Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 49


__ADS_3

 


Aku telah berjanji untuk menemaninya pergi ke suatu tempat dimana ia pernah KKN. Ya tepat di Desa Ngluwar, salah satu Desa yang ada di Magelang. Astrid selalu di cintai banyak orang, cara ia memandang seseorang adalah suatu kekuatan ketulusan. Ia di cintai seorang Ibu Kadus, seperti anak sendiri. Ia mungkin tidak begitu paham akan hal-hal seperti bersawah, atau berkebun. Meskipun begitu ia tidak akan diam saja, ia akan ikut membantu apa yang orang lain kerjakan. Dari proses memanen hingga menjual di pasar, ia lakukan bersama Ibu Kadus.


 


Astrid keluar dari balik pintu dengan memakai jaket cokelat yang biasa ia pakai, wajahnya memandangiku. Ia tersenyum melihatku duduk di kursi dekat jendela kamarnya. Aku berdiri menyambut senyumannya yang khas. "Ayo..!" sapa Astrid sambil mengunci pintu kamarnya, kami siap untuk pergi, namun hari ini ia harus menemaniku potong rambut terlebih dahulu. Hari sudah sore, jadi langsung saja menuju tempat potong rambut. Memang biasanya aku akan potong rambut di tempat yang biasanya, meskipun aku harus pulang ke Magelang.


Kami berangkat mengendarai motor miliknya. Langit tampak cerah berwarna jingga. Tangannya memeluk erat seperti biasa.


 


 


"Kita potong rambut dulu ya, nanti baru ke Ngluwar!" kataku,


"Ikut Gio aja.." sahut Astrid,


 


Langit sudah mulai gelap, aku memilih jalan yang tidak begitu jauh. Mengambil jalan pintas, melewati jalan kecil yang di iringi persawahan.


 


"Lihat itu.." Astrid teriak menunjuk serangga yang menyala berterbangan di sekitar jalan yang kami lewati,

__ADS_1


"Itu kunang-kunang kan?" tanya Astrid,


"Iya itu kunang-kunang.." jawabku,


"Itu ada lagi.. Bagus banget.." Astrid mengeraskan suaranya,


"Aku nggak pernah lihat kunang-kunang sebanyak ini, di rumahku banyak gedung, jadi nggak ada kunang-kunang. Aku suka banget, dan itu indah.."


 


Aku hanya tersenyum mendengar itu, rasanya sesederhana ini bisa membuatmu merasa bahagia. Tanpa aku melakukan apa-apa ia sudah bisa tertawa. Rasanya sangat nyaman, ya.. Sangat nyaman sekali. Jika dari sudut pandang orang lain, mungkin aku di sini sebagai penghancur hubungan orang. Tapi, aku tidak pernah memaksanya untuk denganku, tidak pula juga aku memprovokasi supaya mereka putus. Tapi kenyamanan ini aku menganggapnya sebagai takdir, sebab aku tidak merencanakan untuk sedekat ini, kedekatan ini tanpa di sengaja, rasa nyaman datang ketika ia juga berkata,"Aku bisa ngerasa nyaman, ketika kita ketiduran di masjid, sambil berteduh. Aku bisa di bikin nyaman tanpa kamu menyentuhku." Aku hanya menjalani apa yang sudah terjadi, jika di tanya mau kemana tujuan hubungan ini? Hubungan yang mana? Bukankah aku telah mengatakan, biarkan aku mengejarmu meski ku tahu nanti kau bukan menjadi milikku. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang akan ku rasakan nanti. Pura-pura kuat, atau memang aku kuat? Aku siap menanggung resiko ini.


 


*********


"Kamu kenapa?" tanyaku sambil memandangi wajahnya,


"Aku ada firasat.. Dia akan datang!" kata Astrid dengan nada yang datar, pandangannya pun terlihat kosong.


"Aku ada firasat dia datang ke kosku hari ini.." Astrid kembali menjelaskan firasatnya, dia yang di maksud tidak lain adalah kekasihnya. Ya, Jafar!!


