Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 54


__ADS_3

 


Seketika harapan yang ku gantungkan setinggi langit, membangun tangga untuk menggapai harapan itu kini telah runtuh, roboh, dan ada kegelisahan yang mengguncangkan kepercayaan diri ini untuk melangkah. Sesal dan amarah pada diri sendiri membuat nafas ini melambat. Aku tertunduk berjalan kembali menuju tempat tidurku. Aku hanya bisa berdoa semoga esok ada keajaiban untuk memperbaiki semuanya.


 


*******


 


Sore ini setelah aku selesai bekerja, masih ku menunggu untuk membicarakan hal itu. Dia sudah berdiri di sampingku dan menatapku. Bibirnya tersenyum seperti akan ada kabar baik yang akan ku dengar.


 


"Aku minta maaf.." aku mengambil tangannya untuk memposisikan ia juga ikut duduk bersamaku,


"Iya, setelah ku pikir-pikir aku memang akan memaafkannu." jawabnya tanpa ragu,


"Kita lupakan itu.." kataku,


"Iya, karena aku pun jijik kalau ingat itu." jawabnya,


"Beberapa hari lagi aku akan pendadaran, jadi tidak ada gunanya memikirkan hal itu, hanya membuang-buang waktu kalau aku memikirkan itu." imbuhnya,


"Ya udah kita mau kemana?" tanyaku,


"Halan-halan aja.." jawabnya,


"Kemana?"


"Kita nonton film Danur yuk!"

__ADS_1


"Ya udah kita berangkat setelah ini,"


 


Astrid kembali ke kosnya untuk bersiap -siap. Aku langsung bergegas mengambil handuk yang aku gantungkan di dekat kamar mandi belakang outlet.


 


Aku segera berangkat untuk menjemput Astrid, mungkin dia sudah menungguku. Kami akan pergi menonton bioskop dengan genre horor. Sebenarnya film yang ku suka bergenre komedi, tapi bukan berarti aku tidak menyukai film horor.


Aku berhenti tepat di depan kosnya, aku melepas helm berwarna ungu yang aku pakai ku letakkan di spion motorku. Suasana kos yang lumayan sepi, mungkin penghuninya yang masih sibuk di luar atau memang sering berada di dalam. Aku segera mengetuk pintu kamarnya Astrid yang sudah berada di hadapanku.


Tok tok tok..


Aku mengetuk tiga kali, namun tidak ada jawaban. Tapi aku mendengar suara obrolan Astrid dengan teman satu kamarnya.


"Astrid.." aku memanggilnya,


"Iya.. Bentar lagi." jawabnya,


"Ceklek.." suara pintu terbuka, aku menoleh ke pintu. Astrid sudah bersiap, ia terlihat begitu cantik.


"Fatin..!" kataku dalam hati, memang cara ia berpenampilan seperti Fatin X-facktor. Aku memandanginya dengan tersenyum, aku ingin memujinya karena kekagumanku, tapi biasanya aku cuma diam saja.


"Ayo.. Berangkat!" Astrid memakai helm di kepalanya.


"Mau pakai motor siapa?" tanyaku,


"Nih kunci motor ku, kita pakai mymoon aja.."


Akhirnya kita berangkat dengan membawa motor miliknya yang ia beri nama mymoon.

__ADS_1


"Kapan-kapan aku di ajarin pakai motormu ya?" kata Astrid,


"Bukannya kamu udah bisa ya?" tanyaku,


"Iya, tapi udah lama banget. Dulu pernah di ajarin, tapi sering mati-mati." katanya,


"Ya udah besok, aku ajarin." kataku,


 


Kami memilih menonton bioskop yang ada di Amplaz. Setelah beberapa menit perjalanan sudah sampai juga di parkiran Amplaz. Kami segera mencari bioskopnya.


 


*******


 


Lampu telah di nyalakan pertanda film telah usai. Aku dan Astrid keluar dari gedung bioskop.


 


"Apaan nonton film horor tapi matanya di tutup!" kataku,


"Aku tu takut.." sahut Astrid melirikan matanya,


"Haha.. Kalau aku sih, kalau udah mulai tegang pasti mikirnya itu cuma film." kataku,


"Kamu mah nggak seru, merusak suasana.."


"Hahaha.. Ngajak aku nonton film horor itu salah, kalau komedi baru bener kalau ngajak aku."

__ADS_1


"Dudududu.."


*********


__ADS_2