
Pagi ke pagi selama aku satu shift dengan Astrid, kami mulai mengisi waktu-waktu itu untuk melakukan apa saja yang ia suka. Sore itu setelah kami pulang kerja.
"Aku pulang dulu ya!" Astrid mau pulang.
"Tunggu sebentar." kataku.
Astrid yang hendak berjalan menuju motornya lalu ia menghentikan langkahnya, ia menoleh kepadaku.
"Ada pasar malam di Turi." kataku.
"Kamu mau ke sana?" tanya Astrid.
"Kamu mau nggak ke sana?" tanyaku.
"Iya nanti, sekarang aku mau kasih makan emblot dulu, mau main sama emblot dulu, kasihan kemarin di tinggal terus." jawab Astrid.
"Ya udah nanti habis magrib aku jemput ya?"
"Iya, dahh aku mau pulang, mau mandi, udah gerah badan aku." Astrid memakai helmnya.
Ia menyalakan motornya dan bergegas untuk pulang. Aku masih menatapnya yang mulai beranjak pergi.
"Gio gio gio gio..."
Aku menoleh mencari suara itu memanggilku. Ternyata Mas Matin sedang tersenyum dengan ciri khas nya. Aku menghampirinya dan duduk di sebuah kursi panjang yang dasarnya itu adalah rak sepatu.
"Piye piye piye.. Yok?" tanya Mas Matin yang masih berdiri di hadapanku.
"Apane sik piye?" tanyaku balik.
"Ono acara nengendi iki?" tanyanya sambil ikut duduk dan merangkulkan tangannya ke pundakku.
"Ono pasar malem neng turi." kataku.
"Cocok kui, di jak numpak opo ngono! Ning ojo kok tumpaki." Mas Matin sambil nyengir.
"Haha opo to iki ki.." jawabku sambil melepas sepatu yang ku pakai.
"Sssssstttt...." jari telunjuk Mas Matin menutup mulutku. Anjay, dia memang bercandanya suka aneh-aneh.
"Aku tahu apa isi otakmu.." sambung Mas Matin.
Aku hanya tertawa dan langsung beranjak meninggalkan Mas Matin. Ia hanya suka menebak\-nebak dan selalu aneh\-aneh. Meski sebenarnya aku terhirbur.
Setelah magrib aku sudah bersiap untuk menjemputnya. Aku mengirim pesan ke Astrid, memberi tahu aku akan menjemputnya. Aku menyalakan motorku dan bergegas menuju kosannya. Aku masuk sampai depan kosnya. Dan aku duduk di kursi tepat samping depan pintunya. Pintu kamarnya masih tertutup. Hp yang ku genggam bergetar, saat aku menatap layar hp ternyata pesan dari Astrid masuk. Aku membacanya dengan harap ia cepat menemuiku. Ia memintaku untuk menunggu sebentar lagi.
"Cklak.." suara pintu yang mulai terbuka. Aku yang sedang menatap layar hp ku, menolehkan kepalaku ke pintu kamar Astrid. Seorang perempuan keluar dari kamar Astrid menggendong tas, dan mengenakan jilbab. Ia menutup pintu lagi dan menolehku, lalu tersenyum dan berlalu menuju ke motor yang ada di depan kos. Aku memperhatikannya sampai ia menyalakan motor.
Aku mendengar suara pintu yang ke dua kali, "cklek.." aku menoleh ke pintu itu. Saat pintu mulai terbuka ternyata Astrid keluar dengan menggendong kucing kesayangannya dan memasukkan ke kandang.
"Dada emblott.. Nanti kita main lagi. Kamu aku tinggal dulu." Astrid bicara pada Emblot, nama kucing Astri, sambil menutup pintu kandang kucing.
__ADS_1
"Kamu udah siap?" tanya Astrid padaku.
"Udah kok." jawabku sambil berdiri.
"Bentar aku nutupin kandang Emblot dulu. Biar nggak kedinginan." Astrid mengambil kain yang ada di atas kandang dan menutupkan ke kandang.
" aku ambil helm dulu ya..?" imbuh Astrid.
"Mau pakai helm?" tanyaku.
"Iya pakai, buat keselamatan. Kamu nggak bawa?" tanya Astrid.
"Emm enggak.. Cuma dekat kok." jawabku.
"Helm tuhh di pakai, buat keselamatan bukan buat gaya-gaya!" sahut Astrid.
"Ya udah, nanti sekalian kita ambil. Pas lewat SC." kataku, sambil menuju motorku.
Astrid yang sudah memakai helm dan mengunci pintu kamarnya lalu menuju motornya juga. Aku menoleh ke dia. Dia juga menoleh padaku.
"Kita mau bawa motor sendiri-sendiri?" tanyaku.
"Bawa motorku aja!" jawab Astrid.
"Ya udah motorku di bawa ke SC aja. Nanti pakai motormu." kataku.
"Ya udah.. Hayuuuuk." kata Astrid.
Kamipun berangkat dengan memawa motor sendiri-sendiri. Sampai SC motorku ku tinggal. Harusnya tadi tidak perlu aku jemput, biar dia yg menjemputku haha.
