Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 37


__ADS_3

Setelah aku menutup pintu, aku menuju meja yang paling depan. Aku dan Astrid duduk di tempat yang biasa kami duduki.


"Sudah nggak ada kan?" tanyaku.


"Udah nggak ada." jawabnya.


"Tadi di dalam itu berati aku bener-bener lihat. Ku kira itu cuma kucing meloncat." kataku.


Astrid menatapku serius, dia sampai tidak berkedip menatapku. Tapi dari sorot matanya bukan menuju padaku. Bulu kuduku tiba\-tiba merinding hebat.


"Ada apa? " tanyaku.


"Itu rambut siapa?" tanya Astrid balik.


"Rambut, dimana?"


"Itu panjang banget, di pintu dekat kamar mandi."


"Udahlah cuekin aja." kataku.


Memang malam itu hanya tersisa kami berdua, entah Omes dan Cahyo sedang keluar mencari sesuatu. Jadi, aku harus menunggu mereka pulang dulu.


"Masih ada?" tanyaku.


"Udah nggak ada.." jawab Astrid.


Kami bertukar tempat duduk supaya ia tidak melihat hal yang kasat mata di belakangku. Aku sebenarnya tidak bisa melihatnya. Tapi bisa merasakan keberadaan mereka yang dekat denganku. Ketika mereka sedang memperhatikan kami, atau mereka yang memang ada di sana.


"Aku pernah ada kejadian yang mungkin orang nggak akan percaya kalau itu bener-bener aku mengalaminya."


Tiba-tiba Astrid meceritakan pengalamannya yang ia alami namun itu sulit ia percaya. Suasana menjadi sedikit mistis.


"Jadi, waktu itu aku tidur di kos sendirian. Itu seperti mimpi, tapi itu aku ngerasa itu nyata. Seperti aku keluar dari tubuhku, aku bener-bener yakin itu aku bisa ngelihat tubuhku sendiri yang sedang tidur. Kan ada jendela di kamar aku, aku menghadap ke jendela, aku lihat keluar, terus aku mau keluar dari kamar nggak bisa. Aku teriak nggak ada yang dengar, tiba-tiba ada nenek-nenek yang rumahnya dekat sama kos ku itu, terus aku mau nemuin nggak bisa keluar kan, aku bingung gimana cara masuk ke dalam tubuhku lagi. Aku baca doa berkali-kali, sampai akhirnya aku bisa bangun. Saat itu aku langsung nangis, aku takut banget. Pas aku udah bangun itu, ada kabar si nenek yang aku temui itu meninggal."


"Emmm.." aku tidak bisa berkomentar, aku memikirkan apa yang terjadi dengannya. Memang itu sulit di percaya. Tapi, Astrid nggak mungkin mengada-ada. Dia bukan orang yang suka berbicara hal yang konyol.


"Aku pernah minta tolong ke Ustad gitu, buat nutup mata batinku. Udah di tutup, tapi masih bisa lihat. Walaupun nggak sejelas dan sesering dulu."


"Iya, kamu indigo kan.. Mungkin emang susah kalau bawaan dari lahir."


"Pas kita ke Gunung Merapi Purba itu, aku lihat ada mata merah di pohon-pohon di sebelah yang kita lewati itu." kata Astrid.

__ADS_1


"Oh yang waktu kamu meluk erat?"


"Iya.. Itu aku sendiri yang lihat."


Aku tidak ingin ia berlarut dalam suasana mistis ini. Akhirnya Cahyo dan Omes sudah pulang, aku bisa segera pergi dengan Astrid.


"Cahyo dan Omes sudah pulang, ayo kita kemana?" tanyaku.


"Halan-halan yeey.." jawabnya.


"Jalan kemana?" tanyaku.


"Kita naik ke atas aja, mau lihat bukit bintang yang ada di Jakal aja."


Memang itu bukan bukit bintang, tapi karena di Jakal ada medan yang cukup tinggi jadi bisa melihat lampu-lampu yang ada di kota dari atas. Meski nggak seindah yang di Gunung Kidul, tapi asal ia sudah melihatnya itu bisa membuatnya senang.


Aku mengantar Astrid ke kosnya dulu, biar ia ganti pakaian dulu. Setidaknya sudah tidak pakai seragam kerja. Hari sudah malam, jadi aku tidak bisa menunggu di dalam. Aku menunggu di depan gerbang kosnya. Tidak lama ia sudah keluar dengan memakai jaket coklatnya.



