Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 7


__ADS_3

Hari itu tanggal 13 Januari 2017. Aku selesai kerja. Sore itu aku ingin pulang ke Magelang, karena hari esoknya aku libur kerja. Apa lagi cuaca terlihat sedang cukup cerah.


Aku pulang dengan sepeda motorku satria f150 warana hitam abu-abu. Sampai Muntilan aku berhenti, karena aku lapar aku mampir ke Olive. Di situ aku memesan makan.


Tiba-tiba Hp ku berbunyi, aku lihat ada Bbm dari Astrid.


"Gio kamu di mana?"


"Lagi pulang,gimana?"


"Boleh minta tolong? Nganterin aku ke Bantul, ke tempat teman bapak aku."


"Ya udah, tapi bentar ya aku mau potong rambut dulu. Mau macak ganteng haha."


"Macak itu apa?"


"Hha.. Macak itu dandan!! Besok aku libur."


"Ya udah besok kita ke Ketep."


"Oke siap,"


 


Setelah makan selesai aku potong rambut, dan balik lagi ke Jogja. Sampai Tempel hujan turun. Aku tak peduli, yang penting aku bisa menemuinya dulu.


 


Aku menuju mes, aku mau mandi dan ganti baju.


"Di goleki Astrid." (Di cariin Astrid) kata Vidi salah satu karyawan.


"Mosok?" kata ku (masa?)


"Iyo mau di goleki Astrid." kata Omes meyakinkanku, (iya tadi di cariin Astrid)


"Mau rene jare mlaku." kata Omes,(tadi kesini jalan kaki katanya)


"Arep tak terke aku ra gelem, katane gak usah." kata Vidi, (mau aku antar gak mau, katanya gak usah)


"Tapi mau nk di terke kowe deke guyu." kata Omes.(tapi tadi kalau di antar kamu dia senyum.)


Entah, aku merasa senang atau lega mendengar keterangan dari mereka. Kaki ku beranjak dan tanganku meraih daun pintu, ku buka perlahan dan menutupnya kembali.


Aku menuju ke sepeda motorku lalu aku duduk. Ku raih handphone ku, aku mengirim pesan padanya ingin tau di mana ia berada saat ini.


 


Tidak lama ia membalas dan menanyakan di mana keberadaanku. Tak lama kemudian aku memintanya untuk datang.


 


Mataku terpaku pada layar handphone ku, sambil menoleh ke jalan berharap dia segera muncul dari depan ku. Langit tak lagi menurunkan air, seperti setuju jika aku malam itu harus bergegas menemaninya ke tempat tujuannya.


Tiba-tiba dia datang, dengan sepeda motor nya beat berwarna hitam. Aku lihat dia mendekat, dia memakai helm putih, dan pasti ia memakai jilbab.


 


Kemudian kami pergi berdua, menuju Bantul dimana tempat teman Ayahnya tinggal.


 

__ADS_1


"Kita arahnya ke mana?" tanyaku.


"Ke Bantul, nanti aku arahin, sekalian lihat di Google Map. Soalnya aku juga nggak hafal." jelasnya.


Sempat kebingungan di jalan, tapi kami sampai di rumah teman dari Ayahnya, yang Astrid bilang sih saudaranya.


Kami masuk di gang di mana aku masih bingung sampai sekarang. Kami berhenti di depan rumah tujuan.


 


Tiba\-tiba seorang wanita tidak terlalu tua, membuka pintu,dan tersenyum menyapa Astrid. Aku masih menatap mereka saling menyapa. Aku masih duduk di sepeda motor, tapi Astrid memintaku untuk ikut masuk.


 


"Kamu udah sehat? Tanya ibu itu.


"Iya, udah." jawab Astrid sambil nyengir.


"Itu siapa?" tanya ibu itu lagi.


"Sama teman buk." jawab Astrid.


Astrid menoleh ku lalu menghampiriku, mengajak ku untuk masuk ke dalam rumah ibu itu.


Kami bercakap-cakap. Entah, pikiranku mulai berhalusinasi jika aku adalah calon Astrid lalu aku di kenalkan seperti ini. Haha itu terasa lucu saja.


 


Tak lama kemudian kami pamit, setelah sampai di luar aku menunggu Astrid yang masih berbicara dengan Ibu itu. Aku mendekati ingin tau apa yang sedang terjadi.


 


 


Sambil mengulungkan tangannya yang memegang amplop.


 


Ibu itu menolak, dan merasa ikhlas karena bisa membantu Astrid ketika ia di rawat di rumah sakit.


Akan tetapi Ibu itu bersikeras bahwa ia meminta uang itu di simpan kembali. Astrid pun luluh, dia kembali memasukan amplop itu ke dalam tas yang dia bawa. Kami kembali ke motor dan pergi meninggalkan rumah Ibu itu.


"Aku boleh ngomong ngga?" kataku.


"Ngomong apa?"


" Kalau di jawa itu gak seperti itu caranya


berimakasih."


 


"Terus gimana?"


"Kalau kamu ngasih barang malah bakal di


terima, di Jawa barang yg di kasih akan terasa lebih berguna dan berharga, daripada uang."


"Aku ngga tau." jawab Astrid.


"Iya, lain kali kalau mau balas terimakasih pakai barang akan di terima, karena kita sudah berjuang nyari barang dan bakal di terima."

__ADS_1


"Ok, lain kali gitu."


 


Malam itu semakin larut, suasana di jalan raya juga sedikit kebih sepi.


"Aku boleh nanya?" kataku.


"Nanya apa?"


"Kenapa kamu ngajak aku, dan bukan yang lain?"


"Engga apa-apa, kamu keberatan?"


"Bukan gitu, cuma penasaran kenapa aku yg kamu ajak padahal ada yg lain."


"Yang lain? Mereka pada sibuk, dan kamu yg sedang ada waktu luang."


"Ohh gitu, ya udah."


 


Aku tidak cukup puas dengan jawabannya, aku masih ingin tau alasannya. Tapi aku memilih diam.


 


"Kamu sudah makan?" tanya Astrid.


"Sudah tadi di Olive waktu kamu chat aku."


"Ya udah temani aku makan ya?"


"Mau makan di mana?"


"Di pecel lele Janti. Aku suka makan di sana."


"Ya udah boleh."


Kami menuju Janti, tepat di bawah jembatan flyover dan dekat rel kereta api, dan kami makan lele goreng di tambah dia suka makan terong goreng.


Kami membicarakan esok nya yang mau pergi ke Magelang, ke Ketep di mana ia ingin ke sana.


"Aku suka makan di sini karena bisa sambil lihat pesawat lewat."


"Hhmm," aku cuma tersenyum.


Apa lagi ketika dia makan dengan mengeluarkan suara dari mulutnya. "Ckckck"


"Kenapa kamu ketawa?" tanya dia.


"Iya kamu makannya lucu, bunyi. Kamu lebih tua dari aku, tapi keliatan lebih muda dari aku."


"Iya, aku sempet di omelin Mamah pas di rumah sakit gegara aku pas makan bunyi."


"Hahahaha, sebenernya itu kurang sopan." kataku.


"Iyaa, bantu aku biar ngga bunyi."


"Ya cuma bisa aku ingatin aja."


Langit terlihat terang, membiarkan bintang untuk menujukan sinarnya pada bumi.

__ADS_1


__ADS_2