
Malam itu aku tidak satu shift dengan Astrid, aku duduk di pintu kamar dengan pintu terbuka, aku sedang main game sambil melihat Astrid yang sedang kerja. Aku menatapnya yang sedang berjalan ke arahku. Ku pikir dia mau memberikan Hp nya karena minta tolong di carger. Tepat di depanku dia berjalan ragu\-ragu dan menatapku.
"Aku pulang sebentar boleh enggak ya?" tanya Astrid.
"Emang kenapa mau pulang?" tanyaku balik.
"Aku dapet, dan aku nggak bawa pembalut." katanya.
"Emmm mungkin boleh sih." kataku.
Tiba\-tiba Astrid menuju ke ruang kasir, sudah ada konsumen yang menunggunya. Dia berjalan dengan cepat menuju ke kasirnya. Aku meletakkan hp ku, dan berdiri menuju tas kecilku. Aku ambil sedikit sesuatu, dan aku berjalan keluar. Ini kali pertamaku, aku menuju sebuah mini market, aku berjalan menuju di situ adalah rak bagian keperluan wanita. Aku tidak paham mana yang harus ku beli. Ada dua Softek yang bersayap dan tidak. Karena aku tidak mengerti, aku ambil saja yang ada tulisannya malam, dan itu bersayap. Aku segera menuju ke kasir dengan membawa satu bungkus pembalut, dan cokelat. Aku tidak perduli entah itu memalukan atau tidak. Aku menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran, dan kasir itu adalah cowok. Aku melihat kasir itu menahan tawa sambil menatap pembalut itu. Ah aku sedikit malu, tapi biarlah ini juga pertama kali.
Aku langsung bergegas kembali ke outlet untuk menemui Astrid. Aku membelinya tanpa bilang dulu. Aku meletakan barang itu ke dalam tasnya yang ada di kamar mess.
"Astrid.." aku memanggilnya. Dan Astrid berjalan menghampiriku.
"Coba kamu lihat di dalam tas!" aku memintanya untuk melihatnya. Astrid mengerutkan dahinya dan membuka pintu mess. Astrid menolehku, dan tertawa.
"Haha kamu beli ini?" tanya dia.
"Ssst udah di pakai aja." jawabku.
"Makasih loh.. Haha tapi ini salah." katanya.
"Salah gimana?" tanyaku dengan nada tertawa.
"Ini buat pas lagi tidur! Hahaha.."
"Aku nggak tahu.. Haha beda ya?" tanyaku.
"Iya beda, kalau yang bersayap itu buat tidur, kalau yang buat aktivitas yang nggak ada sayapnya." jelasnya.
"Haha udah sih, aku nggak tahu, aku kan cowok. Nggak ngerti kaya gituan." kataku.
"Ya udah nggak apa-apa, aku pakai dulu."
__ADS_1
Astrid pergi ke kamar mandi untuk memakainya. Mana ku tahu kebutuhan kaya gitu. Seumur-umur baru kali ini aku beli benda itu. Dan itu salah.
Saat itu aku sedang mencuci tangan tiba\-tiba Dita menghampiriku," mas kamu beliin itu ke Mbak Astrid kan? Kamu nggak malu mas hahaha.."
"Sssstttt...haha ya malu, orang kasirnya aja nahan tawa lihat aku beli itu." jawabku.
"Tapi kamu pehlawan mas.. Haha."
"Dia cerita ke kamu?" tanyaku.
"Iyalah, orangnya aja ketawa. Haha, bener-bener perjuanganmu mas!"
"Dah ah yang penting dia nggak perlu pulang. Haha."kataku.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Tanggal 1 Maret 2017, sepeti biasa outlet kami mengadakan briefing bulanan. Aku tak pernah berusaha duduk di samping Astrid, justru aku menjauh supaya tidak terkesan orang pacaran. Memang kami tidak pacaran juga sih. Hanya untuk menghindari sorot mata anak\-anak lain supaya tetap fokus ke tujuan briefing ini.
