
Astrid selalu mengisyaratkan sebuah lagu untuk memberi kode, yang dimana ia berharap aku akan memahami apa yang ia pikirkan tanpa ia berbicara. Memang aku memahami dari hal yang cukup detail, dari beberapa yang mungkin ia lakukan dan tidak ia lakukan selalu menyimpan alasan yang terselubung di dalamnya.
Semua cara sudah ku coba untuk meyakinkan Astrid, apa lagi aku juga masih dalam jam kerja. Aku memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan nanti usai bekerja.
Waktu sudah menunjukan pukul 23.00, sudah saatnya pekerjaan kami untuk di akhiri. Aku membersihkan area konsumen, menyapu dan mengepel, karena checker ada dua orang jadinya kami membagi tugas di dua area.
Saat semua sudah selesai, aku duduk di tempat biasanya. Menunggunya di rak sepatu, yang persis ada di depan pintu. Astrid muncul melewatiku yang sedang duduk. Aku bangun dari dudukku, aku mengejarnya yang hendak menuju motornya. Aku mencegahnya untuk menyalakan motornya.
"Astrid jangan pulang dulu." dia hanya menatapku saja, tanpa menjawab.
"Kamu masih marah?" tanyaku.
"Enggak kok."
"Beneran kamu udah nggak marah?"
"Enggak kok, setelah ku pikir-pikir mana orang yang lebih ku percayai. Aku lebih percaya sama kamu."
"Ya udah jangan marah lagi."
"Kita juga tahu Pak Agus orangnya seperti apa, aku tadi lagi nggak mood, jadi terpengaruh omongan Pak Agus."
"Jangan pulang dulu."
"Mau kemana?" tanya Astrid.
"Seperti biasa kita jalan-jalan."
"Tapi aku capek."
"Ya udah kita duduk di depan aja dulu."
Akhirnya dia sudah tidak marah lagi, aku khawatir, bahkan aku takut jika dia membenciku. Aku berusaha untuk tidak membuat kesalahan. Meski cepat atau lambat itu akan terjadi.
"Mbak Astrid.." Tiba-tiba Mas Matin memanggil Astrid yang masih duduk di motor.
"Iya Pak Matin!!" jawab Astrid.
"Kamu belum absen lho.." kata Mas Matin.
"Oh iya, hahaha maaf Astri lupa." Astrid langsung lari menuju kasir untuk presensi.
Ia segera keluar dari pintu, aku mendekatinya yang sedang berdiri di sebelah Mas Matin. Mas Matin sedang membicarakan rokok yang kadang buat join.
"Mbak Astrid tahu jion nggak?" tanya Mas Matin. Di sekeliling kami anak-anak tertawa dengan pertanyaan yang di lontarkan Mas Matin. Aku sempat tersenyum, namun aku tidak mau ikut-ikutan membahas.
"Jion apa join?" tanya Astrid.
"Bukan join, tapi jion!" jawab Mas Matin.
"Zion apa jion Mas?" tanya Astrid.
"Pakai huruf J, jion!" jawab Mas Matin.
"Jion itu apa?" tanya Astrid dengan heran.
__ADS_1
"Kamu nggak tahu jion? Mas Matin meyakinkan pertanyaannya.
"Enggak tahu jion itu apa." jawab Astrid.
"Nah kalau nggak tahu, kamu coba tanya sama Gio, pasti dia tahu apa itu jion. Jion itu kata kerja yang di lakukan oleh dua orang. Coba kamu tanya ke Gio, pasti dia tahu."
Aku yang mendengar penjelasan Mas Matin membuatku bingung. Mau di jawab apa ini? Mau jujur atau mau bohong? Pembahasan macam apa ini?
"Gio kamu tahu apa itu jion?" tanya Astrid.
"Hahaha ahh itu jangan di bahas di sini." jawabku.
"Emang kenapa, Astrid kan pingin tahu!" kata Astrid.
"Oh Gio maunya nanti di bahas berdua aja mbak. Nanti bisa di praktekkan juga." kata Mas Matin sambil tersenyum.