Kami berangkat melewati SC lagi, aku menoleh ke SC, tidak ada orang. Bahkan Omes dan Cahyo sudah masuk ke dalam. Kadang aku tidak enak, kalau mereka sudah tidur pintu sudah di kunci dan aku harus membangunkan mereka untuk membuka pintu.



"Di mana?" tanyaku.


"Di sebelah galon yang di depan ruang konsumen."


"Sedang apa?"


"Dia sedang menari-nari."


Astrid menjelaskan apa yang baru saja ia lihat saat kami melewati SC. Tapi aku mencoba mengakhiri percakapan tentang hal mistis itu.



Kami sudah sampai di jalan yang cukup menanjak, dia memintaku menghentikan laju motor. Dia langsung pergi menuju ke sawah yang tak jauh dari jalan. Tapi, saat itu aku tidak tertarik untuk melihatnya juga. Aku menunggu di pinggir sawah. Diapun tidak lama melihatnya dan berbalik menghampiriku.


"Udah yuk..!" kata Astrid.


"Cuma sebentar aja?" tanyaku.

__ADS_1


"Iya yang penting udah lihat."


Begitulah Astrid, kadang ia ingin menikmati apa yang ia lihat, dan kadang hanya untuk mengobati rasa penasarannya saja. Astrid sudah beberapa kali menguap. Aku akan mengantarnya pulang ke kos.


"Kamu udah ngantuk?" tanyaku.


"Iya, pulang yuk." jawabnya.


"Yakin mau pulang?" tanyaku.


"Lanjutin besok, sekarang udah ngantuk banget."


"Ya udah kita pulang."


Astrid naik ke motor, tangannya ia letakan di kedua kakinya. Kepalanya sudah ia rebahkan di pundakku. Aku menarik ke dua tangannya untuk ku pindahkan supaya memelukku.



Sungguh, aku tidak ingin memikirkan sisa waktu ia berada di sini. Memikirkan perpisahan? Tidak, aku tidak yakin jika itu akan baik\-baik saja, namun itulah kenyataan. Aku teringat ucapan Dita waktu itu, bahwa Astrid bilang bahwa tempatku yang sesungguhnya bukanlah di sini, karena itu Astrid akan berusaha untuk membawaku ke Tangerang. Mendapat pekerjaan yang lebih layak. Walaupun di sini memang menjadi rumah untukku. Memang tujuan Astrid baik, namun rasanya aku masih ingin di sini, apalagi adanya Astrid hidupku merasa lebih hidup. Adanya Astrid sangat berpengaruh dalam hidupku, melakukan hal menjadi lebih baik.


Astrid sudah terlelap, tidur di punggungku. Ia sama sekali tidak bergerak. Aku sengaja memelankan laju motorku. Sesekali tanganku mengusap kepalanya, aku merasa dia sudah memiliki rasa. Tapi, baginya itu tidak mudah untuk mengungkapkan. Adanya aku setiap waktu, aku tidak pernah lagi melihatnya membalas chat ataupun telponan dengan pacarnya.


"Astrid.." aku mencoba beberapa kali memanggilnya, karena sudah mau sampai.


"Hmmm" ia hanya merespon dengan suara kantuknya.


"Kamu sayang sama aku?" tanyaku.


"Iya." jawabnya.


Jawabanya cukup membuatku senang, aku hanya memastikan bahwa dugaanku benar. Dugaan bahwa ia juga menyayangiku. Meski aku tahu jawaban yang ia ucapkan ini belum tentu benar, ia sedang tidur dan aku menanyakan itu. Ia pasti tidak sadar menjawabnya.


"Astrid.. Bangun, udah sampai."


"Emmm, iya.."


Ia melepas pelukkannya dan turun dari motor. Tangannya mengambil kunci gerbang yang ia simpan di sakunya. Melihatnya yang masih ngantuk sedang membuka gerbang, dia tidak mengucapkan apa\-apa padaku, dan langsung masuk. Saat pintu gerbangnya hampir tertutup rapat, aku mendekatinya. Tanganku memegang pipinya, matanya sayu menatapku.


"Udah ya.. Aku mau bobok." sambil ia mengcek-ucek matanya.


"Ya udah, selamat malam. Night."

__ADS_1


Aku tersenyum dan ia berjalan menuju kamarnya. Ia tidak pernah mau salaman, dan mencium tanganku, atau menempelkan tanganku di keningnya. Dengan alasan aku lebih muda darinya. Terpuat satu tahun aku lebih muda darinya.


__ADS_2