Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 22


__ADS_3

Aku mendengar suara pintu terbuka dari luar, langkah kaki entah siapa yang tergesa\-gesa. Aku enggan mengintip suara tapak kaki yang semakin terdengar jelas ke telingaku. Mataku sedikit mulai terbuka saat pintu kamarku di buka seseorang yang mau menyimpan tas dan jaketnya. Aku menarik selimut hingga menutupi kepalaku. Rasanya aku tak ingin beranjak dari kasurku, tapi aku di paksa harus membuka selimutku saat hidungku mencium bau wangi yang tidak asing untuk hidungku.



"Pagi Gio.." Suara lembut yang tak lain adalah Astrid. Perempuan istimewa yang mengukir sebuah cerita dari bulan lalu. Aku sesekali menguap sambil melihatnya yang sedang mewarnai bibirnya dengan lipstik. Rasanya aku ingin beranjak dan berdiri di depannya, mengganggu ketika ia bercermin. Aku akan terus melakukan itu setiap ia dandan di depan cermin, tapi tunggu aku setelah mandi, atau cuci muka. Asalkan tidak kucel di depannya.



Aku beranjak dari tempat tidurku, sempat ku rapikan dulu selimutku. Tiba\-tiba suara Mas Matin ku dengar sedikit jelas, entah dia bicara dengan siapa. Aku menarik pintu dan menengok keluar, ada Mas Matin yang berdiri dengan Omes.


"Renang yo yok ro Pak Matin!" ajak Omes yang sudah memakai celana pendek dan sudah siap untuk pergi.


"Ndang salin nek meh melu!" Mas Matin duduk di rak sepatu samping pintu.


"Renang nengdi to?" tanyaku.


"Yo neng banyulah, nek arep ko pitik yo renang neng kebon." Ledek Mas Matin sambil berjalan menuju motor yang ia parkir.


Aku masuk lagi ke dalam kamar, mengambil celana sebagai ganti nanti. Aku menghampiri Astrid terlebih dulu sebelum aku berangkat.


"Kamu mau kemana?" tanya Astrid sambil ia memegang segelas air putih.


"Mau renang sama Mas Matin."

__ADS_1


Tiba\-tiba Astrid berlalu menuju ke pintu. "Pak Matin...! Astrid mau ikut ya?" Astrid teriak di depan pintu. Astaga.. Tingkahnya menggemaskan.


"Ayok kapan, jangan sekarang, kamu lagi kerja." jawab Mas Matin.


"Iya besok pas kita satu shift lagi."


"Boleh kok.."


Tanganku menepuk pundak Astrid yang sedang berdiri dengan gelas di genggaman tangannya. "Dahh aku berangkat ya.." kataku.


"Aku mau bikin nasi goreng." kata Astrid.


"Ya udah bikin, nanti aku minta ya?" kataku.


Kami berangkat hanya bertiga, aku, Omes, dan Mas Matin. Kami berenang di Blue Lagon, tidak begitu lama setelah kami cukup puas, kami kembali ke Outlet lagi.



Aku menyisir rambutku yang dengan jari\-jariku, rambutku memang lebih mudah untuk di sisir dengan jari dari pada menggunakan sisir. Aku berjalan mendekati Astrid yang sedang duduk di kursi yang berada di area checker.


"Mana nasi gorengnya?" tanyaku.


"Udah habis..!" jawabnya.

__ADS_1


"Lahh aku udah request." kataku.


"Haha udah aku makan sama Nita juga." katanya.


"Hmmmm.. Aku bikinin ya nanti?" kataku.


"Iya nanti." jawabnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*


Sore itu aku masuk sore, aku yang sedang duduk di samping freezer sambil minum es teh, tiba\-tiba Astrid mengulurkan piring rotan yang berisi nasi goreng.


"Gio, ini di makan ya..!" katanya sambil berdiri di depanku. Aku pun berdiri memegang piring itu. Tangan Astrid meraih sendok yang ada di piring itu dan mengambil secendok nasi di suapkan ke mulutku. Kepalanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah takut ada yang melihat. "Ssst diem-diem ya.." katanya sambil meletakan sendok itu di piring lagi.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Aku telah menyelesaikan pekerjaanku di malam itu. Ku pikir mandi setelah aktivitas itu akan terasa menyegarkan. Aku telah mengabari Astrid untuk menjemputnya setelah aku selesai kerja. Bahkan itu sudah malam hari.



Aku mengirim pesan whatsapp setelah beberapa kali aku menelponnya, dia bangun tidur. Aku tidak memaksanya untuk keluar menemuiku, tapi aku merayunya suapaya ia mau keluar denganku, haha aku tidak bisa melewatkan sedikit waktu tanpa bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2