"Haha itu bergabung artinya." kataku.
"Gio bohong Mbak.. Sekarang Gio udah nggak bisa di percaya. Haha Gio udah pernah jion juga lho!!" kata Mas Matin mencoba menjebakku.
"Hahaha anjay.." kataku. Di sekeliling anak-anak merasa puas karena aku di kerjain Mas Matin.
"Iya Gio, Kamu bohong?" tanya Astrid.
"Simpan pertanyaanmu pasti aku jawab. Tapi nggak sekarang." jawabku.
"Ya udah tapi kasih tahu ya?"
"Iyaaaa.."
"Tuh kan nggak ikhlas."
"Dudududu... Lalalalala.."
Suasana malam itu sedikit pecah, mengerjaiku untuk menjawab hal yang seharusnya tidak jadi pembahasan. Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya berharap ia akan lupa dengan pertanyaan itu.
Aku mengajak Astrid untuk duduk di meja paling depan. Semua orang sudah pergi, hanya tersisa aku dan Astrid di tempat itu.
"Kamu kenapa tiba-tiba tadi marah?" tanyaku.
"Aku nggak marah kok!"
"Iya tadi kamu diemin aku."
"Biasanya juga kalau kita satu shift jarang komunikasi yang berlebihan."
"Iya tahu, tapi tadi kamu cuekin aku."
"Biasanya juga aku cuekin kamu."
"Hmmm.. Biasanya kamu bilang semangat Gio, atau paling enggak kamu bikin itu, kertas yang kamu lipet-lipet berbentuk love. Terus kamu tulisin Astrid dan Gio. Kamu kasih ke aku."
"Itu kan pas kita beda shift."
"Intinya tadi kamu tadi marah sama aku. Pas aku dari luar, pas masuk bilang ada yang mirip Dita. Terus Pak Agus nambah-nambahin ada yang cantik mirip kek Dita. Habis itu kamu murung."
"Aku kalau cemburu itu diam. Kalau marah diam. Eh aku nggak cemburu kok."
"Terus kenapa tadi diam?"
__ADS_1
"Aku pikir tadi kamu yang bilang cantik."
"Bukan aku kan?"
"Aku nggak terima aja, ada cewek lain yang kamu puji."
"Tapi tadi aku nggak muji-muji."
"Dudududu..." kata andalannya ketika sudah nggak mau mendengar penjelasan apapun. Sambil ia melirik ke kanan ke kiri.
"Tuhkan nggak percaya lagi."
"Eh tadi Zion itu apa?" tanya Astrid.
Anjay, dia ingat apa yang tadi di bahas. Aku tidak sampai untuk menjelaskannya. Tapi, aku sudah janji untuk menjelaskannya.
"Maksud kamu jion?" kataku.
"Iya, jion itu apa?"
"Haduh, itu harusnya nggak perlu di bahas."
"Emang artinya apaan?"
"Oke. Jadi gini. Emmmmm..."kataku.
"Apaan sih, kamu udah pernah jion?" tanya Astrid.
"Haahh apaan?" jawabku.
"Nggak mau jawab aku ngambek lagi."
Astrid menunduk dan menutupi mukanya. Dia diam meski aku mencoba berkali-kali memanggilnya.
"Iya iya aku jelasin. Kamu madep sini dulu." kataku.
"Hmm?" Astrid tersenyum dan mengangkat wajahnya.
"Jion itu kalau di sini artinya anu.."
"Ngomong apaan sih, apa-apa di bilangnya anu-anu terus. Nggak jelas."
"Jion itu ciuman bibir! Udah ya nggak usah bahas!"
"Jadi kamu pernah?"
"Apaan sih.."
"Jujur!"
"Dulu iya!"
"Sama siapa?"
"Ahh kamu nanti marah!"
"Enggak!"
Kami terus meributkan hal yang mungkin menurutku tidak perlu di bahas juga. Mungkin karena penyebutannya cukup unik jika ia mendengarnya, dia menjadi penasaran.
__ADS_1