Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 56.


__ADS_3

 


Grenden," tempat yang romantis.." Ya, itu sebutan yang ia berikan ketika waktu itu kami datang di saat aku mencoba menenangkan amarahnya. Dan hari ini Grenden menjadi salah satu tempat yang menjadi tujuan untuk kami datangi.


 


Perjalanan yang menanjak membuat ia begitu mengeratkan pegangannya.


"Mari silahkan, karcis untuk dua orang ya?" Salah satu petugas yang menjaga pintu masuk di Grenden mendatangi kami,


Setelah kami mendapat karcis kami berlalu menuju parkiran.


"Ayo kita lihat tempat yang tulis kemarin!" Astrid sambil meletakan helmnya,


"Ayo, semoga masih ada." Kataku,


Kami berjalan meninggalkan parkiran, menuju tempat duduk yang waktu itu kami pernah datangi pagi-pagi.


"Gio bentar.." Astrid tiba - tiba berhenti,


Aku menatap dengan heran, apa yang akan ia lakukan. Ia mengambil sesuatu yang tergeletak di tanah.


"Ini sama kaya waktu itu kan?" Tanya Astrid, ia menunjukan sesuatu yang ia pegang.


"Iya sama, itu bunga dari pohon pinus ini."


"Coba sini aku fotoin.." Kataku,


Ia memberikan handphone miliknya, ia tersenyum dengan memegang bunga pinus itu.


"Ayo kita turun ke sana?"


Jembatan yang berada di tebing batu, kami segera menuju untuk berada di sana. Hal lain yang tidak pernah membuatku bosan selain kamu. Tempat ini indah, dan sangat sempurna dengan adanya kamu.


"Subhanalloh.. "


Astrid menikmati suasana itu, matanya terpaku tak ingin berpaling dari pemandangan yang menakjubkan.


"Andai ini bisa di bawa ke Tangerang.." Celetuknya,


"Aku mau di sini lebih lama.." Katanya sambil mengambil handphone milinya,

__ADS_1


"Ini.. Ayo foto!" Ia berikan padaku handphone yang ia genggam,


 


Tidak ada suara apapun yang kami dengar selain suara angin dan suara kicauan burung. Tempat ini benar - benar sangat alami. Ya, sangat alami.


 


Aku mencoba mendekatinya, jantungku berdegub sangat cepat, bahkan lebih cepat dari biasanya. Aku mencoba menggenggam tangannya. Mataku terpaku menatap tajam bola matanya yang begitu indah. Entah mengapa kami menjadi saling menatap. Aku bisa melihat jelas pipinya yang mulai menjadi merah merona. Ia sedikit memalingkan matanya, aku bisa merasakan suasana ini tampak menjadi tak biasa.


"Aku sayang kamu..."


Itu yang aku katakan dalam hatiku, aku pikir dia bisa mengerti dari tatapan mataku. Ia memejamkan matanya, aku melihat jelas wajahnya sangat dekat. Aku datang mencium bibir merahnya. Ia membuka mata dengan sayu, aku mencium keningnya. Karena ia tampak terkejut dengan apa yang sedang terjadi.


"Kita ini apa?"


Ia menatap tajam mataku seolah ia memendam sebuah pertanyaan. Namun aku tak memberikan jawaban, aku hanya terdiam, karena aku takut ia marah karena aku menciumnya.


"Kita ini apaa??"


Sekali lagi ia mengatakan pertanyaan yang sama, sekali lagi aku hanya terdiam. Aku tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan itu, "kita ini apa?"


Ia mengambil lipstyk dan memalingkan wajahnya, apakah ia marah?


"Ayo kita menuju tempat selanjutnya..!"


Astrid tersenyum memandangiku. Tapi aku melihat senyum itu tampak palsu. Bibirnya memang sedang tersenyum, tapi aku pikir hatinya masih bertanya-tanya tentang hal tadi.


Aku berjalan di belakangnya, menatapnya dari belakang saja, dan aku masih terus memikirkan apa maksud dari pertanyaan itu. Ia tiba-tiba berhenti berjalan dan mendangku.


"Aku tanya, kita ini apa?"


"Kenapa kita seperti itu?"


"Kamu ini apa?"


"Dan kita ini apa?"


Aku benar-benar tidak menemukan jawaban, apakah aku terlalu jauh. Apakah dia marah, sehingga ia bertanya seperti itu.


"Ayo kita ke tempat selanjutnya.."

__ADS_1


Astrid meraih tanganku dan mencoba menariknya, sepertinya ia sudah berhenti menanyakan hal itu. Ini membuatku menjadi diam, aku tidak berani mengatakan sesuatu. Karena ku pikir ia masih marah. Aku khawatir ia kecewa, dan takut semuanya berakhir.


**********


"Gio.. Aku mau cerita!" Katanya,


Aku hanya memandanginya saja tanpa menjawab.


"Iiiih... Aku mau cerita, kenapa kamu diam?"


"I..iya, mau cerita apa?"


"Tapi janji ya jangan bilang - bilang!"


"Iyaa... Apa?"


"Bener yaa, jangan kasih tau siapa - siapa!"


"Ya apa????"


"Jadi, dulu tuh waktu aku masih kecil, aku pulang sekolah lihat lele di dalam ember..!"


"Nah terus..?"


"Nah, ibuku kan lagi pergi. Mumpung sepi aku ambil ember yang ada lele nya, lalu aku tuang ke toilet, masuk ke itu toiletnya.."


"Hahaha... Di cariin?"


"Nahh, kan karena aku kasihan sama lelenya, dari pada nanti mati, aku masukin ke toilet. Habis itu ibu pulang nyariin lele nya. Dan aku cuma diem aja, sampai sekarang nggak tau kalau lelenya aku buang ke spiteng toilet. Hahahaha..."


"Dasarr... Mau di bikinin lauk malah di ilangin!!"


"Iya tapikan aku kasihan sama lelenya.. Ssssstttt tapi jangan bilang siapa-siapa ya?"


"Hahahaha.. Lagian juga mau cerita sama siapa? Walupun cerita sama yang lain pun nggak bakal ngerti."


"Ya intinya ini rahasia kita berdua aja.. Rahasia Gio dan Astrid aja."


"Hahaha.. Ada-ada aja kamu. Mana mungkin mau cerita sama ibu kamu juga kan?"


"Haha.. Ya pokoknya ini rahasia kita aja yang tahu."

__ADS_1


*********


__ADS_2