Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 25


__ADS_3

 


Ini hari di mana aku menepati janjiku untuknya. Sore itu aku menemaninya ke alun\-alun Magelang, ia sempat mengatakan ingin makan nasi bakar di alun-alun.


 


"Ke Magelang lagi yeeay.." begitulah ucapnya dengan penuh gembira. Jarak Jogja-Magelang sudah bukan lagi persoalan. Setiap ia ingin makan sesuatu di Magelang aku cukup mengiyakan, dan esok berangkat ke tujuan itu.


 


Aku berjalan di sampingnya, kami mengitari area alun\-alun untuk mencari nasi bakar itu. Tak lama kami masuk ke angkringan yang ada di hadapan kami.


 


"Pak ada nasi bakar?" tanya Astrid.


"Wah sudah habis..!" kata bapak yang jualan di angkringan itu.


"Ya udah pak makasih." sahut Astrid.


Astrid menatapku dengan raut wajah yang tampak kecrewa. Ia berjalan menuju angkringan yang lain. Astrid menuju ke Ibu yang sedang membuatkan minum. Ibu itu sontak langsung menatap Astrid yang mendekatinya.


"Buk ada nasi bakar?" tanya Astrid.


"Nggak ada e mbak!" jawab Ibu itu.


"Yaaahhhh.." Astrid nampak kecewa.


"Coba yang sebalah sana mbak!" sambung Ibuitu dengan menunjuk ke angkringan yang tak jauh dari situ.


"Ya udah aku coba ke sana, terima kasih Ibuk." jawab Astrid.


Aku mengikuti langkah kaki Astrid yang menuju ke Angkringan berikutnya.


"Pak ada nasi bakar enggak?" tanya Astrid.


"Ada tapi tinggal satu itu mbak." jawab Bapak itu dengan senyum. Astrid nampak menemukan senyumannya lagi, ia menatapku dengan wajah tersenyum.


"Ada tapi cuma satu." kata Astrid.

__ADS_1


"Ya udah kamu makan aja." kataku.


"Yeeay.. " jawaban yang sering ku dengar ketika ia merasa gembira.


 


Astrid langsung duduk dan mengambil nasi yang terbungkus dengan daun pisang yang tampak layu karena sudah terbakar.


 


"Kamu mau nggak?" tanya Astrid.


"Mana coba." jawabku.


"Satu kali aja ya?" Astrid mengambil satu sendok nasi itu untuk di suapkan ke mulutku.


"Sini.." aku menjemput tangannya yang memegang sendok.


"Dikit aja.." katanya, seperti tidak mau berbagi. Aku tersenyum dengan nadanya itu. Seperti tidak rela makanan itu akan masuk ku mulutku.


"Amm.." nasi itu telah masuk ke mulutku.


"Enak kok!" kataku.


 


Astrid langsung memakan nasi bakar itu dan ia habiskan sendiri. Aku memakan makanan yang lain.


Kami menuju patung kuda yang ada di alun-alun itu. Kami beberapa kali mengambil foto bersama. Kami duduk di bawah pohon untuk sejenak menikmati segarnya udara di alun-alun itu. Tiba - tiba hp nya berdering, Astri menatap layar hp nya.


 


"Bentar ya, aku balas dulu." katanya.


"Siapa?" tanyaku.


"Dia.." jawabnya singkat tak ingin menyebutkan namanya. Tapi aku paham, yang ia maksud adalah Jafar. Aku hanya terdiam, menunggunya membalas chat yang masuk.


"Kami jarang komunikasi, jarang chat. Jadi kalau dia chat, mungkin aku harus meluangkan waktu. Dia sedang berjuang di sana." katanya.

__ADS_1


 


Aku hanya terdiam mendengarnya bercerita, seperti ingin menanggapi, tapi menceritakan tentangnya itu tak membuatku tertarik.


 


"Tapi, akhir-akhir ini aku sangat jarang membalas chatnya ketika aku lagi sama kamu. Aku mulai menunda chatnya, beberapa kali ia telpon nggak aku angkat. Dia selalu ketakutan ketika aku tidak membalas. Apa lagi kalau aku marah, dia sangat takut." Astrid sambil memasukan hpnya ke dalam sakunya.


"Dulu pernah ada kejadian, ketika aku masih kerja di Aldan. Waktu itu ada karyawan Aldan yang mendekatiku, dan dia tahu. Dia orangnya kalau udah marah bahaya. Waktu itu dia datang ke Aldan dengan membawa pisau. Dia mencari orang yang mendekatiku, dia menantangnya untuk berkelahi di tempat itu juga, pisaunya ia lemparkan padanya. Dia ngajak bertarung, aku waktu itu malu, dan aku langsung pulang ke kos. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, terus Jafar mengejarku ke kos, aku bener-bener marah padanya. Aku sempat minta putus, dia nggak pernah mau. Dia nyuruh aku untuk keluar dari Aldan, dia bilang di gaji berapa sampai mau kerja di situ. Aku keluar dari Aldan. Aku malu." katanya.


 


Aku tertegun memikirkan betapa kerasnya orang itu. Tapi dari pertanyaan tentang gaji, aku sedikit menyimpulkan cara ia memandang pekerjaan.


 


"Tapi di balik itu, dia bener-bener menyayangiku. Dia kerja, nabung, dia mau nikahi aku. Apa lagi perjuangan dia dari nol, dari masih kuliah, pakai sepeda ontel. Dia bilang ingin punya mobil, dan sekarang udah tercapai. Dia juga tidak pernah malu menggandeng tanganku di hadapan banyak orang."


 


Aku terdiam, mendengar semua cerita itu. Bagaimana aku bisa berjuang untukmu, aku saja tidak mendapat jawaban dari hatimu. Begitulah kata hatiku yang menahan pilu.


 


"Waktu itu dia ingin menemuimu." katanya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Dia mau bilang terima kasih karena kamu mau tukar shift denganku, jadi dia bisa bertemu aku, tapi aku bilang padanya, biar aku yang bilang terimakasih ke kamu." Astrid menatapku,


"Saat kamu sms, aku buka pesan itu dan aku bilang ke dia kalau kamu sms, terus dia nyuruh aku balas smsmu. Tapi aku saat itu udah ngerasa ada sesuatu yang mungkin membuat kita sedekat ini. Dan lagi, waktu kamu meyakinkan aku untuk nggak resign dari Sambel Cowek, saat itu aku tahu kalau kamu ada niat mau deketin aku." sambungnya.


"Dan aku berjanji mengganti malam tahun baru itu di malam yang lain." katanya.


"Mungkin ini sudah takdir, bisa ketemu kamu." katanya.


 


Aku menghela nafas panjang, karena sejak saat Astrid bercerita, nafasku mulai terengah-engah. Suasana malam yang tenang di alun-alun kota Magelang ini, membuatku terbawa suasana.

__ADS_1


 


__ADS_2