
Pagi ini ku nikmati dengan cokelat hangat dan sari roti rasa blueberry. Karena udara masih terasa dingin jadi aku duduk di kursi yang dimana sinar matahari bisa menghangatkan badanku. Sambil membuka facebook membaca berita-berita bola. Dan juga mengirim pesan ke Astrid.
"Selamat pagi sayang.." Setidaknya itu sudah menunjukan aku sudah memberi kabar padanya.
Handphone ku tiba-tiba berdering, tidak lain yang memanggil adalah Astrid.
"Halo, Gio." Sapa Astrid.
"Iya halo.."
"Kamu lagi apa?"
"Lagi duduk sambil minum cokelat aja."
"Ya udah habis ini kamu mandi kita pergi ya?"
"Hmm? Iya."
"Pakai baju yang rapi."
"Emang mau kemana?"
"Ke Calista.."
"Oke.. Ya udah aku mandi dulu."
Tanpa pikir panjang aku segera beranjak mengambil handukku.
"Agak nandi yok?" Tanya Omes. (Mau kemana yo?)
__ADS_1
"Meh ngeterke Astrid neng Calista." Jawabku sambil menuju ke kamar mandi.
(Mau nganterin Astrid ke Calista)
Karena udara masih terasa dingin, aku harus cepat-cepat mandinya. Dan bersiap untuk menjemput tuan puteri Astrid.
******
Aku tidak tahu Calista secara detail, yang ku tahu aku sudah ada di depan gedung dengan tulisan besar Calista. Aku dan Astrid meninggalkan motor di parkiran. Aku mengikuti kedua kaki Astrid yang berjalan masuk ke dalam. Aku masih heran tempat apa ini? Kenapa aku di ajak ke sini?
"Kita mau ngapain?" Tanyaku
"Kamu nanti foto, jadi rapikan rambut sama bajumu ya?!"
Aku tetap berjalan di sampingnya, menuju tempat registrasi. Ya Astrid menemui wanita, ia mendaftarkanku untuk sesi foto. Aku sendiri nggak nyangka kalau aku ke sini untuk foto. Tanganku di tariknya supaya aku segera mengikuti kemana Astrid akan menuju.
Kami berjalan menaiki tangga. Aku hanya diam karena aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan di sini. Di depan tampak seorang bapak-bapak menyapa kami.
Pria setengah baya itu mengajak aku dan Astrid ke sebuah bilik, aku melihat sekeliling tertutup kain seperti korden berwarna merah marun.
"Silahkan di rapikan, ini sisirnya. Monggo, itu kaca cerminnya kalau mau ngaca dulu."
Aku mengikuti saran dari pria itu yang seperti sedang mensetting camera untuk sesi foto.
"Gio, coba lihat sini.." Astrid membenarkan kerah bajuku yang agak kusut.
"Udah rapi?" Tanyaku,
"Udah sih diem dulu baru di benerin ini.."
__ADS_1
"Foto berdua juga?" Tanyaku,
"Ya enggak lah ini kan foto buat kamu nanti melamar kerja!"
"Hahaha.. Bagus kan kalau melamar kerja fotonya kita berdua."
"Langsung di panggil dua-duanya."
"Udah kan?"
"Bentar, pakai ini juga!"
"Hah apaan itu?"
"Haha udah diem sini aku pakaiin.."
Wajahku di pupuk pakai bedak, udah kaya bayi aja di bedakin. Telapak tangannya mengusap-usap wajahku hingga dia pikir itu sudah rata.
"Hmm kenapa pakai ini juga si, kaya Gio kecil aja.."
"Hahaha.. Emang kamu anak kecil kan?! Makanya biar cakep di bedakin dulu."
"Iya, tapi jangan tebel gini.."
"Udah si nurut aja sama Astrid, cuma buat foto aja kok hahaha."
Aku cuma pasrah aja, yang penting usahanya membawa ku ke sini tidak membuatnya kecewa.
"Ayo mas, foto dulu ya.."
__ADS_1
Pria itu berbicara secara ramah, ya walaupun nadanya kaya lagi ngajak anak TK ngobrol. Aku berdiri tegak menghadap kamera selayaknya orang foto formal. Aku mengenakan baju kotak-kotak warna hijau gelap. Ini akan menjadi foto yang berharga karena usahanya yang tanpa ku tahu rencananya secara detail. Hanya satu tujuan yang ku tahu darinya. Membawaku ke Tangerang bersamanya.
******