
Di bawah pohon kemiri yang rindang dedaunannya, cukup asri jika duduk di bawahnya, sekitar pukul tiga sore aku mulai bekerja. Bergerak berkeringat, mengusap peluh yang telah keluar dari pori - pori kulitku setiap harinya.
Aku menunggu kehadiran seseorang yang belum tampak menunjukan kedatangannya. Siapa lagi kalau bukan Astrid. Sosok ceria yang selalu membangun suasana menjadi ceria.
Waktu sudah menunjukan pukul lima belas lebih empat puluh. Aku mulai merasa cemas kenapa ia tidak muncul juga. Mataku terpaku pada pintu masuk yang biasa kami lewati. Tiba - tiba Mas Matin menawarkan kepada salah satu karyawan yang masuk pagi untuk lembur.
"Ayo siapa yang mau lembur ini?" kata Mas Matin sambil berjalan dengan membawa buku penghitung stok.
Beberapa anak mulai menawarkan diri hingga akhirnya Mas Matin membiarkan mereka untuk saling berdiskusi. Rahmadlah yang akhirnya mengambil jatah lembur itu.
"Koe Mad sek lembur?" tanya Mas Matin. (Kamu Mad yang lembur?)
"Iyo mas.. Aku gek pingin lembur iki. Hahaha.." kata Rahmad. (Iya mas.. Aku lagi pingin lembur ini)
"Awakmu kuat Mad?" tanya Mas Matin. (Badanmu kuat Mad?)
"Hahaha.. Kuat Mas." jawab Rahmad dengan semangat. (Hahaha kuat Mas)
Ada yang lembur berati ada yang tidak berangkat. Jadi, Astrid tidak bisa berangkat, kenapa mendadak seperti ini?
Sorot mataku menjadi sedikit layu, pikiranku terus bertanya - tanya. Aku tidak tahu jika hari ini Astrid tidak bisa berangkat, sedari tadi handphoneku tidak ada pesan masuk, entah dari wa ataupun Bbm.
Untuk mengetahui sebab Astrid tidak masuk kerja aku berjalan menghampiri Mas Matin yang sedang berjalan dengan santai menuju area kasir. Aku mengekor saja di belakangnya sampai ia duduk di kursi plastik berwarna hijau.
"Astrid ora mangkat to?" tanyaku heran. (Astrid nggak berangkat ya?)
"Ora lah, jelas ono sik lembur kok!" jawab Mas Matin sambil menolehkan kepalanya ke arahku. (Nggak lah, jelas ada yang lembur kok)
__ADS_1
"Emang nopo kok ra mangkat?" tanyaku heran. (Emang kenapa kok nggak berangkat)
"Jare ono sedulure teko." jawab Mas Matin. (Katanya ada saudaranya yang datang)
"Oalah.." jawabku singkat dan lalu meninggalkan area kasir menuju ke area jobdis ku untuk prepare.
Terbesit di dalam pikiranku sebuah pertanyaan - pertanyaan mengenai siapa saudara yang datang itu. Aku hendak mencari handphoneku yang sejak tadi ku kantongkan di saku celana. Sejenak aku meletakan di meja checker dari genggamanku. Aku hendak mencoba menghubunginya dengan pesan BBM.
"Kamu nggak berangkat?" pesanku terkirim, lalu ku tinggal melanjutkan prepare ku.
Beberapa menit kemudian aku mendengar suara handphone yang bergetar. Aku segera menyadari suara getar itu dari handphoneku yang ku letakkan di atas meja checker yang terbuat dari kayu, sehingga cukup keras aku mendengarnya.
Saat ku buka lockscreen handphone ku ternyata Astrid membalas pesanku,"iya.. Ada saudaraku." kini aku telah mendapat jawaban dari orangnya langsung.
"Karena saudaraku datang, jadi aku harus menemaninya. Dia minta aku untuk menemani keliling Jogja." Astrid menambahkan penjelasannya melalui pesan BBM.
Ada rasa yang tidak tenang menggangguku. Meski setiap hari aku bersamanya, namun tak ingin ada hari yang terlewatkan tanpa bersamanya.
Aku kembali meninggalkan handphoneku dan melanjutkan pekerjaanku, dan sudah ada nota pesanan yang masuk, sehingga aku harus bergegas mengeksekusi.
*********
Tidak begitu terasa waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, jam kerjaku sudah selesai. Aku segera membersihkan areaku, dan beres - beres untuk segera menutup warung di malam ini. Setelah semua jobdesc sudah selesai di bereskan, hanya tinggal menunggu untuk presensi saja.
Setelah semua sudah presensi, kami duduk di rak sepatu yang biasa untuk kami istirahat selepas kerja. Aku duduk dengan membawa segelas es teh untuk ku minum.
__ADS_1
"Mad Mad Mad Mad Mad...Piye Mad, kesel ora?" tanya Mas Matin yang menyapa Rahmada tepat di depanku yang sedang tiduran di lantai tanpa mengenakan baju. (Mad.. Gimana Mad, capek tidak?)
"Hahaha.. Badanku strong mas.." Jawab Rahmad dengan semangat.
"Kalau perlu suruh Mbak Astri libur aja lagi.. Biar aku yang lembur lagi.. Ahhahahahaha.." kata Rahmad yang masih tiduran di lantai tanpa alas.
"Hahaha.. Awakku wes ra penak iki.. Doa ke wae Mas Feri ndang mari." kata Mas Matin. (Badanku sudah nggak enak ini, doakan saja Mas Feri segera sembuh)
Ya memang beberapa hari ini beberapa karyawan harus libur karena sakit. Sehingga kuota libur yang harusnya tiga anak jadi dua anak, apa lagi jika ada yang libur mendadak seperti Astrid tadi, kalau yang libur tidak bisa masuk menggantikan, ya terpaksa harus melemburkan salah satu karyawan yang masuk shift pagi.
"Aku minggat sik gaess..." kata Mas Matin yang sudah siap untuk pulang setelah ia mengenakan helm di kepalanya.
"Oke Mas ngati-ati!!" jawab Rahmad
Dalam gelisah aku terdiam sedang merenungkan malam ini tanpa kehadiran seorang Astrid. Aku menyilangkan kakiku, dan menyenderkan punggungku di sebuah pagar mushola yang ada di belakangku. Aku menggeser - geser layar handphone ku, mencari kontak Astrid untuk ku hubungi.
"Malam.. Ndoro putri." pesan telah terkirim.
Setelah sekian menit aku menunggu balasan dari pesanku, ternyata tidak ada jawaban. "Mungkin dia sudah tidur karena capek." kataku di dalam hati.
"Aku tak bali disek.." tiba-tiba suara Rahmad memecahkan keheningan yang ada di dalam pikiranku. Rahmad sedang memakai jaketnya, (Aku pulang dulu)
"Ngati-ati Mad.." kataku
"Yoiiiiii... Sesok koe masuk pagi to?" tanya Rahmad sambil mengulurkan tangannya untuk salaman. (Yoi.. Besok kamu masuk pagi kan?)
"Iyo, sesok wis mlebu esok." jawabku sambil mengulurkan tanganku untuk menjaba tangannya.
Rahmad mulai berjalan menuju motornya. Aku juga bangun dari dudukku, untuk masuk ke dalam kamar. Meski sudah berbaring aku mulai terpikirkan hal - hal yang tidak ku pikirkan malah kini muncul. Sehingga membuatku kadang sulit untuk tidur.
__ADS_1
*******