"Udah tenang dulu.." aku mendekati Astrid yang sedang panik, wajah anggunnya menjadi pucat, senyum dan tawanya, serta keceriaannya mulai sirna. Matanya tampak berkaca-kaca, tangannya gemetar. Ia tertunduk lemas.
"Tadi itu ada di bawah mesin kasir! Sumpah aku nggak bohong, udah aku siapin di situ tempat biasa." Astrid menjelaskan dengan nadanya yang menyesal.
"Iya nggak apa-apa, nanti ketemu kok." aku berusaha menenangkannya.
"Tadi gimana mbak?" tanya Mas Matin.
"Tadi kan aku bilang sama Dita, dek udah kamu hitung belum modalnya? Terus Dita jawab belum mbak, terus aku bilang modalnya ada di bawah tempat biasa. Dita nyari udah nggak ada, tapi beneran tadi ada di situ." Astrid menjelaskan,
Apa yang bisa ku bantu selain hanya menenangkan hatinya. Aku tahu dia pasti terpukul dengan keadaan ini.
Tiba\-tiba terdengar suara dari belakang outlet. Kami semua menuju ke belakang, Mas Matin menemukan kotak wadah uang modal yang sudah tergeletak bersama hamburan nota\-nota penjualan, yang di jadikan satu dengan uang omset. Beberapa dari kami mengambil foto sebagai bukti yang mungkin nanti bisa di identifikasikan. Aku sempat menemukan jejak kaki manusia yang tanpa alas saat itu menginjak air dan menapak di lantai. Aku menganalisa kemungkinan aksi dari si pelaku pencuri itu.
Astri masih tampak merasa kacau, ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Aku mencoba meyakinkan dan menenangkannya, bahwa itu bukan kesalahannya secara mutlak.
__ADS_1
"Ini kesalahanku, coba kalau uangnya nggak aku kasih ke situ pasti nggak hilang!" kata Astrid.
"Bukan gitu, namanya halangan kok. Kita nggak tahu, yang penting kamu udah berusaha menyimpannya." kataku.
"Aku resign ajalah." katanya.
"JANGAN!!!" aku kaget dengan apa yang ia katakan.
"Aku merasa bersalah.." katanya.
"Kalau kamu keluar, malah nanti orang jadi curiga ke kamu. Jangan resign, nanti pasti ada jalan keluarnya." kataku.
Astrid sesekali memejamkan matanya, matanya memerah tanda bahwa ia mau menangis. Tidak pernah ku lihat wajahnya yang terang seperti matahari, kini benar\-benar tertutup mendung hitam.
"Pak Matin, gajiku di potong aja buat ngembaliin yang hilang itu." kata Astrid.
"Apa? Nggak bisa begitu mbak. Ini bukan murni kesalahanmu, cuman lain kali lebih hati-hati lagi." kata Mas Matin sambil tersenyum.
"Tapi aku yang jadi kasir tadi.." kata Astrid.
"Iya, tapi kita juga briefing di luar semua kok. Kita nggak tahu juga akan ada kejadian kaya gini. Udah kamu yang tenang aja, nanti biar pihak kantor yang datang ke sini. Udah to, kamu nggak usah mikirin sepusing itu." kata Mas Matin.
Sore itu kami semua menunggu keputusan apakah akan meneruskan untuk membuka warung dan jualan atau kami tutup karena kehilangan uang modal. Kami memutuskan untuk sholat magrib dulu secara berjamaah. Saat itu aku yang mencoba untuk adzan, lalu kami sholat berjamaah.
Setelah sholat selesai aku duduk di rak sepatu, aku sedang memakai sepatu. Astrid berdiri di depanku dan tersenyum. Aku heran senyuman itu tidak seperti biasanya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Tadi pas kamu adzan, dan aku mendengar. Aku jadi merasa tenang. Dan aku bilang ke Dita." dia berhenti melanjutkan ucapannya.
"Bilang apa?" tanyaku
"Dit, aku mau Gio jadi jodohku." jawabnya.
"Hhm.." aku senang dengan ucapannya, dan aku sangat tenang. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Dalam hati aku bilang semoga.
__ADS_1