Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 32


__ADS_3

Cukup bersyukur karena outlet kami cukup ramai pembeli. Semua nota pesanan sudah ku siapkan sebaik mungkin. Posisiku adalah checker, aku harus bisa terbiasa dengan gerak cepat dan teliti untuk memastikan bahwa pesanan tidak ada yang tertukar ataupun salah dalam menyiapkan. Apa lagi aku tidak mau sampai kalah dengan Riko yang juga checker satu, aku menganggapnya rival karena itu akan membuatku terus mencoba melampauinya. Aku selalu memotivasi diri dengan menganggap rekan yang lain adalah rival, bersaing dengan sehat. Itu akan membuatku terus berkembang.



Astrid yang biasanya masuk job di kasir, saat ini dia masuk ke bartender, menyiapkan dan membuatkan minum untuk konsumen. Padahal kondisi sedang ramai tapi aku lihat ia begitu semangat dan ceria.



"Yeeeayyy es teh ku habis!!" Astrid berteriak dengan sangat gembira, padahal yang lain kalau es teh habis itu kebingungan. Intinya jangan sampai stok habis ketika banyak pembeli. Tapi Astrid membuat kami semua tertawa. Tingkah lucunya dan nada bicaranya selalu membuat suasana menjadi tidak suntuk.


"Pak Matin es tehku habis.. Aku suka di bartender aja!"


"Jangan sampai kehabisan, nanti kalau ada pesanan lagi kamu nggak keteter lho mbak." kata Mas Matin sambil tersenyum.


Sesekali aku membantu Astrid mengantarkan minuman sesuai pesanan. Meski saat aku di checker, atau aku di bartender sangat jarang sekali di bantu Astrid. Ia lebih memilih membantu anak-anak yang lain. Aku paham, bukan karena ia tidak mau membantu, tapi biar tidak ada kesan bermesraan di dalam pekerjaan.


Beberapa kali aku mengantar makanan ke konsumen, aku melihat ada perempuan yang ku lihat menurutku hampir mirip dengan Dita. Aku hanya melihat sepintas dan berlalu. Aku berjalan sampai di depan Astrid.


"Di depan ada yang mirip sama Dita." kataku. Astrid menatapku heran, mungkin ia tidak begitu paham dengan yang ku ucapkan, sebab ia tadi sedang sibuk membuat minuman.


"Hah apa?" Astrid tidak paham, dan ingin di perjelas ucapanku.


"Katanya di depan ada cewek yang cantik mirip kaya Dita!" tiba-tiba Pak Agus yang menjelaskan. Seingatku aku tidak mengatakan cantik kaya Dita.


Astrid terdiam dan mengalihkan pandangannya, raut mukanya berubah. Astrid membawa minum dan berlalu melewatiku tanpa melirik sedikitpun. Aku merasa heran, mengapa sorot matanya berubah saat Pak Agus menjelaskan ke Astrid.


Ah mungkin perasaanku saja yang menganggap dia berubah. Aku kembali ke ruangan job ku, dan melanjutkan pekerjaanku. Bebrapa kali Astrid bicara dengan yang lain, tapi tidak menjawab bercandaanku. Aku mulai gelisah dengan apa yang terjadi. Perasaan ini menggangguku dalam keadaan aku yang harusnya fokus.

__ADS_1


Aku mendekati Astrid, dia memalingkan wajahnya dan berlalu pergi. Aku semakin tidak mengerti, pikiranku tak tentu arah, dan pikiranku benar\-benar terganggu dengan sikap itu. Apa dia marah, lalu apa salahku?



Aku mencoba mengejarnya ke yang baru saja lewat di depanku dengan mata yang masih berpaling. Aku mencoba memegang tangannya, ia berusaha melepaskan. Beberapa kali aku mencoba menanyakan apa yang terjadi, dia tetap diam, dan berusaha menjauh dariku.


"Minggir." kata Astrid. Saat aku memegang tangannya yang sedang mengambil es.


"Kamu kenapa?" tanyaku. Astrid tetap saja diam tanpa bicara.


