dari tempat ibuku bekerja. Aku berhenti tepat di depan rumah yang tepat ada di samping gedung pertemuan itu.
"Udah sampai." kataku sambil melepas helm.
Astrid melepas pelukannya dan turun dari motor. Ia melepas helmnya dan menatap ke gerbang rumah tempat ibuku bekerja.
"Assalamualaikum.." aku mencoba memanggil ibuku dari pintu gerbang yang tidak di kunci.
"Waalikumsalam.." ibuku menjawab dan menghampiri ku dari dalam rumah.
Aku menyalami dan mencium tangan ibuku. Ibuku menatap heran ke arah Astrid berdiri. Ibuku tersenyum menatap Astrid, tanganya masih ke pegang. Bola mata ibu menatap penuh ke arah Astrid dan melepaskan tanganku. Astrid mengulurkan tangannya untuk menyalami ibuku. Ibuku tersenyum lebar dengan menatap tajam Astrid.
"Ini siapa?" tanya ibuku padanya.
"Astrid.. Ibuk.." jawab Astri memperkenalkan diri.
Brukk..
Aku terkejut dua wanita yang baru pertama berjumpa ini saling memeluk. Seolah seorang ibu yang sudah lama tidak bertemu anaknya. Aku terenyuh melihat dua wanita saling berpelukan di depan mataku. Mereka baru kenal, dan mereka berpelukan seerat itu.
"Astrid rumahnya mana?" tanya Ibu.
"Tangerang buk.." Astrid tersenyum menatap ibuku.
"Temen kerja anak saya?"
__ADS_1
"Hehe iya buk.."
Tangan ibuku masih memegang tangan Astrid, seperti mereka yang sudah lama kenal dan terpisahkan oleh jarak dan waktu. Mata ibuku berkaca-kaca menatap Astrid.
"Anake dewe we ra tau di kekep kok.." aku ikut masuk ke perbincangan mereka.
"Halahhh koe..." ibuku belum melanjutkan bicara
"Nggak usah buk, nggak usah, sama Astri aja. Haha.." Astrid memotong pembicaraan dan mencoba memprovokasi ibuku.
"Hahaha.." aku hanya tertawa melihat mereka langsung akrab.
"Gio suka nakal nggak buk?" tanya Astrid.
"Iya, kadang suka nakal."
"Ahhhaahaha.. Apaan, kapan?" aku memotong pembicaraan.
"Tuh Gio nggak boleh nakal, marahin aja buk Gio!"
Ibu mengajak Astrid untuk duduk di dalam, ia melepas tangannya, menyuruh kami untuk duduk di kursi yang ada di depan pintu rumah. Ibu berjalan masuk menuju ke dapur untuk mengambilkan minum.
"Kamu suka nakal apa?" tanya Astrid.
"Hah?? Enggak ada. Ibuku suka gitu kok.
"Nggak percaya. Aku percaya ibuk."
"Lah..beneran kok haha.."
"Dudududu.."
"Eh beneran aku nggak nakal." aku meyakinkannya.
"Lalalala... Dudududuu.. Lalalala..." Astrid tidak mau mendengarku.
"Hahaha.. " aku sudah pasrah kalau dia udah nyanyi seperti itu. Meskipun itu hanya sebuah bercandaan.
Aku merebahkan badanku ke kursi sofa itu. Aku memperhatikan Astrid yang sedang memperhatikan tempat itu.
"Astrid suka kopi enggak?" ibuku keluar dari pintu dengan membawa nampan dengan dua gelas kopi di bawanya.
"Suka, tapi enggak sering." jawab Astrid.
"Ini di minum ya." ibu menurunkan gelas itu ke meja depan kami.
"Ssst Eka piye? Hehehe." ibuku menanyakan Eka, mantanku yang pernah menjalin hubungan selama tiga tahun denganku.
"Hmmm? Rasah bahas.." aku meminta ibu untuk tidak membahasnya. Bisa jadi nanti aku di introgasi pas pulang.
Astrid nampak bingung dan memperhatikan saja. Sepertinya ia tidak memahami yang di bicarakan ibu.
"Apaa?" Astrid bertanya dengan suara pelan.
"Haha nggak tahu tuh ibuk." jawabku.
"Hehehe.." ibu tertawa dengan suasana ini.
__ADS_1
Selang beberapa menit aku pamit untuk pulang, karena tidak baik juga bertamu malam-malam, apa lagi itu rumah orang lain.