
Aku berjalan dari sudut pintu penghubung antara dapur menju ke kasir. Aku meraih tisu yang ada samping pintu, beberapa lembar ku tarik untuk ku usapkan ke keningku yang basah dengan keringat. Aku tidak akan pernah mengatakan jika aku lelah bekerja. Aku selalu menyimpan keluhku dalam diam. Biarkan lelah itu cukup di rasakan tanpa pernyataan.
Aku yang berdiri di pintu sambil menoleh ke kasir, ku lihat Astrid yang duduk masih menghitung laporan keuangan dengan menunduk. Aku berjalan tepat di belakangnya. Suara keramaian konsumen memecahkan suasana hening kesibukan Astrid. Ia menoleh ke belakang, namun ia mengerutkan dahinya. Aku menatapnya dengan tenang. Ia bangkit dan beranjak dari duduknya dengan membawa buku laporan itu. Ia berjalan melewatiku dan menuju ke Mas Feri.
"Gimana Astrid, ada yang minus enggak?" tanya Mas Feri.
"Enggak kok Pak...!" jawab Astrid dengan manja.
"Nggak jadi di gendong ini." tambah Mas Feri.
"Hahaha.. Di gendong ke mana Pak Fer?" tanya Astrid.
"Ke rumah, biar di amuk bojoku." jawab Mas Feri.
"Udah jam 15.46 Pak!" kata Astrid.
"Ya udah ambil presensi aja." perintah Mas Feri.
Astrid berjalan menuju mesin kasir untuk mengambil beberapa kertas presensi kami. Setelah selesai, aku berjalan dari ruang kasir menuju ke luar pintu. Aku menunggunya seperti biasa.
"Jadi ke tempat ibu?" tanya Astrid sambil berdiri di depanku.
"Jadi kan? Aku menanyakan kepastian padaya.
"Mau jam berapa?" tanya Astrid.
"Habis magrib apa habis ini?"
"Ya udah aku mandi dulu."
__ADS_1
Astrid berlalu meninggalkanku yang duduk di atas rak panjang yang biasa di duduki karyawan SC. Aku tidak pernah merasa lelah meskipun harus pergi jauh setelah kerja. Asal bersamanya, aku pikir aku baik-baik saja.
Aku segera mandi, bersiap menjemputnya. Entah apa nanti jadinya kalau Astrid bertemu ibuku. Setiap bulan memang aku selalu rutin berkunjung ke tempat ibuku bekerja. Ibuku bekerja di salah satu rumah milik seorang Dosen wanita di salah satu Universitas di jogja. Dan suaminya adalah pengadil di meja hijau. Karena rumah itu sering di tinggal, jadi ibuku di tugaskan untuk merawat rumah itu selagi mereka belum pulang kerja.
"Aahhh..." aku berbaring di kasur spon yang ada di kamar. Aku terlena dengan nyamannya kasur ini.
"Sudah jam 16.32, aku harus menjemputnya." kataku dalam hati sambil menatap jam di layar hpku.
Aku melaju menemuinya di kosan. Aku menghentikan motorku di depan kamar kosnya. Ku parkir motorku di tepian dekat vas bunga yang ada di depan kamar kos entah milik siapa. Ku pikir itu tak masalah selagi tidak mengganggu pemiliknya.
"Ceklek.." suara pintu terbuka dari kamar Astrid. Aku yang sudah berdiri belum satu menit dari motorku mulai menghampiri pintu itu.
"Ayo, udah siapkan?" tanyaku padanya.
"Udah kok, ayo." jawabnya.
"Nggak kamu kunci dulu?" tanyaku.
"Di dalam ada Resta." jawabnya.
"Oh temen kamu yang itu?" tanyaku.
"Iya yang satu kos, tadi udah pamit juga." jelasnya.
"Pamit gimana?" aku sambil menghidupkan mesin motorku, dan berlalu meninggalkan kos Astrid.
"Iya tadi sempat di tanyain sama Resta."
"Tanyain gimana?"
__ADS_1
"Katanya gini, mau pergi lagi? Aduhh siapa sih Gio Gio itu, sampai bikin kamu lupa waktu, lupa skripsi juga? Tuh tugasmu di kerjain dulu!! Hahaha.."
"Haha terus-terus?" tanyaku penasaran.
"Aku jawab, iya ibukk... Nanti aku selesaikan. Aku mau nemenin dia ke tempat ibunya dulu."
"Haha.. Iya ya, jadi sama aku terus."
"Dudududu.." jawab Astrid dengan nada pelan.
Aku pelankan laju motorku supaya kami bisa ngobrol dalam perjalanan. Ia memeluk pinggangku seperti biasa. Entah apa yang menjadi seperti ini sejak kami bertemu di Magelang itu.
"Nanti bawain ibu apa?" tanya Astrid.
"Hmm.. Biasanya aku ke sana nggak bawa apa-apa." jawabku.
"Dasar anak macam apa ini?"
"Hahaha.."
"Dih malah ketawa, bawain makanan kek."
"Mau bawain apa ya?" tanyaku.
"Kita makan dulu nanti ibu di pesenin juga."
"Ya udah iya haha.."
Kami berhenti di sebuah tenda kecil yang tidak terlalu ramai konsumen. Tenda sederhana pecel lele di jalan Kali Urang dekat PLN.
__ADS_1