
Pagi menjelang siang perjalanan kami melewati jalan dari Jogja menuju ke Magelang. Sekitar satu jam perjalanan telah sampai di Kota Muntilan, ya maklum aku hanya mengendarai motor dengan pelan, karena di perjalanan kami mengisi dengan obrolan. Jalan menuju ke rumahku tidak jauh lagi, dan kami melewati rumahnya Novi. Awalnya aku hanya diam, kalau Astrid tidak menanyakan itu aku akan diam saja. Tapi dia bukan pelupa kelas berat haha, ia akan mengingatnya.
"Mana rumah Novi?" hampir sepanjang jalan ia terus bertanya seperti itu. Aku juga tidak suka untuk berbohong, jadi aku akan mengatakannya meski aku harus mencari alasan untuk mengelak dari kata\-katanya yang kadang berusaha menjebakku.
"Itu rumahnya!"
Aku menunjuk salah satu rumah di pinggir jalan, dan memang benar itu adalah rumah gadis itu. Terdapat warung kecil di depan rumahnya, jadi mudah untuk menghafalnya jika aku tujukkan ke Astrid.
"Yang itu, kok nggak ada Novinya?" tanya Astrid.
"Ya mungkin di dalam." jawabku.
"Ih Gio, jalannya pelan aja. Aku mau teriak manggil dek Novi. Hakhakhak.."
"Haha jangan!"
Kami melewati jembatan yang pada waktu itu aku meninggalkan Astrid di situ. Bukan meninggalkan, tapi aku memintanya menungguku sih.
"Ini jembatan yang waktu kita ke Ketep kan?" tanya Astrid.
"Iya waktu aku ganti baju."
"Yang waktu kamu ninggalin aku."
"Nggak ninggalin, kan aku balik lagi."
"Iya waktu kamu nyulik aku."
Memang aku tidak pernah sembarangan untuk membawa pulang perempuan. Bukan apa-apa, hanya menghindari suara tetangga saja. Tapi setelah cukup kenal dekat, aku bisa membawanya pulang kapan saja selama dia mau.
Kami sudah sampai, aku harap dia tidak kaget melihat gubuk tua ini. Aku tidak begitu mengerti ekonomi keluarganya, tapi aku yakin itu sangat berbeda di bandingkan denganku. Letak rumahku mudah untuk di cari, karena rumahku letaknya paling ujung selatan, ada sungai irigasi di depan rumahku, dan hanya ada dua rumah, rumahku dam rumah Pakde ku yang berjajar.
Di depan rumahku sudah ada wanita dengan usia sekitar tigapuluh tahun duduk di teras rumah Pakde, ya ia adalah anak perempuan dari Pakde, dan bersama anaknya yang masih SD kelas 6, namanya Ana. Aku mendekat dan berjabatangan, Astridpun ikut berjabatangan.
"Sopo kae lik?" tanya Ana.
"Kenalan dewe kono!" kataku.
__ADS_1
"Ana isin.." kata Ana.
Aku mengajak Astrid masuk ke rumah Pakde, karena di rumahku pasti sangat kotor, jadi aku membawanya masuk di rumah sebelah saja. Di situ Astrid di buatkan teh anget dan ada beberapa biskuit untuk di makan.
"Aku suka ini.." kata Astrid, dengan tangannya yang mengambil biskuit itu untuk di makan.
Aku beranjak dari kursi, menuju rumahku. Ku raih kunci yang aku gantungkan dengan kontak motorku, lalu ku buka pintu rumahku. Astaga, sudah berdebu. Dua bulan aku tidak masuk rumah, meski aku kadang pulang tapi aku masuk rumah Pakde.
Rencana hari ini kita bersih\-bersih, dari dalam sampai mencabut rumput yang sudah memanjang di halaman rumah. Dan waktu itu Astrid menawarkan diri untuk membantuku membersihkannya.
"Ayo dari mana dulu?" tanya Astrid sambil memakai baff untuk menutupi hidung dan mulutnya.
"Aku akan menyapu bagian dalam dulu." kataku.
"Ini kamar kamu?" tanya Astrid.
"Iya ini kamarku." jawabku.
"Ini harus di pel biar bersih!" katanya.
"Nggak ada pel di rumah." kataku.
Pemandangan yang membuatku heran, bahkan terkejut. Dia jongkok, dan mengepel lantai kamarku dengan tangannya, bahkan aku saja tidak pernah melakukan itu di kamarku. Luar biasa wanita ini, bahkan dia terlihat lebih sibuk dari pada aku yang menyapu, dan membersihkan sarang laba\-laba. Aku membayangkan bagaimana jika ia nanti akan menjadi istriku, pasti aku akan sangat bahagia.
"Nih udah, tinggal nunggu kering aja." kata Astrid.
"Habis ini tinggal nyabut rumput di depan." kataku.
"Ada kaos tangan nggak?" tanya Astrid.
"Nggak ada.. Ya udah biar aku aja." kataku.
Astrid berlalu menuju keluar. Dia mulai mencabuti rumput liar yang sudah mulai panjang\-panjang.
"Aaaaaaaaaaaaaaa.."
Aku langsung bergegas dari dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi, sampai Astrid teriak cukup keras.
"Ada apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Aaaa.. Ada cacing!"
"Hahaha..." aku tertawa melihat raut mukanya yang terlihat asem, karena takut dengan cacing.
"Ihh kamu malah ketawa, dasar cowok!!" Astrid ngomel-ngomel padaku,
"Mana mana?" tanyaku sambil tertawa.
"Tadi ada! Tuh tuh tuh.. Hiii geli, jijik!" katanya sambil menjauhi rumput itu.
Tadi sudah terlihat antusias, begitu semangat untuk mencabuti rumput. Eh malah takut sama cacing.
"Udah ah aku nggak mau cabut rumput." katanya.
"Ya udah kamu duduk aja, haha."
"Apaan coba, giliran sama cacing takut." Astrid ngomelin dirinya sendiri.
******
Tugas telah selesai, kami berpamitan untuk kembali ke jogja lagi. Tapi sebelum itu, aku akan membawanya ke mie ayam bakso terenak nomor tiga. Tidak terlalu jauh dari rumahku, mungkin sekitar 15 menit sampai.
"Kamu pesan apa?" tanya Astrid.
"Mie ayam aja." kataku.
"Kasih bakso enggak?"
"Sama kek kamu aja."
"Ya udah mie ayam bakso dua jadinya."
"Iya."
Kami menikmati pesanan dan lalu berngkat lagi ke jogja.
"Tadi itu murah lho, masa mie ayam bakso dua, es teh nya dua, terus kerupuk dua, cuma dua enam."
"Ya emang begini kalau di tempatku, makanan mahal nggak laku."
"Ya udah besok kita lanjut ke mie ayam yang terenak."
__ADS_1
"Siappp."