Aku berusaha mengingat kembali kejadian sebelum ia mulai berubah. Aku mengingat apa yang ku ucapkan. Ya, membicarakan ada yang mirip Dita. Apa dia cemburu karena aku lebih ingat wajah Dita? Sepertinya tidak seperti itu.


"Kamu marah gara-gara aku bilang ada yang mirip Dita?" aku mencoba menanyakan kembali.


"Apa harus bilang cantik?" jawab Astrid.


"Cantik? Aku tadi nggak bilang cantik."


"Tadi Pak Agus ngomong kalau kamu bilang cantik kaya Dita. Ya udah kamu pacaran aja sama Dita!"


Astri menghindar dengan mencari kesibukan lain. Sial, mana mungkin aku membicarakannya di sini, kami sedang kerja. Tapi, ini akan sangat menggangguku jika tak di jelaskan. Sangat tidak profesional, tapi bagaimanapun dia yang bisa membuatku tenang. Aku tetap berusaha menjelaskan padanya.


"Aku nggak bilang Dita cantik."


"Udahlah, kamu dekati Dita aja. Pacaran aja sama Dita."


"Enggak! Aku cuma mau sama kamu."

__ADS_1


"Nggak mungkin, kamu aja memuji cewek lain. Ini alasanku masih bertahan dengannya, dia tidak pernah memuji cewek lain di depanku."


"Sumpah, aku tadi nggak bilang cantik mirip Dita."


"Dita cantik kok. Kalau kamu suka ya udah kejar dia."


"Kamu percaya sama Pak Agus, kalau aku bilang begitu?"


"Entahlah. Jangan ganggu aku, aku lagi kerja."


Aku bingung bagaimana menjelaskan, aku sudah bicara jujur padanya, tapi masih saja ia tak mempercayaiku. Mungkin ini sedikit gila, tapi aku harus membuatnya percaya. Kalaupun ini akan menggores tanganku. Aku mengambil pisau yang biasa untuk mengiris jeruk. Cukup runcing namun aku tidak tau itu tajam atau tidak, jika tajam ya biar saja.


Aku menggenggam mata pisau itu, dan ku tunjukan ke Astrid. Cukup terasa bahwa pisau itu memang tajam, aku ingin tahu bagaimana reaksi Astrid saat aku melakukan ini.



Matanya membulat, dan menatapku tajam. Ku pikir dia akan menahanku dan mencemaskanku. "Jangan bodoh." katanya. Di luar dugaan, ku pikir dia akan mengatakan hal yang mungkin dia merasa cemas.


"Aku nggak tahu jalan pikiranmu!" katanya.


"Aku cuma mau kamu percaya aja." kataku.


"Aku bener-bener nggak mengenalmu!"


Kemana arah pembicaraan ini? Aku semakin tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Apa dia kecewa dengan tindakanku? Aku menjadi bodoh karena hatiku yang menjadi keruh. Pisau itu ku letakkan kembali. Pikiranku berusaha mencerna apa yang di bicarakan ini.


Aku terdiam, menyesali apa yang terjadi. Apa ini sepenuhnya salahku? Ah sepertinya tidak. Tapi bagaimana jika dia mempercayai yang di ucapkan Pak Agus? Apa ia lebih mempercayainya? Lalu selama ini, apa dia tidak menaruh rasa percaya padaku? Aku benci diri sendiri mengapa aku tidak bisa membuatnya percaya padaku. Sampai akhirnya dia mendiamkanku, dia memutar sebuah lagu dari Gheisa dengan judul Jika Cinta Dia.

__ADS_1


Aku paham lagu ini mengisyaratkan apa yang ingin dia ucapkan. Jika cinta dia jujurlah padaku, lirik itu yang membuatku merasa ia akan menjauhiku. Apakah kecemburuannya seberat ini? Lalu, bukankah dia kalau cemburu berati menyayangiku? Tapi, mengapa ia menceritakan Fajar? Apa dia membandingkanku? Ini gila. Aku tetaplah aku, aku akan buktikan bahwa ini akan kembali menjadi baik. Meski saat ini dia mendiamkanku.


__ADS_2