Bola mataku membulat, jantungku tiba-tiba terasa berdebar kencang seperti akan meledak, seperti bom atom yang siap menghancurkan kota Nagasaki. Keringat dingin terasa mengalir di seluruh tubuhku. Rasa cemas membakar seluruh tubuhku, pikiranku benar-benar kacau.


"Mungkin dia sengaja datang tanpa memberi kabar! Dia biasa memberi kejutan." imbuh Astrid, mendekapkan tangannya,

__ADS_1


 


Mulutku tak mampu berucap kata-kata, aku membayangkan bagaimana jika ia melihat kami? Apa yang akan ia lakukan ketika melihat aku dan Astrid pulang dari sini? Jika benar ia datang, dan sudah berdiri di gerbang kos Astrid. Bagaimana jika akhirnya aku harus di paksa untuk menjauhi Astrid? Terlebih, dari cerita Astrid waktu itu, jangan sampai ia marah dan mengobrak-abrik tempatku bekerja. Jika diharuskan untuk bertarung, sudah pasti ia yang akan menang. Aku tidak punya keahlian bertarung, sedangkan Jafar, ia pernah mengikuti bela diri. Bahkan jika aku babak belur bukan itu yang ku pikirkan, tapi rasanya belum siap untuk berpisah dengan Astrid. Tapi, aku harus melawan rasa cemasku, aku memejamkan mata dan yakin itu tidak akan terjadi.


 


"Terus kita mau gimana?" itulah pertanyaanku setelah aku melawan rasa cemasku,


"Kita habis ini langsung pulang!" tatapan matanya masih kosong, dan nada suaranya sangat datar.


Tanganku mengepal melawan rasa cemasku. Aku tidak mengenal siapa Jafar, tapi dari apa yang pernah Astrid ceritakan, aku merasa ia adalah sosok yang brutal, dengan tubuh yang tinggi dan besar, sedangkan aku mungkin hanya setinggi bahunya saja. Aku akan sangat malu jika itu terjadi di tempatku bekerja. Ini masalah di luar pekerjaan, jika ia mengamuk di outlet, apa yang harus ku lakukan? Aku tidak ingin nama-nama orang yang mempercayaiku menjadi malu gara-gara masalah seperti itu. Apa tidak ingin berakhir menjadi seorang pecundang!


 


Aku menoleh dan memandang Astrid yang ada di sebelahku. Rasanya sangat belum siap jika aku harus berpisah dengannya dengan cara yang seperti ini. Menemani hingga terakhir ia di Jogja itulah keinginanku, jikalaupun aku akan ikut ia ke Tangerang, rasanya aku tidak yakin itu akan terjadi, tapi bukan tidak mungkin jika Astrid yang mengatur itu.


Baiklah, apapun yang terjadi aku siap menanggung resikonya. Aku harus siap untuk berdiri tegak di hadapannya. Jika setelah ini benar-benar terjadi. Aku pikir pilihan itu ada di Astrid, aku harus tetap terima apapun yang terjadi. Mungkin jika dalam pertarungan aku akan kalah, setidaknya aku bisa memenangkan hati Astrid, atau aku akan berakhir menjadi pecundang di depan mata Astrid sendiri.


 


"Sudah waktunya giliranku untuk potong rambut.. Aku masuk dulu!" setelah menunggu antrian, kini tiba giliranku untuk potong rambut. Astrid hanya mengangguk sebagai jawaban "iya". Aku langsung duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk pangkas rambut.


"Mau model apa?" tanya tukang cukurnya sambil melilitkan kain untuk menutupi tubuhku supaya potongan-potongan rambut itu tidak masuk ke dalam bajuku.


*******

__ADS_1


Sekitar setengah jam proses pemotongan rambut sudah selesai, memang cukup lama jika memotong rambutku, sebab rambutku yang jigrak membuat tukang cukur harus hati-hati dalam pemotongannya.


Aku berjalan keluar pintu. Dengan sekejap saja Astrid memandangiku, ia lalu berdiri dan berjalan menuju motor, aku mengikutinya dari belakang lalu duduk di depan. Aku menghirup nafas panjang untuk meyakinkan pikiranku bahwa semua akan baik-baik saja.


__ADS_2