Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
Bab 59


__ADS_3

Kami menuju tempat parkir motor, setelah menyimpan motor di parkiran ia melepas helm yang ia pakai, aku pun juga melepas helmku lalu ku letakan di salah satu spion motor.


Aku melihat Astrid seperti sudah tidak sabar untuk menyambangi pantai itu.


"Yuk kita cari tempat buat kamu ganti celana!" Kata Astrid,


Aku mengiyakan permintaannya, karena memang aku sudah membawa celana pendek buat ganti supaya bisa bebas nanti kalau kena air laut. Kami segera melepas sepatu dan menginjakan kaki ke pasir sekitar pantai itu.


Ia meraih tanganku untuk menuju ke toilet umum dengan harap aku segera mengganti celana jeans panjangku menjadi celana pendek.


*******


"Coba lihat itu.. Pas banget kita bisa melihat sunset ini, cantik sekali!!!"


Astrid terkagum - kagum oleh lukisan nyata ciptaan Tuhan ini,indahnya langit berwarna jingga dan matahari tidak lagi terasa panasnya, dan suara ombak yang saling bertabrakan.


Ya ini sangat indah, aku pertama kali melihat pemandangan yang sangat mempesona memanjakan mata. Apa lagi lebih indah karena aku menyaksikan ini bersama orang yang bagiku dialah yang terindah.


Saat telapak kaki ini menapak di dasaran pasir pantai, mataku memperhatikan mata yang berseri dan senyuman yang melengkung tidak akan pernah terlupa dalam duniaku. Sekejap dia menarik jemariku dan lalu mengajakku berlari mendekati bibir pantai.


Ia mengambil hp dan lalu membuka kamera, mengabadikan wajah kami berdua di antara matahari yang menjadi background menciptakan wajah kami sedikit siluet.


Ia berikan hp padaku dan berlari lalu matanya kian mencari batu - batu kecil, lalu di ambilnya ia rangkai menjadikan sebuah tulisan. Aku beberapa kali mengambil gambar ku sendiri dengan posisi selfi.


Aku memperhatikan apa yang Astrid lakukan dengan batu kecil yang ia kumpulkan, dan aku dapat membacanya dengan mudah.


Kumpulan batu kecil itu ia rangkai di antara pasir pantai itu membentuk "Astrid Love Gio".


Aku mengerti perasaan yang ia rasakan, ia menunjukan rangkaian batu itu dan terlihat ia benar - benar ingin menunjukan. Bahkan aku tidak terpikirkan akan hal itu, namun ia begitu saja merangkai batu itu.


Ia terlihat semangat dan bahagia dalam merangkai itu, ia ingin tunjukan itu padaku,

__ADS_1


"Gio, ayo kita foto lagi.."


Aku mengiyakan keinginannya untuk selfi lagi, dengan latar rangkaian batu yang ia buat. Bahkan pikir ku pun tidak menyangka ia membuat kumpulan batu itu sendiri. Meskipun ia tidak pernah mengutarakan perasaannya melalui bibirnya, namun bagiku sikapnya telah mewakili perasaannya.


"Coba aku lihat foto nya tadi!" Astrid mendekatiku memegang hpnya yang sedang ku pegang.


"Kamu curang!!" Kata Astrid,


"Kok curang?" Tanyaku terkejut,


"Kamu foto dapet sunset yg bagus sendirian!" Protesnya,


"Haha..kamu tadi kan lagi merangkai batu tadi." Jelasku,


"Kamu nggak bantuin malah foto sendiri, dapet yang bagus pula." Ia sedikit cemberut,


"Ya udah foto lagi sini.." Kataku,


"Masih kelihatan kok, sini foto lagi.." Tawarku,


"Udah gelap, duduk dulu yuk..!"


Hening hanya suara ombak yang bertabrakan, mataku masih menyaksikan sudut pandang terjauhku di antara air laut yang mulai tak terlihat. Bersama matahari yang sudah di telan malam yang gelap, aku duduk berdua di sampingnya.


"Kita cari Mushola yuk, sekalian kita cari kamar mandi. Aku mau mandi dulu!" Ucap Astrid,


"Ya udah ayo!" Jawabku,


Aku berdiri dan mengulurkan tanganku ke Astrid, membantunya untuk berdiri.


******

__ADS_1


"Tolong bawain tasku dulu ya, aku mandi bentar!" Astrid memberikan tasnya,


"Aku tunggu sini ya.." Aku duduk di bahu teras seperti sebuah rumah makan yang sudah tutup,


Ia berjalan menuju kamar mandi, dengan membawa baju dan celana buat ganti.


Mataku mulai terasa sedikit pedas, terasa mulai mengantuk, sambil menunggunya aku membuka hasil foto - foto kami berdua.


Kembali terpikirkan sudah beberapa bulan ini aku melewati waktu bersamanya. Tidak sedikitpun aku merasakan bosan setiap ada dirinya. Justru aku akan mencarinya karena seperti ada yang kosong ketika tanpanya.


*****


Ia keluar dari kamar mandi, lalu datang padaku.


"Bentar ya, aku belum lipstikan hehe.." Katanya,


"Iya.. Biar cantik dulu."


"Dasar playboy.."


"Mulai lagi.. Kan, utang cium yeee"


"Nyari kesempatan terus..!"


Aku memperhatikan lipstik yang sedang mewarnai bibirnya yang tipis. Anggun sekali, aku selalu terpana dan kecanduan akan aura yang ia miliki. Ia mempesona.


******


Hari ini telah usai, perjalanan seharian yang menyenangkan. Ada rasa bahagia dan penuh tanya, misteri yang ada di dalam hatinya, sejauh ini ia tidak pernah mengatakan tentang isi hatinya secara sadar melalui bibirnya. Meski ku tahu aku telah jauh bermain di dalam api. Ya, api asmara dengannya, ia yang tak pernah lagi ku lihat sibuk dengan handphonenya membalas pesan dari kekasihnya. Waktu yang Astrid miliki selalu terlibat adanya aku sehingga aku menyaksikan senyum tawanya itu untuk laki - laki seperti aku ini.


Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkan tentang peristiwa ini, aku merampas perhatian Astrid dari pacarnya. Kami bermain di atas ketidak tahuan pacarnya, namun aku masih saja keras kepala. Aku selalu berfikir "biarkan aku mencintainya, biarkan aku mengejarnya.." Meskipun aku tidak pernah meminta balasan itu secara terus terang padanya. Terlalu munafik jika aku tidak ingin balasan dari hatinya. Meskipun aku tidak pernah memilikinya.

__ADS_1


__ADS_2