
Dalam dunia ini tidak semua apa yang kita minta akan selalu di beri saat itu juga. Kita akan terus berdoa hingga kita pernah berdoa sesuatu yang mungkin sudah kita lupa, namun baru saat ini doa itu terkabul. Tapi kita tidak menyadari bahwa kita pernah meminta keadaan seperti itu.
Dalam perjalanan hidup selalu ku cerna dalam ingatan, untuk supaya aku bisa terus tumbuh. Entah dalam keadaan dan kondisi apapun. Dari apa yang pernah kita lakukan itu baik atau buruk, lalu bagaimana langkah kita selanjutnya. Bagaimana cara kita untuk menerima semudah hingga sesulit keadaan itu. Aku pun hanya berpikir jika Astrid nanti akan menjadi istriku kelak. Tidak menutup kemungkinan aku yang hanya menjadi teman kerja, lalu akan menjadi sesuatu yang lebih.
Aku yang saat itu sudah dekat dengan Astrid, tiba\-tiba aku bisa komunikasi dengan Eka. Ya, mantan pacarku yang sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Aku cukup senang karena aku sudah bisa berhubungan baik dengannya. Namun untuk balikan, aku tidak punya rencana itu. Aku hanya ingin sesuatu yang di mulai dengan baik, harus ku akhiri dengan baik juga.
"Eka itu beneran mantan kamu?" tanya Astrid.
"Iya mantanku. Tapi sudah lama kok." jawabku.
"Kamu masih sayang sama dia?" tanya Astrid.
"Enggak kok." jawabku.
"Kata Pak Matin, dia di Malaysia. Katanya mau pulang." Astrid mulai menanyakan hal yang sangat membuatku malas untuk menjelaskan. Tapi aku tidak bisa menutupi sesuatu yang orang lain ingin tahu. Aku tidak suka jika ada orang yang ragu denganku, jadi aku akan menjelaskan hingga ia bisa yakin dan percaya dengan yang ku katakan.
Malam itu aku menepati janji untuk mengajak Astrid pergi ke suatu tempat yang mungkin menurutku akan membuatnya senang. Di sebuah resto cukup sederhana namun itu cukup luas. Apa lagi itu tempatku dulu bekerja, beberapa karyawan di sana juga mengenaliku.
Aku membawa Astrid di suatu gasebo yang cukup menarik. Di kelilingi kolam yang airnya cukup bersih karena saluran ke kolam renang di dekatnya. Suasana lampu yang remang-remang, lampu taman yang tak terlalu terang. Dan sebuah pulau kecil berbentuk hati di tengah-tengah kolam kecil di dekat gasebo itu.
"Kamu suka?" tanyaku.
"Iya suka banget." jawabnya.
"Hhm.." aku tersenyum dan menatap matanya.
"Aku deg-degan Gio." jawabmya.
__ADS_1
"Kenapa deg-degan?" tanyaku penasarana.
"Tempat ini sepi, dan kita berdua di sini. Ya tempatnya cukup romantis, jadi aku deg-degan gini." Astrid menoleh ke kanan ke kiri memperhatikan sekitar tempat itu.
"Karena aku sayang sama kamu?" tanyaku.
"Entah.. Kamu membuatku deg-degan jantung ini." ia menempelkan telapak tangannya ke dada.
Kami memesan makanan yang mungkin begitu ia sukai. "Aku bisa membuatmu cinta kepadaku." kataku sambil makan, mataku menatap matanya. Ya seperti lagu dari Asbak band dengan lagunya yang berjudul membuatmu cinta padaku. Aku bisa buktikan itu, membuat Astrid cinta padaku.
"Aku nggak bisa jawab itu." kata Astrid dengan tatapan penuh banyak misteri.
"Iya, aku udah pernah bilang, biarkan aku mencintaimu, kamu nggak perlu jawab iya atau tidak. Aku cuma minta ijinkan aku menyayangimu. Terserah kamu mau menerima atau tidak. Asal aku masih bisa menyayangimu. Biarkan aku terus mengejarmu." kataku.
"Lalu bagaimana jika aku nggak bisa denganmu?" matanya menatapku tajam.
"Kamu nanti akan sakit hati. Apa lagi nanti ketika dia datang menjemputku." ia menundukan kepalanya.
"Aku hanya bilang aku menyayangimu. Bukan meminta kamu jadi pacarku. Dan kita tetap seperti ini." aku meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
Tangannya mengambil sesendok makanan dan ia suapkan ke mulutku. Aku hanya tersenyum dengan caranya mengalihkan pembicaraan itu. Aku tidak pernah tahu apa yang nantinya akan aku rasakan ketika benar\-benar ia akan pergi. Tapi, aku selalu yakin aku bisa membuatnya menyayangiku. Aku tahu itu salah, tapi bagaimana jika Astrid benar menyayangiku. Aku juga tidak tahu.
Malam itu cukup di bilang romantis. Apa lagi ia menyukai tempat itu, dan makanan yang ia sukai juga. Membuatku lega, dan tenang. Setelah kami selesai makan kamipun pulng.
"Dulu aku kalau kerja pulangnya lewat sini." kata Astrid.
__ADS_1
"Emang kerja di mana?" tanyaku.
"Dulu waktu masih kerja di Asus." jawabnya.
Kami pulang melewati Jln.Palagan, karena rute ini paling cepat untuk menuju ke Jakal.
"Waktu kamu pulang ke Magelang pas kita habis main ke Ketep, kamu masih ingat?" tanyanya.
"Emm... Iya aku ingat." jawabku.
"Aku di bikin panas sama Pak Matin." jawabnya.
"Di bikin panas gimana?"
"Dia bilang gini, Gio nggak ada kabar ya mbak? Terus aku jawab iya Pak. Katanya gini, Gio tuh lagi ke Wonosari nemui Wulan. Coba di hubungi, aku jawab cuma ceklis, Pak Matin bilang di Wonosari nggak ada sinyal mbak, makanya dia nggak ngabarin kamu. Aku sempet mau percaya, tapi ah nggak mungkin ah, Gio bilang mau pulang ke Magelang. Gitu." jawabnya.
"Hahahah.. Padahal di rumah nggak ada sinyal." kataku.
"Ya aku nggak tahu, siapa tahu kamu lagi nemuin Eka." katanya.
"Apaan sih, dia kan di Malaysia." kataku.
"Dududududu.."
"Hahaha.."
Malam itu sempat membuatku senam jantung, aku khawatir jika ia tak mempercayaiku.
__ADS_1