
Aku masih memegang gelas besar yg berisikan teh panas itu sudah mulai menjadi hangat. Aku sedikit meniup teh ku untuk kembali ku serutup.
Astrid meletakkan gelasnya yg baru saja ia pegang. Entah bola matanya nampak menuju ke arah tasnya, lalu tangannya meraih tas yg ia rebahkan di sampingnya. Aku hanya memperhatikan apa yg akan ia lakukan, aku meliriknya sambil meminum teh ku yg masih hangat.
Astrid mengambil botol kecil yg ia jadikan sebagai gantungan tasnya, tidak lain itu adalah freshcare, dan aku terkejut dengan apa yang ia lakukan dengan freshcarenya. Ia genggam benda itu dan melepas tutupnya lalu tangannya menuju ke telapak kakiku. Dia mengoleskan freshcare itu di telapak kakiku yg sudah tak memakai sepatu sejak kami hendak duduk di lesehan itu.
Astaga.. Dia mau melakukan ini untukku. Dia usap telapak kakiku hingga bagian atas kakiku. Jujur saja, aku sangat terkejut. Ini pertama kali aku melihat perempuan seberani ini, atau ku pikir juga belum kenal lama, tapi dia tanpa risih mengusap kakiku supaya tidak kedinginan lagi. Astaga... Sebaik inikah dia? Masih banyak hal yg belum aku ketahui tentangnya.
Dia mengoleskan juga ke kakinya, lalu menutup kembali dan ia letakan sebagai gantungan tas. Aku merasa senang, dan heran. Ia melakukan ini tanpa ragu.
"Udah anget kan?" tanya Astrid.
"Udah kok." jawabku masih terheran-heran.
__ADS_1
Pesanan kami sudah datang dengan di bawakan mangkuk kecil untuk mencuci tangan. Kami lanjut menikmati hidangan yg sudah siap kami makan.
Astrid juga nampak berbincang\-bincang dengan bapak si penjual pecel lele itu sambil bercanda. Aku menyukai peristiwa ini, ia begitu mudah akrab dengan orang yg baru saja ia temui. Aku semakin penasaran siapa Astrid ini?
"Tadi kamu inget nggak, aku nanya ke kamu pas kita melewati jalan yang gelap itu?" tanya Astrid.
"Iya, aku ingat. Kamu lihat apa?" tanyaku balik.
"Lihat apa?" tanyaku.
"Tadi itu aku melihat ku kira patung, tapi pas aku amati, dia bergerak."
"Terus kamu meluk tadi?"
__ADS_1
"Iya, kalau tempat gelap aku sering lihat seperti itu."
Dia menceritakan banyak hal yg ia tahu. Aku hanya memperhatikan cara ia bicara dengan logat itu. Ya, aku menyukainya.
"Kamu jangan sakit ya!" katanya.
"Iya, aku nggak pernah sakit kok." jawabku.
"Jangan sampai kamu sakit gara-gara Astrid."
"Haha aku ini nggak gampang sakit."
"Kalau sakit besok nggak bisa main lagi."
Dari pernyataan ini, kemungkinan besar akan ada kita lagi. Padahal dia juga kehujanan, malah khawatir dengan keadaanku. Bagaimana dengan dia sendiri yang baru saja keluar dari rumah sakit? Aku juga teringat tentang Astrid yang tidak mau di antar pulang oleh Vidi.
Malam semakin larut, setelah kami selesai makan dan membayar apa yg kami makan. Aku segera menuju motorku yg masih basah. Hampir jam 24.00 WIB, kami meninggalkan tempat makan itu, dan mengantarkan ia ke gerbang kosnya. Setelah ia masuk, aku segera pamit dan meninggalkan lokasi.
__ADS_1
Nyaman sekali, saat berada bersamanya. Aku kembali ke mess dan mandi, ganti baju dan celanaku yg basah. Ingatanku tentang Astrid mulai menari-nari, bagaimana ia bisa mengoleskan freshcare itu dan mengusap menggunakan tangannya. Ah sudahlah tidur saja.