Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
Bab 67


__ADS_3

Pikiranku tak menentu, seketika saja aku langsung ingat masih ada Jafar. Apa Astrid sudah berubah pikiran untuk segera menghentikan kedekatan ini? Lalu ia memilih Jafar. Masa iya hatinya bisa berubah secepat itu. Masa sih dia nggak konsisten dengan ucapannya? Astaga, Tuhan aku belum siap untuk ini. Masih banyak hal yang ingin ku lalui dengannya. Baiklah aku coba hubungi dia lagi.


"Sayang.."


Setelah beberapa menit ku tunggu balasan pesanku, itu tidak ada perubahannya. Pesanku di baca selang waktu beberapa menit. Tapi ia tidak membalasnya.


"Tingklung" suara notif hp ku berbunyi.


"Sana kamu hubungi saja eka!"


Loh kenapa jadi Eka? Apa hubungannya, padahal aku tidak komunikasi dengannya, nomornya yang kemarin ku simpan juga sudah ku hapus, karena takut Astrid tahu dan berpikir yang tidak-tidak.


"Kok jadi Eka?" Aku membalasnya


"Aku sebel sama kamu"


"Sebel kenapa?"


"Kenapa facebook kamu dan Eka bisa online secara bersamaan?"


"Ya aku nggak tahu.. Orang dari tadi aku nggak buka Fb."


"Bodo amat."


"Lah kamu yang buka, masa marah ke aku.."


"Dududududu.."


"Tuh kan.. Udah sih ngambeknya."


"Aku masih sebel.. Aku mau ngambek."


"Ngambek kok bilang-bilang.."

__ADS_1


"Dasar playboy!!"


"Itu kan dulu."


"Enggak, sekarang juga masih."


"Mana ada, aku cuma punya kamu. Coba aja tanya sama anak-anak SC (Sambel Cowek) mereka juga tahunya aku kekasihnya Astrid."


"Dudududuududu.."


"Mulai lagi.."


Ahh rasanya agak lega sih, ku kira ada hal penting yang sangat membahayakan hubungan ini. Ternyata ulah dia sendiri.


"Aku laper.."


"Ayo ku temenin makan.." Jawab Astrid,


Sejauh ini tidak ku temui wanita sepertinya. Yang saling mengimbangi mengenai rasa dan sikap. Aku terlalu membanggakanmu dimana kamu adalah pacar Jafar. Ya, aku saat ini tidak perduli dengan status mereka. Sekali lagi, aku mencintai Astrid meski tanpa ada balas rasa. Sampai kapanpun aku akan menyayanginya, kali ini aku berjanji soal itu.


Rasa khawatir itu sudah sirna, sebab pelipur lara sudah ada di depan mata. Hari ini kami berdua berada di rumah makan kecil. Di warung makan GAJEBO (GaJelasBoo). Menunya lumayan bervariasi, tapi aku nggak baca semua, langsung pesen aja sama kaya Astrid, dah gitu selagi di buatin aku dan Astrid mencari tempat duduk yang kosong. Soalnya lumayan ramai juga.


"Aku minggu depan udah nggak kerja lagi.." Kata Astrid,


"Sampai hari apa?" Tanyaku,


"Senin udah yang terakhir.."


"Hmmm..."


Aku agak kecewa sih, ya mau gimana lagi emang dari awal juga udah bilangnya tinggal empat bulan lagi.


"Aku pengen kamu ikut ke Tangerang.."

__ADS_1


"Insyaalloh... Semoga ada jalan."


"Aku juga udah tanya-tanya ke Angga. Kalau kamu bisa masuk kerja di tempatnya enggak."


"Terus dia gimana?"


"Ya dia bilangnya suruh bikin lamaran aja, nanti biar di bawa. Dan untuk tempat tinggal aku minta dia yang urus."


"Haha.. Dia mau?"


"Ya harus mau, Astrid bilangnya pokoknya di tanggung sama Angga, jangan sampai kamu ke sananya ngegembel.."


"Hahaha ngegembel.."


"Jangan sampai Gio terlantar di sana. Aku bilang ke Angga gitu haha.."


"Ya kalau sekarang sih pasti belum bisa, syarat-syaratnya juga belum di bikin."


"Besok setelah aku resign, aku mau kita urus syaratnya, kita bikin biar kamu bisa ikut Astrid ke Tangerang."


"KTP aku juga hilang belum sempet bikin."


"Besok kalau kamu libur, kita urus KTP, kartu kuning, Skck, dan besok kita bikin foto."


"Iya.." Aku cuma pasrah, tapi senang.


"Kamu keberatan?"


"Eng.. Enggak. Malah seneng ada yang nemenin urus KTP."


"Ya pokoknya kita bikin. Biar cepet jadi."


Ini gila sih, Astrid istimewa. Sejauh itu ia memikirkan nasibku nanti. Bahkan aku nggak pernah mikirin KTP ku yang hilang. Semangatnya membuatku jadi ikut terbakar. Baiklah aku merasa bisa sampai ke Tangerang. Hmmm seperti apa tempatnya, aku jadi penasaran.

__ADS_1


*****


__ADS_2