
Makan berdua, bukan lagi sebuah impian yang ku gantungkan. Sekarang sudah menjadi keseharian, makan berdua setiap perut mulai lapar. Entah dia yang lapar Astrid akan mengajakku. Impian kecil sudah tercapai, membuatku terus menggantungkan sebuah mimpi yang semakin tinggi.
**********
Aku menunggunya di luar ruangan. Cukup lama, tapi aku tidak mempermasalahkan hanya menunggu. Bagiku lebih baik menunggu, dari pada di tunggu. Sebab menunggu itu suatu kebebasan, dengan menunggu kita bisa tetap tenang. Menunggu itu seperti spasi, yang bisa kita isi. Sedangkan di tunggu itu menurutku merasa harus buru\-buru. Di tunggu itu seperti tanda koma \(,\) tidak bisa untuk berhenti, harus selalu ada kelanjutan di baliknya. Mungkin bagi orang lain, menunggu itu membosankan, karena tidak mencoba memposisikan diri. Di tunggu akan terasa terikat waktu.
"Gio.." Astrid keluar dari balik pintu kaca yang ada di sebelahku. Ia menghampiriku dan duduk di sebelahku.
"Udah?" tanyaku.
"Udah, yuk halan-halan.."
Aku hanya tersenyum dan mengiyakan ajakkannya. Tidak tahu mau kemana, asal motor jalan dan berkeliling itu bisa mengisi waktu. Ia masih saja menyanyikan lagu yang tadi.
"Kamu tahu lagu ini enggak?"
"Lagu yang sering ku dengar, tapi nggak tahu judulnya."
"Rizki Febian.. Masa nggak tahu.."
"Haha kurang paham aja.."
"Itu lagu yang saat ini mewakili kita.."
"Kalau street love song?"
"Itu lagunya aku suka.."
"Kalau closer?"
"Itu lagu favorit, kamu harus bisa lagu itu, besok kita duet lagi.."
"Apaan.. Aku nggak boleh lihat vidio clipnya.."
__ADS_1
"Plakkkk" helm ku di gaplok.
"Soalnya itu vulgar.. Cuman pakai bikini gitu."
"Hahaha.. Kamu aja lihat, masa aku enggak boleh."
"Dasar cowok.. Seneng bener sama kek gituan.."
"Haha kan cuma lihat liriknya.."
"Nggak percaya."
"Hahaha tapi kelihatan video clipnya.."
"Dudududu.."
"Hahaha.. Mulai lagi."
**********
Jarang sekali aku beda shift dengannya, bukan di sengaja, tapi memang formasi tim kami seperti itu. Astrid menjadi kasir, dan aku yang di checker. Kombinasi kami cukup baik, apa lagi waktu itu tidak ada pimpinan shiftnya. Dan aku harus mengisi posisi itu, dengan adanya Astrid dan aku semua berjalan lancar. Bahkan kombinasi ini benar-benar sangat baik.
Aku teringat saat aku dan Astrid di panggil Mas Matin. Ia menanyakan sejauh mana hubungan kami. Aku yang saat itu tidak mengerti atas dasar apa ia menanyakan itu. Apa mungkin salah satu dari kami akan di pindah, atau hanya pertanyaan biasa. Karena kami berdua sama\-sama pentingnya di Outlet cabang Jakal ini, dan Astridpun tidak lama lagi akan resign. Saat kuliahnya sudah selesai.
*************
Aku mendekatinya yang baru saja selesai mengerjakan laporan. Wajahnya terlihat serius dalam mengerjakan tugasnya. Mungkin ia lelah, sudah dua hari ini Mas Feri tidak bisa masuk kerja karena sakit. Bahkan kalau di lihat kondisi Mas Matin juga sudah mulai tidak baik. Ada Pak Agus S. yang kadang di beri tanggung jawab untuk memimpin shift, kadang juga aku. Namun dari dulu aku dan Pak Agus S. Ini seperti rival, aku tidak begitu mempercayainya. Dan ia pun juga tidak terlalu suka jika aku yang memimpin shift.
"Aku tidak terlalu puas dengan cara Pak Agus S yang memimpin." kataku.
"Dulu waktu kamu membandingkan Mas Dedy dengan Pak Agus S, aku ngomong dalam hati." sahut Astrid.
"Bilang apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Ketika kamu membandingkan mereka, justru aku yakin kamupun bisa mengisi posisi itu dari pada mereka."
Mendengar jawaban itu aku hanya terdiam, aku belum siap untuk mengisi posisi itu, tapi aku juga tidak ingin posisi itu di isi orang yang salah. Aku tidak ingin di pimpin orang yang salah.
"Kita habis ini mau kemana?" tanyaku.
Astrid menghela nafas panjangnya. Ia merentangkan kedua tangannya karena telah berhasil menyelesaikan pekerjaannya. "Aku lapar.." kata Astrid. Ia menatapku dan tersenyum.
"Mau makan apa?" tanyaku.
"Kamu pernah makan ketoprak?" Astrid tanya balik.
"Belum pernah makan, katanya sih kaya kupat tahu." jawabku.
"Kupat tahu? Bukannya itu tahu gejrot!"
"Tahu gejrot itu apa lagi.." aku mengusapkan tanganku ke kepalaku.
"Ya itu mirip kupat tahu. Kalau di Tangerang namanya tahu gejrot."
"Nggak tahu deh nama-nama makanan di sana."
"Ya udah mau nggak nanti kita cari ketoprak?"
"Boleh.."
"Tapi yang ada dimana?"
"Aku tahunya di daerah Kledokan."
"Ya udah kita ke sana."
"Ya udah ayo.. Segera!"
__ADS_1
Aku segera bergegas menuju mess untuk ganti pakaian. Tidak perduli itu sudah jam berapa, aku harus mengantarnya ganti pakaian juga. Cukup agak lama aku menunggunya. Namun untuk terlihat lebih cantik, aku memaklumi itu.