
Kembali menuju kota Jogja, kali ini aku dan dia harus melewati jalan yang menurutku ini sangat panjang. Lampu penerang di sepanjang jalan sudah saling menyala menerangi jalan yang sudah di selimuti gelapnya malam. Pundakku terasa agak berat, aku coba lihat ke belakang melalui spion sebelah kiri, Astrid merebahkan kepalanya ke pundakku. Ia tertidur hanya dalam sekejap saja. Tangannya erat sekali memeluk pinggangku, seakan biar ia tidak terjatuh dari motor. Aku pun juga agak lupa dengan jalan yang di lewati ketika kami berangkat sore tadi.
"Kamu capek?" Suara Astrid memecah keheningan dalam perjalanan,
"Enggak kok.." Jawabku mencoba menenangkannya,
Ia kembali diam, aku hanya fokus pada jalan yang gelap ini. Aku baru menyadari bahwa ini bukan jalan yang aku lewati tadi,
"Loh kok jalan ini beda dari yang tadi." Kataku dalam hati
Ada bukit - bukit yang agak gelap, tapi jalanannya halus. Aku terus lurus saja..
"Ini kita ke kiri apa ke kanan.." Tanyaku ke Astrid ketika menemui jalan bercabang,
"Ke kanan aja.." Jawabnya agak lemes,
Entah dia sadar atau tidak, tapi aku ikuti saja apa katanya. Terus melaju sudah mulai memasuki kota, dan sempat agak macet di perjalanan. Dan aku heran ada pasar malam di sebuah lapangan tepat di pinggir jalan.
"Ini bukan jalan yang tadi kan?" Tanyaku heran,
"Iya ini bukan jalan yang tadi.." Jawabnya,
"Kita nanti tembus mana?" Tanyaku bingung, karena aku tidak tahu jalan ini,
"Kita jalan aja, nanti aku arahin." Jawabnya,
Setelah melewati kota akhirnya kami sudah kembali ke jalur yang aku ingat. Jalan yang tidak asing lagi bagiku.
"Nanti kalau ada warung di pinggir jalan berhenti ya, kita beli minum sebentar.." Kata Astrid,
__ADS_1
"Iyaa.."
*******
Kami berhenti di sebuah warung kecil berpagar bambu di pinggir jalan untuk membeli air minum.
"Kamu capek?" Tanya Astrid sambil membuka tutup botol minuman yang ia beli,
"Enggak kok." Jawabku singkat sambil menatapnya,
"Sudah hampir sampai kok.." Kata Astrid, Ia berdiri dan menutup kembali botol tadi,
Kami melanjutkan perjalanan, yang ku ingat sebentar lagi kami sudah sampai di Bukit Bintang.
"Habis ini mau makan di mana?" Tanya Astrid tangannya sambil menolehkan kaca sepion sebelah kiri menghadap wajahnya, sehingga aku juga bisa melihat wajahnya tanpa perlu menoleh ke belakang,
"Iya, mau di SC apa di pecel lele yang di Janti?"
"Pecel lele aja po?" Tanyaku,
"Ya udah pecel lele Janti aja.." Jawabnya,
Kami menuju sebuah tempat makan pecel lele favorit nya, ya awalnya memang favoritnya, tapi setelah itu ini juga tempat favoritku juga.
******
Di sebuah tempat di bawah jembatan layang Jogja, duduk di lesehan beralaskan tikar agak tipis, di sekelilingi orang - orang yang tampak sederhana sedang menikmati hidangan yang ia pesan di tempat ini. Ya, pecel lele di sini memang enak.
Angin berhembus namun tidak mampu membuat tubuhku terasa kedinginan, terlupakan oleh rasa hangat di kala ku duduk berdekatan dengannya. Ia menatapku seakan menahan kata di antara bibirnya.
__ADS_1
"Aku sayang sama kamu.."
Seketika dunia ini seperti berhenti berputar, jantung ini berhenti berdetak, tapi aku masih bisa hidup. Aku hanya terdiam, bibirku terkunci. Tidak tahu apa yang harus ku ucap, berat bibir ini berucap. Aku hanya menatapnya, matanya memancarkan arti ia berkata dengan jujur dan keberanian.
"Aku sayang sama kamu!"
Sekali lagi aku di buatnya terpaku membisu, astaga.. Bukankah ini seharusnya adalah hal yang ku tunggu, aku hanya terdiam hanya mendengarkan apa yang akan ia teruskan dalam pembicaraan ini.
"Sekarang kamu mau apa lagi?" Tanya Astrid,
Suasana ini menjadi mencekam, seprti hanya ada aku dan dia. Tidak ku dengar suara lain yang mengganggu pancaran kekuatannya untuk mengutarakan ini.
"Ini kan yang kamu mau? Sekarang aku bilang aku sayang sama kamu." Matanya sangat tajam menatapku,
"Aku sudah merasakan, kamu begitu keterlaluan.."
"Aku tahu kamu lelah, kamu ngantuk.. Aku tahu kamu bohong waktu aku tanya kamu tadi."
"Kamu bohong kalau kamu nggak ngantuk, kamu pasti lelah, tapi demi aku, kamu bilang enggak!"
"Sudah banyak hal yang kamu lakukan hanya untuk menuruti kemauanku.."
"Sekarang aku bilang, AKU SAYANG KAMU."
Hal ini tak terduga sama sekali, tapi ini juga menyenangkan, ini jawaban yang aku tunggu. Meski aku menduga kamu menyayangiku, kamu membuktikan itu melalui sikap dan perbuatanmu padaku. Kali ini akulah yang seperti terbius dengan keadaan ini. Aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Diantara rasa ngantuk dan lelah, kamu bisa menyatakan ini. Hati kita memanglah menyatu. Namun ada ikatan lain yang tidak mungkin membuat kita menjalin ikatan lebih dari ini.
Aku bahagia, ini menjadi sejarah yang baru saja di ukir. Di sini di bawah jembatan atau flyover Janti, Jogja. Aku mendapatkan hatimu untukku.
******
__ADS_1