
Handphone ku bergetar beberapa kali, awalnya aku mendengar samar\-samar, setelah benar\-benar sadar aku menyadari itu getar dari handphoneku. Aku membuka sedikit selimut yang membalut badanku, dengan malasnya aku mencapai handphoneku.
Ternyata ada panggilan masuk yang dari tadi tidak ku angkat. Sepagi ini Astrid sudah menelponku, baru juga masih pukul lima pagi. Aku membuka beberapa pesan Astrid yang sudah menumpuk.
"Gio bangun."
"Temenin aku ke kampus ya?"
"Bangun"
"P"
"P"
Langsung ku balas "iya, jam berapa?"
"Jam 9 nanti aku jemput kamu, kamu mandi dulu." balasnya.
Tumben sekali dia mengajakku menemani ke kampus, sebenarnya aku malu. Ini kali ke dua aku akan masuk ke kampusnya. Aku jadi ingat waktu itu malam hari aku menemaninya ke perpustakaan yang ada di kampusnya. Dengan celanaku yang robek, dan aku hanya cukup memakai jaket, menemaninya masuk ke perpustskaan yang menurutku cukup besar. Apa lagi aku hampir tidak pernah ke perpustakaan kecuali waktu masih SMK itu pun hanya baca koran dan majalah zodiak.
Kala malam itu tiba-tiba Astrid memintaku menemani ia mengembalikan buku yang ia pinjam di sana.
"Kamu mau ikut nggak?"
"Ke mana?"
__ADS_1
"Mau balikin buku ke perpustakaan.."
"Ya udah ikut."
Dalam hati aku akan selalu berkata,"Aku akan selalu ikut kemana kamu minta, karena lebih baik yang selalu ada dari pada orang lain yang selalu ada."
Biasanya aku ke kampus cuma setiap hari jum'at, itupun aku hanya ke Masjid untuk sholat jum'at. Dan malam itu ia mengajakku masuk perpustakaan.
"Ayo masuk.." katanya.
"Aku tunggu sini aja." jawabku.
"Kenapa di sini?"
"Aku malu, celanaku sobek."
"Ya udah, tapi celanaku gimana?"
"Nggak ada orang jam segini."
"Bentar aku jungkatan dulu.."
"Jungkatan itu apa?"
"Sisiran.."
"Nggak usah macak.."
__ADS_1
Aku jalan dengan Astrid selalu berusaha menjaga penampilan untuk supaya terus rapi. Ya menurutku cukup rapi sih. Dari pada sebelum kenal Astrid, bukan karena tidak menjadi diri sendiri. Tapi ini langkah positif untuk maju. Dari penampilan dulu, siapa tahu nanti hal lain ikut positif. Mana mungkin aku mau biasa saja di depan orang yang luar biasa. Apa lagi waktu itu adalah awal aku melakukan perubahan.
Memasuki perpustakaan dengannya, sempat berpapasan dengan mahasiswa yang lain. Aku baru sadar, karena kelasnya banyak dan pelajarnya juga banyak mungkin tidak saling mengenali. Bisa saja orang yang melihatku itu menganggap aku juga mahasiswa sini. Aku juga mengamati seperti apa kebiasaan mahasiswa, tapi dari cara mereka bicara cukup menarik. Bahasanya juga cukup tertata dengan baik.
Berbicara dengan Astrid memang membuatku terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Membuatku semakin lancar, apa lagi dulu pelajaran yang ku sukai adalah bahasa Indonesia. Meski aku tidak kuliah juga, tapi bisa mempelajari cara pikir mereka dalam hal menganalisa. Cukup menarik, apa lagi aku menyukai hal yang cukup detail.
**********
Pagi itu Astrid sudah menjemputku, aku terpesona dengan penampilannya. Cara ia berpenampilan ketika kerja, dan pergi ke kampus memang berbeda. Yang ini lebih mewah, lebih rapi dan bagiku ia terlihat cantik. Bahkan ini berbeda dari ketika dia pergi denganku.
"Ayo, jangan lupa bawa helm." katanya.
Hmmm... Jauh ataupun dekat, dia selalu memintaku juga memakai helm, cukup di sayangkan rambutku yang sudah ku beri pomade, nanti bentuknya jadi seperti helm. Tapi aku tidak bisa membantahnya, aku tidak ingin mengecewakannya. Cukup nurut saja.
"Jiannn rapi tenan, meh nandi yok?" tanya Mas Matin yang saat itu masuk shift Pagi.
"Ngeterke neng kampus, hehe.." aku sambil berlalu menuju Astrid.
Kami berangkat menuju kampusnya. Aku memperhatikannya melalui kaca spion, ia terlihat sangat gembira. Dia bernyanyi sepanjang jalan. Lagu Rizki Febian "akhirnya kita bersama, setelah menanti lama.."
Begitulah bunyinya.
Mengingatkanku pada saat aku karaoke dengannya. Demi mengganti kecewaku karena Astrid pergi karaoke dengan Vidi, di top40. Ia mengajakku karaoke di heppy puppy. Ia yang merencanakan dan ia juga yang mengatur budgetnya tanpa ku ketahui. Kala itu memang ia terkejut dengan suaraku. Tapi itu benar\-benar membuatnya bahagia.
********
__ADS_1
Akhirnya sampai juga di kampusnya. Padahal belum sampai di tujuan ia bilang belum sarapan. Akhirnya aku di ajak ke warung Gajebo. Aku heran sama namanya tapi aku ikut pesan saja. Di situ sangat ramai banyak mahasiswa sedang makan. Aku sedikit minder di tengah\-tengah mereka. Tapi di sini ada Astrid, ini bukan waktunya untuk minder. Mengingat tujuan ke sini bukan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Tapi menemani Astrid ada keperluan.