Kami menuju pasar malam itu. Sampai di sana banyak orang berlalu lalang berjalan dengan pasangannya. Ada yang rombongan juga. Ada yang hanya jajan, ada yang sedang memilih baju. Aku berjalan untuk mendekat ke dalam pasar malam itu. Aku tidak ragu lagi untuk menggandeng tangannya.
"Haha.. Gio mah apaan coba, masa gandeng cewek cuma jari telunjuknya yang di genggam, atau malah cuman jempol gitu." protes Astrid.
"Haha.. Iya ya? Biar beda dari yang lain." kataku.
"Gitu ya? Gio.. Gio.. Gio.." Astrid meledekku.
"Mau kemana ini?" tanyaku.
"Kita jalan dulu aja, nyari jajan."
"Mau beli apa?" tanyaku.
"Astrid mah kalau lihat baju-baju bagus kayak gitu nggak ngiler.." katanya.
"Lah terus??" tanyaku sambuil senyum.
"Astrid mah paling nggak tahan kalau udah di kelilingin makanan-makanan. Pingin makan terus!" jawabnya.
"Hehemm.. Jadi mau beli apa?" tanyaku.
"Yuk kita beli bakso tusuk yang pedes, terus kita duduk di itu yang muter-muter." Astrid menunjuk ke Sangkar burung atau di sebut Bianglala.
"Ya udah ayo." aku mengiyakan keinginannya.
Kami menghampiri penjual bakso tusuk itu. Kami beli dua bungkus, Astrid satu dan aku juga satu. Lalu kami menuju sangkar burung itu dan mulai masuk, duduk dan bercerita.
"Besok aku mau ke tempat ibu. Mau nemenin aku?" tanyaku.
__ADS_1
"Mau. Ibu kamu di mana?"
"Ibuku kerja di dekat UIN."
"Ya udah kapan?"
"Besok sore gimana?"
"Iya." Astrid sambil menusuk bakso itu dan tangannya mengarah ke aku. Dia menyuapi ku. Ini pertama ia menyuapi aku makanan. Semakin hari banyak hal yang menandakan kami semakin dekat.
"Habis ini mau kemana?" tanyaku.
"Terserah kamu aja." jawabnya.
"Kita ke taman denggung mau?" tanyaku.
"Jauh enggak? Besok kita masih masuk pagi."
"Dari sini kita tinggal lurus ke sana aja."
"Ya udah nanti kalau udah ngantuk kita pulang ya?"
"Iya.." jawabku pelan.
Malam itu sekitar jam 20.00 kami meninggalkan pasar malam itu. Kami menuju taman denggung. Malam semakin larut, tapi kami seperti melupakan bahwa waktu tidak pernah berhenti berputar.
"Udah sampai?" tanya Astrid.
"Udah.. Kita cari tempat duduk."
Tak lama kami duduk, Astrid hanya duduk diam. Aku memandangnya dari samping, ternyata matanya sudah terpejam. Anjay, dia tidur dalam posisi kaya gini. Tanganku meraih kepalanya dan menyandarkan ke pundakku. Aku terdiam menunggunya untuk bangun.
"Gio..!" Suara Astrid memanggil dengan pelan.
"Iyaa.." Aku mengusap keningnya.
"Pengen bobok.." jawabnya.
"Mau tidur di sini??" tanyaku sambil bergurau.
Ia tidak menjawab lagi, dia sudah terlelap. Aku kasihan, Astrid sudah ngantuk, tapi aku masih ingin dengannya.
"Astrid... " aku coba membangunkan dengan lembut.
"Hey.... Astrid..." aku memanggilnya lagi dengan pelan.
"Hmmmm..." jawabnya dengan matanya masih terpejam.
"Kamu nyaman?" tanyaku pelan.
"Iyaaaaa...!" suara Astrid pelan dan manja.
Aku merasa tenang dengan jawaban itu. Aku juga ingat, dia punya pacar, mereka LDR. Tapi di situ aku tidak menyatakan, dan tidak memintanya untuk jadi pacarku. Aku tahu jika ini hanya sementara, jika aku bisa menyayanginya biarlah aku yang terus menyayanginya, tak perlu ia membalas perasaan itu. Aku hanya ingin dia tahu aku punya perasaan ini dan jika aku nanti berpisah karena ia dengan pacarnya. Biar aku yang menanggung kesakitan itu, menanggung kecewa itu.
"Pulang yukk.." tiba-tiba Astrid terbangun sambil menggaruk tangannya.
"Gatal.. Di gigitin nyamuk." ia merengek.
"Ya udah, ayo bangun. Kita pulang."
__ADS_1
"Yeaaay.. Mau bobok." Astrid beranjak dari tempat ia duduk.
Kami kembali ke Jakal. Aku harus mengantarnya ke kos, oh tidak. Dia yang harus mengantarku ke mess. Dalam perjalanan ia memelukku, kepalanya ia baringkan ke pundakku. Ia mulai tidur lagi. Bahkan walau ia tidak pegangan, ia tidak akan terjatuh. Itulah Astrid.