
Pertanyaan itu masih terngiang, aku hanya terdiam melanjutkan makan ku tadi. Dalam pikiranku sudah berat rasanya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang penting itu. Ya, aku sudah agak lelah dan terasa mengantuk.
Astrid terdiam sambil menghabiskan makanannya. Sesekali aku meliriknya, memastikan dia tidak kecewa karena aku belum memberikan jawaban yang mungkin ia nantikan. Rasanya telingaku tidak mendengar suara kendaraan yang lalu-lalang, bahkan pengunjung lain yang sedang makan juga tak terdengar mereka bercakap.
Apakah diamku ini akan menjadi kesalahan, ataukah dia hanya sepintas itu saja untuk bertanya. Aku hanya takut setelah ini rasanya hilang, rasa sayang yang ia pendam lalu ia ucapkan menjadikan sebuah puncak bahwa ini adalah salah.
"Udah makannya?" Tanyaku,
"Udah.." Jawabnya singkat,
Aku menarik tangannya untuk membantunya beranjak dari posisi ia duduk.
*******
Akhirnya kita bergegas untuk pulang, menuju tempat kami parkir motor tadi. Aku mengambilkan helm untuknya,
"Aku udah ngantuk.." Kata Astrid sambil memakai helm,
"Ya udah kita pulang.." Jawabku,
"Kamu mau gantian? Aku yang di depan." Tanya Astrid,
"Nggak usah, kamu aja ngantuk gitu.." Jawabku,
"Tapikan kamu udah dari tadi yang bawa motor!" Astrid ngeyel,
__ADS_1
"Yuk naik, kita pulang..!"
Astrid menuruti kataku dan langsung membonceng. Kami meninggalkan Janti. Yah, di bawah jembatan atau fly over Janti. Tempat terakhir yang kami tinggalkan malam ini, meninggalkan jejak yang akan menjadi pengingat bahwa Astrid mengatakan sayang padaku.
**********
"Gio, makasih ya..", Katanya,
"Buat apa?", tanyaku.
"Hari ini sudah terlaksana, kita melewati jalan yang panjang. Dari Magelang paling ujung, sampai Jogja juga paling ujung. Kita melewatinya yeeeeay..!"
"Makasih juga sama Mas Matin, dia ngasih kesempatan kita libur bareng.." Kataku,
"Iya besok kita bilang makasih..haha. Dan kamu, ini hari spesial untuk kita." Astrid mengeratkan tangannya diperutku.
******
Semuanya terasa candu, setiap harinya selalu inginku hanya tentangmu, tentang tawa seperti apa yang akan ku nikmati. Perhatian seperti apa yang akan ia beri.
*******
Pelan tapi pasti akhirnya kami sudah dekat di area kost Astrid. Sedangkan Astrid sudah terlelap di punggungku. Tidak heran memang begitulah dia, tidur dalam keadaan seperti itu, bahkan tangannya masih erat memeluk pinggangku.
"Sayang bangun, kita udah sampai.."
__ADS_1
AKu coba membangunkan dengan pelan. Meski terasa berat hati, sebenarnya aku tak ingin momen seperti ini berakhir.
Ia masih tertidur, aku biarkan saja ia tidur di punggungku sejenak. Biarkan ia terbangun sendirinya. Sambil aku menoleh menatap wajahnya, hatiku selalu bergetar. Rasanya ini bukan jatuh cinta setiap hari, justru setiap aku memandangi wajahnya. Entah dia di depanku atau bahkan hanya bayang-bayang wajahnya saja membuat jatungku berdegup cepat, seperti tidak normal.
Astrid mengangkat kepalanya dari pundakku. Matanya mulai terbuka, sambil menoleh ke sekelilingnya. Mungkin ia baru sadar kita telah sampai di depan gerbang kosannya.
"Udah sampai ya?" tanya Astrid sambil tangannya mengucek matanya,
"Iya udah sampai.." jawabku,
"Ya udah aku masuk dulu ya.." sambil turun dari motor,
"Iya, besok aku jemput kamu ya!" kataku,
"Iya, aku masuk dulu.. mau bobo.." sambil membuka gembok pintu gerbangnya.
"Udah sana kamu istirahat.." kata Astrid,
"Aku tungguin kamu masuk ke dalam dulu baru aku balik." kataku.
"Daaa.. selamat malam." Ia sambil menutup gerbangnya.
"Daaa cantik.. selamat istirahat."
Selamat malam sayang.
__ADS_1
*******